Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Latest Program: IHSG Dibuka Menguat meski Inflasi Juni Melonjak, Bursa Asia Variatif & Wall Street Anjlok

Charles Williams - beritanara.com 3 mins baca

ak, Pasar Asia Variatif & Wall Street Anjlok Latest Program - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan kenaikan 14 poin atau 0,26 persen pada hari

Latest Program: IHSG Dibuka Menguat meski Inflasi Juni Melonjak, Bursa Asia Variatif & Wall Street Anjlok

Latest Program: IHSG Menguat Meski Inflasi Juni Melonjak, Pasar Asia Variatif & Wall Street Anjlok

Latest Program – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan kenaikan 14 poin atau 0,26 persen pada hari ini, Kamis, 2 Juli 2026, mencapai level 5.709. Meski inflasi Juni 2026 mencapai 0,44 persen bulan ke bulan (mtm), yang meningkat dari 0,28 persen mtm di bulan sebelumnya, IHSG tetap menguat. Penguatan ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih stabil di tengah tekanan faktor eksternal seperti pelemahan Yen Jepang dan perubahan kebijakan moneter global. Dalam konteks ini, Latest Program menjadi penting untuk memahami dinamika pasar yang terus berubah.

Kondisi Pasar Saham Global

Pergerakan IHSG hari ini tidak terlepas dari situasi pasar global yang fluktuatif. Di Wall Street, indeks saham Amerika turun secara serentak akibat profit taking di sektor semikonduktor dan kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi yang melambat. Dow Jones Industrial Average mengalami pelemahan 0,03 persen, S&P 500 turun 0,22 persen, dan Nasdaq Composite anjlok 0,66 persen. Fenomena ini memberikan dampak terhadap sentiment investor di kawasan Asia, termasuk Indonesia, yang terlihat dalam respons pasar terhadap data inflasi dan neraca dagang domestik.

“Pasar global yang sedang konsolidasi memengaruhi IHSG, tetapi kenaikan hari ini mencerminkan ketahanan sektor lokal terhadap tekanan eksternal,” jelas Fanny Suherman, analis riset ritel, dalam Latest Program hari ini.

Analisis Inflasi dan Neraca Dagang

Inflasi Juni 2026 mencapai 0,44 persen mtm, naik dari 0,28 persen mtm di bulan Mei, menunjukkan tekanan inflasi yang mulai meningkat. Namun, inflasi tahunan (yoy) mencatat 3,34 persen, yang lebih baik dibandingkan angka 3,08 persen pada Mei 2026. Fanny menyoroti bahwa inflasi year-to-date (ytd) juga naik ke 1,79 persen, memperlihatkan kecenderungan kenaikan harga di sektor domestik. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, berbanding dengan surplus US$89,1 juta di bulan April. Defisit ini menjadi perhatian utama bagi investor dalam Latest Program, karena berpotensi memengaruhi neraca keuangan negara.

Kinerja Pasar Asia-Pasifik

Pasar Asia-Pasifik tampil beragam pada Rabu, 1 Juli 2026, dipengaruhi oleh pelemahan Yen Jepang yang mencapai level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS. Hal ini memberikan dampak pada keputusan investasi, terutama terhadap sektor manufaktur dan ekspor. Selain itu, investor juga memantau kebijakan moneter Federal Reserve dan data ekonomi lainnya, seperti angka GDP dan ketersediaan tenaga kerja. Dalam Latest Program, analisis terhadap pergerakan pasar Asia berfokus pada keseimbangan antara tekanan inflasi dan peluang pertumbuhan ekonomi.

“Kenaikan IHSG hari ini mencerminkan ketahanan pasar terhadap perubahan kebijakan, meski tren global tetap mengarah pada konsolidasi,” tegas Fanny dalam sesi diskusi Latest Program.

Faktor Penentu dan Proyeksi

Penguatan IHSG tidak terlepas dari kebijakan stimulus pemerintah dan penyesuaian ekspektasi investor terhadap kinerja sektor riil. Fanny menjelaskan bahwa support IHSG terletak di level 5.500-5.625, sementara resisten berada di rentang 5.730-5.800. Proyeksi ini menunjukkan bahwa indeks bisa mengalami koreksi dalam jangka pendek, tetapi tetap memiliki potensi untuk kenaikan jika faktor pendorong eksternal tetap stabil. Dalam Latest Program, analis menekankan pentingnya memantau inflasi dan neraca dagang sebagai indikator kunci untuk mengantisipasi perubahan arah pasar.

Impact of Global Events on Local Markets

Kondisi pasar global juga menimbulkan dampak signifikan terhadap indeks lokal. Pelemahan Yen Jepang, yang mencapai level terendah dalam 40 tahun, menciptakan tekanan pada ekspor dan inflasi. Di sisi lain, keputusan suku bunga The Fed dan data ekonomi lainnya menjadi perhatian utama investor, terutama dalam Latest Program yang menyoroti keterkaitan antara pasar global dan lokal. Selain itu, kenaikan harga komoditas global, seperti minyak dan logam, juga berpotensi memengaruhi inflasi dan kebijakan moneter Indonesia.

Di pasar Asia, Nikkei 225 Jepang menguat 0,59 persen, sedangkan Topix naik 0,42 persen. Di Korea Selatan, Kospi turun 2,04 persen, namun Kosdaq justru menguat 1,44 persen. Di Australia, ASX 200 terkoreksi 0,64 persen, sementara Taiex Taiwan mengalami kenaikan 1,94 persen. Hang Seng Hong Kong ditutup karena libur hari pendirian SAR Hong Kong. Dinamika ini menjadi bahan analisis dalam Latest Program untuk memprediksi kinerja pasar di kawasan Asia.

“Latest Program menyoroti bahwa IHSG tetap resilien meski pasar global sedang volatil, terutama karena kenaikan inflasi dan defisit neraca dagang yang terus berlangsung,” ujar Fanny dalam sesi analisis terkini.

Ikut berdiskusi