Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Visit Agenda: Sebelumnya Banjarnegara, Kini NTB Umumkan 2 Wilayah Siaga Darurat Kekeringan

Susan Moore - beritanara.com 3 mins baca

ilayah dalam Status Siaga Darurat Kekeringan Visit Agenda – tvOnenews.com dari Jakarta melaporkan bahwa kekeringan berdampak signifikan pada kehidupan

Visit Agenda: Sebelumnya Banjarnegara, Kini NTB Umumkan 2 Wilayah Siaga Darurat Kekeringan

NTB Umumkan Dua Wilayah dalam Status Siaga Darurat Kekeringan

Visit Agenda – tvOnenews.com dari Jakarta melaporkan bahwa kekeringan berdampak signifikan pada kehidupan masyarakat, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam rangka menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem, NTB kini mengumumkan status siaga darurat untuk dua wilayah, menambah daftar daerah yang terdampak krisis air.

Musim Kemarau Dipicu oleh Fenomena El Niño

Musim kemarau tahun ini dianggap lebih cepat dan berkepanjangan, terutama karena pengaruh El Niño yang memengaruhi pola cuaca global. Fenomena ini menyebabkan pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik, yang berdampak pada distribusi hujan di berbagai wilayah, termasuk NTB. Visit Agenda mencatat bahwa kekeringan saat ini memicu peringatan darurat, mengingat ketersediaan air yang semakin terbatas.

“Kondisi kekeringan memperparah masalah air di NTB, sehingga pemerintah daerah terpaksa menetapkan status siaga darurat. Sumber: antara”

Wilayah Terdampak dan Langkah Pemerintah

NTB mengumumkan status siaga darurat kekeringan untuk dua kabupaten, yakni Lombok Barat dan Lombok Tengah. Status ini ditetapkan melalui laman BPBD NTB, yang menunjukkan kondisi kritis di beberapa daerah. Visit Agenda juga mencatat bahwa sebelumnya Banjarnegara mengalami situasi serupa, menambah kekhawatiran terhadap krisis air di Indonesia.

Daerah yang terkena status siaga darurat mencakup Kecamatan Sekotong dan Jonggat di Lombok Barat serta Lombok Tengah. Selain itu, Lombok Timur, Dompu, dan Bima juga dalam kondisi kritis. Visit Agenda menyebutkan bahwa kekeringan ini memengaruhi sektor pertanian, perikanan, serta kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Kondisi Cuaca dan Efek pada Ekosistem

Curah hujan pada dasarian II Juni 2026 secara umum berada di bawah normal, menyebabkan kekeringan yang terus memburuk. Visit Agenda mengungkapkan bahwa kenaikan suhu dan penurunan kelembapan udara menjadi faktor utama yang mempercepat dampak kekeringan. Wilayah seperti Lombok Tengah dan Sumbawa Barat mengalami hujan yang sangat minim, sehingga muncul ancaman terhadap pertanian dan sumber daya air.

Sebagai respons, pemerintah setempat mengambil langkah-langkah pencegahan, termasuk penggunaan air tanah secara terencana dan mempercepat distribusi air bersih ke daerah terdampak. Visit Agenda melaporkan bahwa BPBD NTB telah bekerja sama dengan instansi terkait untuk menjamin ketersediaan air bagi masyarakat yang terkena dampak kekeringan.

Kerugian dan Kebutuhan Pengelolaan Air

Kekeringan berdampak langsung pada hasil pertanian, seperti tanaman pangan dan hortikultura, yang menjadi sumber penghidupan masyarakat NTB. Visit Agenda menyoroti bahwa banyak petani mengalami kesulitan mengairi lahan pertanian, memicu ancaman gagal panen. Selain itu, krisis air juga memengaruhi ketersediaan air minum dan sanitasi, yang membutuhkan penanganan darurat.

Dampak sosial dan ekonomi kekeringan mulai terasa, terutama di daerah pedesaan. Visit Agenda mencatat bahwa masyarakat lokal memperkuat upaya penghematan air, sementara pemerintah daerah fokus pada penguatan infrastruktur irigasi dan peningkatan pengelolaan sumber daya air. Perluasan status siaga darurat kekeringan juga memberi peringatan untuk mengantisipasi potensi perluasan dampak di masa depan.

Kemungkinan Perluasan Wilayah Terdampak

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa kekeringan akan berlangsung lebih lama, dengan potensi perluasan wilayah yang terkena. Visit Agenda mengatakan bahwa pemerintah NTB sedang mengawasi kondisi cuaca dan mempersiapkan rencana tanggap darurat jika kekeringan terus berlanjut. Daerah lain seperti Sumbawa dan Kota Bima juga memasuki status siaga waspada, menunjukkan kekhawatiran akan dampak lebih besar.

Dengan Visit Agenda menjadi penanda utama dalam laporan ini, penting untuk terus memantau perkembangan kekeringan dan memperkuat langkah-langkah mitigasi. Dampak kekeringan bukan hanya terbatas pada sektor pertanian, tetapi juga merambah ke sektor kesehatan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat, yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.

Ikut berdiskusi