BPDP dan Ditjenbun Kementan Tunjuk Lembaga Pelatihan Yogyakarta untuk Tingkatkan Kompetensi Pekebun di Indonesia
Kesenjangan produktivitas masih menjadi tantangan utama yang perlu diatasi dalam sektor perkebunan Indonesia. Pekebun swadaya mengelola sekitar 40 persen
LPP Agro Nusantara Dipercaya Perkuat Kompetensi Pekebun Nasional
Beritanara.com – Kesenjangan produktivitas masih menjadi tantangan utama yang perlu diatasi dalam sektor perkebunan Indonesia. Pekebun swadaya mengelola sekitar 40 persen lahan sawit di 26 provinsi, namun kontribusi mereka terhadap produksi CPO hanya mencapai 30 hingga 35 persen. Kondisi ini mendorong Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang perkebunan.
Sebagai langkah konkret, kedua lembaga tersebut telah menunjuk LPP Agro Nusantara, sebuah lembaga pelatihan yang berpusat di Yogyakarta, untuk menyelenggarakan program pelatihan bagi pekebun dari berbagai wilayah di Nusantara.
Target Ambisius untuk Tahun 2026
Dalam kurun waktu satu tahun ke depan, LPP Agro Nusantara menargetkan penyelenggaraan 100 kelas pelatihan yang akan diikuti oleh 3.035 peserta. Program ini akan tersebar di tujuh provinsi, meliputi Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, tercatat sebanyak 68 kelas dengan 2.066 peserta.
Kegiatan pelatihan terbaru telah dilaksanakan di Sumatera Utara. Acara bertajuk “Pelatihan Budidaya Sawit” ini berlangsung selama enam hari, mulai 14 hingga 19 Juli 2026, di Le Polonia Hotel & Convention, Medan. Sebanyak 87 pekebun dari wilayah Asahan dan Batubara turut serta dalam sesi tersebut.
Pemerataan Keterampilan sebagai Kunci
Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, menekankan pentingnya pemerataan keterampilan di kalangan pekebun. Menurutnya, peningkatan kompetensi harus dilakukan secara merata agar kesenjangan produktivitas dapat diminimalisir.
“Kesenjangan produktivitas masih jadi PR. Pekebun swadaya kelola 40% lahan sawit di 26 provinsi, tapi kontribusi CPO baru 30-35%. Karena itu pemerataan keterampilan jadi kunci,” jelas Pranoto Hadi Raharjo, Direktur LPP Agro Nusantara.
Materi yang disampaikan dalam pelatihan dirancang untuk mencetak pekebun yang memahami prinsip budidaya secara baik dan berkelanjutan. Selain aspek teknis, pelatihan juga menyasar kesiapan data lahan yang diperlukan untuk mengakses Program Sertifikasi Rakyat (PSR), pembiayaan, serta proses sertifikasi. (Scp/Ard)
