Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Topics Covered: Hadiri IISAR 2026, Basarnas Perkuat Jaringan Internasional untuk Hadapi Ancaman Bencana

Susan Moore - beritanara.com 3 mins baca

SAR Internasional di IISAR 2026 Topics Covered: Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus memperkuat perannya

Topics Covered: Hadiri IISAR 2026, Basarnas Perkuat Jaringan Internasional untuk Hadapi Ancaman Bencana

Basarnas Perkuat Jaringan SAR Internasional di IISAR 2026

Topics Covered: Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus memperkuat perannya sebagai pusat kerja sama global di bidang SAR. Kegiatan tahunan Indonesia International Search and Rescue (IISAR) 2026 menjadi ajang penting untuk memperkenalkan inovasi teknologi penyelamatan terkini, sekaligus membahas tantangan operasi di tengah perubahan iklim. Dengan memperhatikan kenaikan frekuensi bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah, Basarnas bertujuan menguatkan jaringan internasional untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks.

Indonesia: Negara Rentan Bencana yang Butuh Kerja Sama Global

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa IISAR 2026 menjadi kesempatan strategis untuk menguatkan kapasitas SAR. Ia menyatakan bahwa kondisi iklim yang tidak menentu telah meningkatkan risiko bencana, terutama karena Indonesia berada di daerah rawan seismik dan vulkanik. “Ancaman bencana terus meningkat, dan Indonesia sebagai negara kepulauan harus siap menghadapinya dengan sistem yang terintegrasi dan kolaboratif,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (10/7/2026).

Kebutuhan untuk memperkuat jaringan SAR internasional tidak hanya terkait dengan teknologi, tetapi juga kemampuan SDM. Pratikno menekankan bahwa peningkatan kepekaan empati petugas penyelamat dan kecepatan respons menjadi faktor utama dalam mengurangi korban dan kerugian akibat bencana. “Dengan teknologi modern dan kompetensi manusia, kita bisa mengoptimalkan operasi SAR di berbagai kondisi,” tambahnya.

Pelaksanaan IISAR 2026: Mengimplementasikan UU SAR

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, mengatakan bahwa IISAR 2026 menjadi penyelenggaraan pertama yang mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang SAR. Acara ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan inovasi, tetapi juga memperkuat komunikasi antar institusi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mitigasi bencana. “Topics Covered dalam acara ini mencakup berbagai aspek seperti teknologi pendeteksi bencana, pelatihan penyelamatan massal, dan pembangunan sistem SAR berbasis digital,” jelasnya.

Selain itu, IISAR 2026 juga menawarkan platform untuk berbagi pengalaman antar negara. Misalnya, negara-negara di Asia Tenggara dan kawasan Pasifik, yang memiliki pengalaman serupa dalam menghadapi bencana seperti gempa bumi dan tsunami, akan mempresentasikan strategi mereka. “Kerja sama lintas negara akan mempercepat adaptasi terhadap perubahan iklim dan meningkatkan efisiensi operasi SAR,” kata Syafii. Ia menambahkan bahwa Basarnas berkomitmen untuk membangun hubungan bilateral dengan organisasi internasional seperti United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) dan organisasi SAR dari negara-negara tetangga.

“IISAR 2026 menjadi bukti bahwa teknologi dan humaniora harus saling melengkapi. Dengan peningkatan jaringan SAR internasional, kita bisa merespons bencana lebih cepat dan lebih efektif,” ujarnya dalam wawancara eksklusif. Acara ini juga melibatkan penyelenggaraan simulasi penyelamatan di lokasi yang rentan bencana, seperti Gunung Krakatau dan kawasan pesisir timur Indonesia. Simulasi tersebut diharapkan mampu mengevaluasi kelemahan sistem SAR dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.

Melalui IISAR 2026, Basarnas juga berupaya membangun hubungan kerja sama dengan lembaga internasional seperti International Search and Rescue Advisory Group (ISARAG) dan organisasi penelitian teknologi canggih dari Eropa. Syafii menyebut bahwa kolaborasi ini akan mempercepat penerapan sistem SAR berbasis AI dan drone untuk mempercepat pendeteksian korban di area yang sulit diakses. “Topics Covered dalam IISAR 2026 mencakup tidak hanya teknologi, tetapi juga pembelajaran dari kasus bencana terdahulu,” tambahnya. Hal ini memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya sekadar pameran, tetapi juga pembelajaran nyata untuk memperbaiki operasional SAR.

Dalam upacara pembukaan, Menteri Pratikno juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam mencegah dan mengurangi dampak bencana. “Bencana tidak hanya menguji kesiapan pemerintah, tetapi juga kepedulian warga negara. Dengan pendekatan holistik, kita bisa menciptakan sistem SAR yang lebih tangguh,” katanya. Ia menambahkan bahwa pelatihan masyarakat dan komunitas lokal akan menjadi bagian integral dari strategi Basarnas ke depan. “Topics Covered dalam IISAR 2026 mencakup pelatihan untuk semua tingkatan, mulai dari institusi pemerintah hingga masyarakat sipil.”

Menurut Syafii, keberhasilan IISAR 2026 akan menjadi dasar untuk penyelenggaraan acara serupa di tahun berikutnya. “Kita perlu membangun kebiasaan kerja sama internasional karena bencana tidak mengenal batas negara,” ujarnya. Acara ini juga diharapkan bisa meningkatkan visibilitas Basarnas di tingkat global, terutama dalam mendukung negara-negara yang memiliki kebutuhan SAR serupa. “Dengan jaringan yang lebih kuat, kita bisa membantu negara lain sekaligus meningkatkan kapasitas diri sendiri.”

Ikut berdiskusi