Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Yogyakarta

Pemkot Yogyakarta Kejar Malioboro Full Pedestrian November 2026 – Penataan Sirip Terus Dikebut

Michael Johnson - beritanara.com 3 mins baca

Pemkot Yogyakarta Targetkan Malioboro Full Pedestrian November 2026 Penataan Kawasan Wisata Dipercepat Pemkot Yogyakarta Kejar Malioboro Full Pedestrian

Pemkot Yogyakarta Kejar Malioboro Full Pedestrian November 2026 – Penataan Sirip Terus Dikebut

Pemkot Yogyakarta Targetkan Malioboro Full Pedestrian November 2026

Penataan Kawasan Wisata Dipercepat

Pemkot Yogyakarta Kejar Malioboro Full Pedestrian – Pemkot Yogyakarta secara serius mengejar target mewujudkan Malioboro sebagai kawasan bebas kendaraan bermotor (full pedestrian) pada November 2026. Tujuan ini menjadi fokus utama dalam rencana penataan kawasan Sirip, yang dianggap sebagai bagian kritis dari upaya mengubah Malioboro menjadi zona kaki jalan. Proses penataan sedang dilakukan secara intensif, dengan harapan dapat mencapai keselarasan antara kebutuhan warga, pengunjung, dan pengembangan pariwisata.

Kepala daerah Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa perbaikan Sirip dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kebutuhan tiap ruas jalan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan masyarakat untuk memastikan transisi ke full pedestrian berjalan mulus. “Setiap ruas jalan harus dianalisis secara mandiri, karena kebutuhan masyarakat dan pengunjung berbeda,” katanya, Jumat (17/7/2026).

“Malioboro full pedestrian November 2026 akan tercapai jika penataan Sirip berjalan efektif. Dengan mendukung akses yang tepat, kami yakin kawasan ini bisa menjadi destinasi utama yang lebih ramah lingkungan dan nyaman untuk pengunjung,” tambah Hasto.

Penyelarasan Akses dan Infrastruktur

Proyek penataan Sirip melibatkan perencanaan ulang akses jalan sepanjang area Malioboro, dengan mengutamakan kebutuhan pengguna jalan kaki. Beberapa ruas jalan akan ditutup sepenuhnya untuk kendaraan bermotor, sementara yang lain dibuka dengan pembatasan akses. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan kenyamanan pengunjung, sekaligus mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan.

Sebagai bagian dari penataan, Pemkot Yogyakarta juga sedang memasang portal di sekitar tiap ruas Sirip untuk mengontrol aliran kendaraan. Selain itu, fasilitas seperti titik putar balik, kantong parkir, dan jalur khusus untuk kendaraan listrik disiapkan untuk memastikan transisi berjalan lancar. “Kita perlu pastikan setiap elemen infrastruktur didesain sesuai dengan kebutuhan pengguna,” terang Hasto.

“Kawasan Sirip akan menjadi titik penentu keberhasilan Malioboro full pedestrian. Jika ini dikelola dengan baik, maka kota ini bisa menjadi contoh nasional dalam pengembangan kawasan kaki jalan,” tambahnya.

Peran Pariwisata dan Transportasi Ramah Lingkungan

Dalam rangka mendukung konsep full pedestrian, Pemkot Yogyakarta juga fokus pada penyediaan alat transportasi alternatif. Sebagai langkah awal, pemerintah memberikan 80 becak listrik dari Kementerian Keuangan, yang saat ini beroperasi di beberapa titik di Malioboro. Total jumlah becak listrik yang diperlukan mencapai 320 unit, dengan harapan dapat menambah 300 hingga 400 unit lebih dari anggaran APBD 2027.

Becak listrik ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor, sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung. “Dengan 80 becak ini, kami bisa mengoptimalkan penggunaan transportasi ramah lingkungan, tapi masih kurang untuk mencapai target 320 unit,” ujar Hasto. Proyek ini diharapkan mendorong pengurangan emisi karbon dan mengubah Malioboro menjadi lebih hijau.

Penyesuaian dengan Kebutuhan Masyarakat

Penataan Sirip tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial terhadap warga sekitar. Hasto menegaskan bahwa pengunjung dan penduduk lokal harus tetap diberikan akses yang fleksibel. Misalnya, beberapa ruas jalan akan ditutup sementara, sedangkan yang lain dibuka dengan penyesuaian waktu. “Kita harus seimbangkan antara tata kota dan kenyamanan warga,” jelasnya.

Sebagai bagian dari penyesuaian ini, Pemkot juga terus memantau respons masyarakat. Tidak hanya memperbaiki infrastruktur fisik, pihaknya juga berupaya memperkuat kesadaran publik tentang manfaat penggunaan jalan kaki. “Kami berharap proyek ini tidak hanya menyelesaikan masalah lalu lintas, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup warga sekitar,” katanya.

“Malioboro full pedestrian akan memberi dampak besar pada ekonomi kota, karena pengunjung akan lebih nyaman berjalan dan berbelanja. Kami yakin ini akan menjadi bagian dari pengembangan pariwisata yang berkelanjutan,” ujar Hasto.

Persiapan dan Tantangan Pemkot Yogyakarta

Persiapan menuju Malioboro full pedestrian membutuhkan koordinasi yang ketat antarinstansi. Pemkot Yogyakarta telah mengajukan kerja sama dengan beberapa BUMN untuk mendapatkan dana tambahan, sementara alokasi anggaran dari APBD 2027 digunakan untuk pembelian becak listrik dan pemasangan infrastruktur. “Kita butuh dana signifikan untuk mengakomodasi kebutuhan infrastruktur dan transportasi,” tambah Hasto.

Tantangan utama dalam proyek ini adalah memastikan semua pihak terlibat dan bersinergi. Pemkot juga perlu mengatasi hambatan teknis, seperti penyesuaian jalur sementara dan pemeliharaan infrastruktur. Meski demikian, Hasto yakin bahwa proyek ini akan mencapai hasil yang maksimal jika dikelola dengan hati-hati. “Pemkot Yogyakarta akan terus berusaha meningkatkan kualitas kawasan ini, sekaligus menjaga keseimbangan antara tata kota dan ekonomi,” pungkasnya.

Ikut berdiskusi