Rancangan Pembatasan Kadar Nikotin dan Tar Disebut Rugikan Petani Tembakau, Ini Penjelasan Kementan
Wacana kebijakan yang mengatur batas kadar nikotin serta tar dalam produk tembakau terus menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kementerian Pertanian
Kementan Ungkap Alasan di Balik Dukungan Terhadap Wacana Pembatasan Nikotin dan Tar
Beritanara.com – Wacana kebijakan yang mengatur batas kadar nikotin serta tar dalam produk tembakau terus menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat adanya gelombang penolakan yang signifikan dari kalangan petani tembakau terkait rencana tersebut.
Yudi Wahyudi, yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Tanaman Semusim di Direktorat Tanaman Semusim Kementan, menyampaikan bahwa setiap wacana kebijakan harus mempertimbangkan konsekuensi bagi para petani. Ia menyoroti bahwa pihak yang bertanggung jawab atas varietas komoditas strategis ini belum dilibatkan secara maksimal dalam proses pembahasan.
Aspek Hukum dan Peran Kementan
Kementerian Pertanian tidak dilibatkan secara meyeluruh dalam pembahasan ini karena rancangan aturan ini berlandaskan pada mandat undang-undang Kesehatan (aspek hilir/konsumsi) bukan pada undang-undang pertanian (aspek hulu/produksi). Walaupun demikian Kementerian Pertanian tetap memberikan dukungan berupa data-data terkait komoditas tembakau yang diperlukan.
Ungkapan tersebut disampaikan Yudi kepada awak media di Jakarta pada Senin, 27 Juli 2026.
Proses Penelitian yang Membutuhkan Waktu Panjang
Dari perspektif hulu produksi, diperlukan kurun waktu sekitar tiga dekade agar para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementan mampu mengembangkan varietas tembakau rendah nikotin. Varietas ini harus mampu bertahan di lahan tropis serta tetap ekonomis bagi petani tradisional.
Yudi memperingatkan bahwa tanpa masa transisi yang memadai, industri dalam negeri berisiko mengalami keruntuhan sebelum benih ideal berhasil diteliti. Penurunan kadar nikotin melalui metode persilangan tradisional atau non-GMO memerlukan seleksi genetik yang sangat intensif. Setiap generasi tanaman memerlukan satu musim tanam penuh untuk berkembang.
Untuk menstabilkan sifat rendah nikotin tanpa mengurangi ketahanan tanaman terhadap hama lokal, dibutuhkan puluhan generasi persilangan. Selain itu, kadar nikotin tembakau lokal Indonesia, seperti Kemloko di Temanggung atau Mole di Jawa Barat, berkisar antara 3 persen hingga 8 persen. Angka ini dipengaruhi oleh faktor tanah vulkanik dan paparan sinar matahari tropis.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Menurut Yudi, mengubah kadar nikotin secara drastis setara dengan mengubah identitas geografis komoditas tersebut. Perubahan ini pada akhirnya membutuhkan waktu adaptasi alamiah lintas generasi petani.
Dari segi ekonomi, jika pembatasan ini memaksa pengurangan lahan tembakau, negara memerlukan waktu setidaknya satu generasi atau sekitar 25 hingga 30 tahun. Selama periode tersebut, pemerintah perlu mengedukasi dan mengalihkan jutaan petani ke komoditas substitusi yang memiliki nilai ekonomi setara.
