Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Nasional

Menteri ESDM Bahlil Klaim Devisa Ekspor Batu Bara Tembus Rp268 Triliun

Robert Williams - beritanara.com 2 mins baca

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai kinerja ekspor batu

Menteri ESDM Bahlil Klaim Devisa Ekspor Batu Bara Tembus Rp268 Triliun

Bahlil Ungkap Devisa Batu Bara Capai Rp268 Triliun, PNBP Minerba Hilirisasi Tembus 60 Persen

Beritanara.com – Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai kinerja ekspor batu bara. Ia menyatakan bahwa devisa hasil ekspor komoditas tersebut telah menyentuh angka US$14 hingga 15 miliar. Nilai ini setara dengan Rp250 triliun sampai Rp268 triliun. Pencapaian ini diraih di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih melanda.

Bahlil menjelaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang berhasil menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan batu bara. Kondisi tersebut membuat harga komoditas tetap stabil di pasar internasional. Selain itu, sektor minerba juga memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara.

“Sudah mulai ada tanda-tanda yang membaik dengan melihat PNBP kita naik. Devisa dari hasil penjualan yang hampir mencapai US$14 miliar pun semakin membaik,” ujar Bahlil.

Menurut data yang disampaikan, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor hilirisasi minerba telah mencapai sekitar 60 persen dari target yang ditetapkan pemerintah. Capaian ini memperkuat posisi sektor pertambangan sebagai salah satu penyumbang utama penerimaan negara sekaligus sumber devisa di tengah perlambatan ekonomi global.

Bank Indonesia: Cadangan Devisa Meningkat, Dipastikan Aman

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 mengalami peningkatan menjadi US$145,6 miliar. Angka ini naik dari US$144,9 miliar yang tercatat pada akhir Mei 2026. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kenaikan cadangan devisa ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Perkembangan posisi cadangan devisa Juni 2026 tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah oleh Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” ujar Ramdan.

Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa tersebut tetap berada pada level yang aman karena setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Ramdan menambahkan bahwa cadangan devisa mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ikut berdiskusi