Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Harga Avtur Mahal – Pemerintah Bakal Pakai Sustainable Aviation Fuel Mulai 2027

Matthew Thomas - beritanara.com 3 mins baca

Harga Avtur Mahal, Pemerintah Siap Gunakan Bahan Bakar Ramah Lingkungan 2027 Harga Avtur Mahal - Dengan kenaikan harga bahan bakar pesawat yang terus

Harga Avtur Mahal – Pemerintah Bakal Pakai Sustainable Aviation Fuel Mulai 2027

Harga Avtur Mahal, Pemerintah Siap Gunakan Bahan Bakar Ramah Lingkungan 2027

Harga Avtur Mahal – Dengan kenaikan harga bahan bakar pesawat yang terus mengalami fluktuasi, pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada Avtur. Dalam situasi ekonomi global yang tidak stabil, kenaikan harga Avtur menjadi isu utama yang memengaruhi biaya operasional maskapai penerbangan. Selain itu, upaya dekarbonisasi sektor transportasi udara juga mendorong adopsi bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF). Target penerapan SAF dicanangkan pemerintah sejak 2027, sebagai bagian dari komitmen untuk mengurangi emisi karbon dari penerbangan.

Kenaikan Harga Avtur dan Dampaknya

“Kenaikan harga Avtur memang sangat signifikan, bahkan hampir 40 persen dari total biaya operasional maskapai terdiri dari bahan bakar ini,” kata Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Jumat (26/6/2026) di Jakarta Pusat.

Pemerintah mengakui bahwa ketergantungan pada Avtur yang berasal dari minyak mentah membuat sektor penerbangan rentan terhadap perubahan harga global. Pasokan Avtur yang terbatas, ditambah tekanan dari perang di Timur Tengah, menyebabkan kenaikan signifikan dalam harga bahan bakar pesawat. Dengan ini, kebijakan penggunaan SAF dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi inflasi bahan bakar dan menjaga keberlanjutan industri penerbangan nasional.

Kenaikan harga Avtur tidak hanya memengaruhi biaya operasional maskapai, tetapi juga memperkuat kebutuhan akan bahan bakar yang lebih stabil dan ramah lingkungan. Pemerintah memperkirakan bahwa penggunaan SAF akan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar, sehingga mampu menekan angka inflasi dan menjaga daya saing sektor penerbangan dalam kondisi ekonomi global yang berubah cepat. Selain itu, SAF juga memiliki potensi untuk mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan penerbangan, yang merupakan salah satu sumber emisi karbon terbesar di Indonesia.

Sustainable Aviation Fuel sebagai Alternatif

“Kita ingin mengimplementasikan SAF secara bertahap, mulai dari rute penerbangan internasional Jakarta dan Bali, sebagai langkah awal untuk menciptakan permintaan yang sehat,” tambah AHY.

Penerapan SAF diharapkan tidak hanya menjadi solusi ekonomi, tetapi juga lingkungan. Bahan bakar ini dibuat dari sumber terbarukan seperti limbah organik, minyak nabati, atau biomassa, sehingga emisi karbonnya jauh lebih rendah dibandingkan Avtur tradisional. Proses produksi SAF juga dianggap lebih efisien dalam jangka panjang, meskipun awalnya memerlukan investasi besar untuk mengembangkan infrastruktur dan teknologi yang mendukung.

Pemerintah sedang mengupayakan kerja sama dengan sejumlah perusahaan dalam negeri dan luar negeri untuk mempercepat produksi SAF. Proyeksi pemanfaatan SAF di tahun 2027 akan dimulai dengan 1 persen dari total penerbangan internasional dari dua kota besar tersebut, namun rencana ini akan terus dikembangkan agar mencakup rute lain di masa depan. AHY menegaskan bahwa penggunaan SAF akan diprioritaskan untuk maskapai penerbangan domestik dan internasional, dengan target pemanfaatan mencapai 5 persen pada 2030.

Implementasi SAF juga diharapkan mendorong pengurangan ketergantungan pada minyak mentah impor, yang sebelumnya menjadi salah satu pengeluaran utama dalam anggaran energi Indonesia. Dengan bahan bakar alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan, pemerintah berharap mampu menjaga stabilitas harga bahan bakar pesawat, sekaligus memenuhi komitmen pengurangan emisi karbon hingga 2030. Proses transisi ini akan memerlukan koordinasi yang intensif antara pemerintah, industri penerbangan, dan perusahaan energi untuk memastikan keberhasilan.

Dalam upaya menstabilkan harga Avtur, pemerintah juga memperhatikan ketersediaan pasokan bahan bakar di dalam negeri. Meskipun produksi Avtur nasional masih terbatas, langkah penggunaan SAF akan menjadi angin segar bagi sektor penerbangan. Dengan produksi bahan bakar dalam negeri yang terus ditingkatkan, diharapkan adopsi SAF bisa berjalan lebih cepat dan efektif. Selain itu, perang di Timur Tengah dan krisis geopolitik global menjadikan ini sebagai saat yang tepat untuk mengubah pola konsumsi bahan bakar pesawat ke arah yang lebih berkelanjutan.

Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan secara bersamaan. Dengan penggunaan SAF yang bertahap, pemerintah tidak hanya mencegah kenaikan harga Avtur yang membebani maskapai, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan dari penerbangan. Sebagai langkah awal, implementasi SAF di Jakarta dan Bali akan menjadi contoh nyata bagaimana transisi ke bahan bakar alternatif bisa dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan efisiensi sektor penerbangan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam mengejar target dekarbonisasi global.

Ikut berdiskusi