New Policy: Momen Penting, BKKBN Ajak Para Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah
ak Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah New Policy - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan new policy baru dalam upaya
New Policy: BKKBN Ajak Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah
New Policy – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan new policy baru dalam upaya meningkatkan peran ayah dalam pendidikan anak. Inisiatif ini, yang dikenal sebagai Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), menekankan pentingnya partisipasi aktif orang tua khususnya ayah dalam membantu anak-anak menghadapi momen kritis di awal masa sekolah. New policy ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih harmonis dan memperkuat hubungan antara orang tua dan anak sejak dini.
Warisan Peran Ayah dalam Pendidikan Anak
Peluncuran new policy ini terjadi di tengah peningkatan kesadaran akan peran laki-laki dalam pengasuhan anak. Sebagai bagian dari kampanye nasional, BKKBN mengajak para ayah untuk tidak hanya menonton dari jauh tetapi juga aktif turut serta dalam membimbing anak-anak ke sekolah. Hal ini dirasa penting karena kehadiran ayah di hari pertama sekolah dapat meningkatkan kepercayaan diri anak dan mengurangi rasa cemas mereka terhadap lingkungan baru.
“Kehadiran ayah di hari pertama sekolah bukan hanya sekadar simbolis, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan dan menguatkan ikatan emosional antara anak dan orang tua,” terang Arios Saplis, Kepala Perwakilan BKKBN Sumatera Selatan, Minggu (12/7/2026).
Menurut Arios, new policy ini juga bertujuan untuk mengubah paradigma bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab ibu semata. “Dengan new policy ini, kami ingin menunjukkan bahwa ayah memiliki peran sentral dalam proses pendidikan dan pengasuhan,” tambahnya. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan generasi yang lebih mandiri dan berkepribadian kuat.
Struktur dan Implementasi New Policy BKKBN
Kampanye new policy BKKBN dilaksanakan melalui berbagai bentuk edukasi dan promosi. BKKBN membagikan video pendek yang menampilkan ayah berperan aktif dalam mengantar anak ke sekolah, serta mengadakan sosialisasi melalui media sosial dan acara komunitas. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk menyediakan panduan terkait cara memfasilitasi partisipasi ayah dalam proses awal belajar.
“New policy ini tidak hanya memperkuat hubungan orang tua dan anak, tetapi juga membantu menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kehadiran ayah dalam lingkungan pendidikan,” jelas Arios. Pihaknya menekankan bahwa tindakan sederhana seperti mengantar anak ke sekolah dapat menjadi awal dari perubahan besar dalam keterlibatan ayah di dunia pendidikan.
Program new policy BKKBN juga menyasar lembaga-lembaga terkait seperti keluarga, sekolah, dan komunitas. “Kami berharap kolaborasi dari berbagai pihak dapat memperkuat dampak new policy ini dan membuatnya lebih efektif,” tambah Arios. Selain itu, BKKBN memberikan contoh nyata melalui video yang menunjukkan bagaimana kehadiran ayah dapat membawa dampak positif dalam proses belajar anak.
Dalam konteks new policy, BKKBN juga menyoroti pentingnya kesadaran akan peran ayah dalam pengasuhan sejak usia dini. Mereka menekankan bahwa kehadiran ayah di hari pertama sekolah adalah salah satu langkah konkret untuk memperkuat peran mereka sebagai pengasuh utama. “Dengan new policy ini, kami ingin memastikan bahwa ayah tidak hanya terlibat dalam kehidupan sehari-hari anak, tetapi juga di dunia pendidikan,” pungkas Arios.
Kampanye new policy BKKBN juga dirancang untuk menjangkau berbagai wilayah dan kelompok masyarakat. Sebagai contoh, mereka menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi lokal, termasuk memperhatikan budaya dan norma setempat. Hal ini dilakukan agar new policy dapat diterima dan diterapkan secara efektif oleh semua kalangan. Dengan cara ini, BKKBN berharap untuk menciptakan kebiasaan partisipasi ayah yang berkelanjutan.
Peran ayah dalam pendidikan anak terus mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk para ahli psikologi pendidikan dan pendidik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 50% ayah di Indonesia mengambil peran dalam mendampingi anak-anak selama proses belajar. Namun, BKKBN menilai masih ada ruang untuk meningkatkan keterlibatan ayah melalui new policy ini. Dengan harapan, new policy BKKBN akan menjadi pemicu untuk mengubah pola kebiasaan yang selama ini dominan diakui oleh ibu.
