Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Yogyakarta

Special Plan: Diduga Kirim Chat Tak Senonoh ke Mahasiswi, Dosen Farmasi UMY Dinonaktifkan Sementara usai Viral di Medsos

Joseph Rodriguez - beritanara.com 3 mins baca

Special Plan: Dosen Farmasi UMY Diduga Kirim Chat Tak Senonoh ke Mahasiswi Usai Viral di Medsos Special Plan menjadi sorotan publik setelah seorang dosen

Special Plan: Diduga Kirim Chat Tak Senonoh ke Mahasiswi, Dosen Farmasi UMY Dinonaktifkan Sementara usai Viral di Medsos

Special Plan: Dosen Farmasi UMY Diduga Kirim Chat Tak Senonoh ke Mahasiswi Usai Viral di Medsos

Special Plan menjadi sorotan publik setelah seorang dosen farmasi dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) diberhentikan sementara dari jabatannya. Insiden ini memicu reaksi cepat dari kampus setelah pesan-pesan yang diduga tak senonoh terungkap di media sosial. Pesan tersebut dikirimkan kepada salah satu mahasiswi dan mencakup konten yang memicu kontroversi, seperti keinginan untuk dipijat dan penggunaan emoticon cium.

Kasus Viral di Media Sosial

Pesanan yang dibagikan di Threads @silentscrm pada 29 Juni 2026 menjadi viral dalam waktu singkat. Unggahan tersebut mendapat 2.200 likes, 492 komentar, 392 kali direpost, dan 1.500 kali dibagikan ke platform lain. Beberapa netizen mengkritik tindakan dosen tersebut, sementara yang lain memahami bahwa pesan tersebut bisa dianggap sebagai bentuk komunikasi pribadi. Namun, kejadian ini memicu pertanyaan tentang kesopanan dan etika dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa.

Urgensi kasus ini menjadi semakin tinggi karena berbagai akun medsos mulai menyebarkan informasi tersebut. Pesan-pesan yang diduga tak senonoh tersebut menimbulkan reaksi beragam, dari kecaman hingga dukungan. Terdapat juga laporan bahwa sejumlah mahasiswa merasa terganggu dan mengharapkan tindakan tegas dari pihak kampus. Special Plan ini terbukti menjadi bahan pembicaraan hangat dalam masyarakat pendidikan.

Kebijakan UMY untuk Menangani Kasus Pelecehan Seksual Verbal

UMY segera merespons dengan menetapkan Special Plan yang menargetkan penyelidikan menyeluruh. Dosen farmasi dengan inisial F menjadi fokus utama selama investigasi yang dimulai pada 11 Juli 2026. Proses ini melibatkan Prodi Farmasi, FKIK, dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKT). Selain itu, UMY juga menyelidiki kemungkinan adanya kasus serupa yang belum terungkap.

Dalam wawancara dengan media, Rektor UMY Achmad Nurmandi mengatakan bahwa Special Plan ini bertujuan untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam menangani pelanggaran etika akademik. “Dosen yang bersangkutan telah dinonaktifkan sementara dari segala tugas akademik dan non-akademik hingga proses pemeriksaan selesai,” terangnya, Minggu, 12 Juli 2026. Tindakan ini diambil sebagai bentuk respons cepat dan tegas terhadap laporan yang menyebar.

Special Plan juga mencakup langkah-langkah penguatan regulasi kampus terkait interaksi antara dosen dan mahasiswa. UMY berkomitmen untuk memastikan bahwa lingkungan akademik tetap aman dan nyaman bagi semua pihak. Selain itu, pihak kampus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melaporkan kasus serupa tanpa takut dihakimi atau dibully.

Reaksi Sivitas Akademika dan Masyarakat

Peristiwa ini memicu perdebatan di kalangan sivitas akademika, terutama antara pendukung kebebasan berkomunikasi dan pelaku pelecehan seksual verbal. Beberapa mahasiswa menganggap pesan tersebut adalah bentuk intimidasi, sementara ada yang berpendapat bahwa itu hanya ekspresi pribadi. Kebijakan Special Plan diharapkan dapat menjadi acuan dalam menyeimbangkan antara kebebasan dan tanggung jawab.

UMY juga menegaskan bahwa Special Plan ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang untuk mencegah kekerasan dan pelecehan di lingkungan kampus. Rektor menyatakan bahwa mereka akan terus meningkatkan pelatihan etika akademik bagi dosen dan mahasiswa. “Kampus harus menjadi tempat pelajar yang merasa aman, terutama dalam interaksi di luar ruang kelas,” tambah Nurmandi.

Beberapa kelompok mahasiswa mengapresiasi tindakan UMY, menyebutnya sebagai langkah progresif dalam menangani kasus-kasus serupa. Namun, ada juga yang mengkritik bahwa investigasi dilakukan terlambat. Special Plan ini menjadi bukti bahwa UMY berupaya untuk memperbaiki sistemnya dan menghadapi isu sosial secara langsung.

UMY juga mengundang partisipasi aktif dari masyarakat untuk memberikan masukan terkait perbaikan kebijakan di masa depan. Dengan Special Plan, mereka ingin memastikan bahwa semua pelaku kekerasan dan pelecehan seksual verbal mendapat perlakuan adil dan tegas. Selain itu, pihak kampus berharap dapat menyelesaikan investigasi secara transparan dan mempublikasikan hasilnya kepada publik.

Special Plan ini tidak hanya berdampak pada dosen yang terlibat, tetapi juga menjadi pelajaran bagi seluruh lingkungan akademik. Dengan menangani kasus ini secara profesional, UMY berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan beretika. Proses pemeriksaan yang sedang berlangsung diharapkan memberikan kejelasan dan menjadi referensi untuk kasus serupa di masa mendatang.

Ikut berdiskusi