Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Nasional

IRGC Ungkap Jalur Selatan Selat Hormuz Sudah Dipasangi Ranjau

Joseph Rodriguez - beritanara.com 2 mins baca

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) baru-baru ini mengungkap perkembangan penting terkait keamanan maritim di wilayah strategis. Hossein Mohebbi, sebagai juru

IRGC Ungkap Jalur Selatan Selat Hormuz Sudah Dipasangi Ranjau

IRGC Ungkap Jalur Selatan Selat Hormuz Dipasangi Ranjau Laut

Beritanara.com – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) baru-baru ini mengungkap perkembangan penting terkait keamanan maritim di wilayah strategis. Hossein Mohebbi, sebagai juru bicara resmi IRGC, menyampaikan pengumuman krusial pada hari Rabu, 22 Juli 2025. Ia menegaskan bahwa jalur perairan di selatan Selat Hormuz kini telah dilengkapi dengan ranjau-ranjau laut yang berfungsi sebagai sistem pertahanan. Langkah strategis ini menjadi respons langsung terhadap ketegangan regional yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.

Sebelum pernyataan resmi dari Mohebbi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan minimal satu jembatan atau pembangkit listrik di wilayah Iran, termasuk kawasan Teheran, setiap kali Republik Islam melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. Ancaman ini menunjukkan tingkat eskalasi yang signifikan dalam hubungan kedua negara.

Peringatan Keras untuk Investor Internasional

“Jalur selatan Selat Hormuz yang telah dipasangi ranjau akan menghancurkan investasi Anda. Jangan terjebak oleh tipu daya Amerika Serikat,” kata Mohebbi, mengutip Antara pada Kamis.

Ungkapan ini memberikan sinyal jelas kepada komunitas internasional tentang potensi risiko ekonomi yang mengancam jika ketegangan terus berlanjut. Investor global perlu mempertimbangkan ulang posisi mereka di kawasan tersebut.

Ahmad Bakhshayesh Ardestani, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, memberikan analisis yang berbeda dari perspektif diplomatik. Ia berpendapat bahwa upaya Washington untuk mengalihkan lalu lintas maritim melalui jalur selatan atau Oman justru memicu eskalasi lebih lanjut. Teheran menginginkan kapal-kapal internasional tetap menggunakan rute yang melewati perairan Iran sebagai bentuk pengakuan terhadap kedaulatan nasional.

Komando Pusat Khatam al-Anbiya Iran juga mengeluarkan pernyataan resmi yang memperkuat posisi mereka. Mereka menegaskan bahwa jalur perairan Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup untuk pelayaran komersial. Apabila keputusan untuk membuka kembali jalur ini diambil, seluruh kapal wajib mengikuti rute yang telah ditetapkan oleh otoritas Iran. Ketentuan ini bertujuan untuk memastikan keamanan dan kontrol penuh atas lalu lintas maritim.

Pada malam menuju tanggal 18 Juni, kedua negara telah menandatangani memorandum bersama yang mengatur penghentian konflik yang bermula sejak 28 Februari. Dokumen tersebut merupakan upaya diplomasi untuk menstabilkan situasi. Namun, situasi berubah drastis sejak 8 Juli ketika pasukan Amerika Serikat memulai serangkaian serangan terhadap Iran, mengubah dinamika hubungan bilateral secara fundamental.

Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut merupakan balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Menanggapi perkembangan ini, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran tidak lagi berlaku, membuka babak baru dalam ketegangan regional.

Ikut berdiskusi