Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Jateng

Latest Program: Sri Sultan Hamengku Buwono X Napak Tilas Pangeran Mangkubumi di Sragen, Kunjungi Empat Petilasan

Joseph Brown - beritanara.com 3 mins baca

Latest Program: Sri Sultan Hamengku Buwono X Napak Tilas Pangeran Mangkubumi di Sragen Pengenalan Aktivitas Sejarah dan Konteks Program Terkini Latest Program

Latest Program: Sri Sultan Hamengku Buwono X Napak Tilas Pangeran Mangkubumi di Sragen, Kunjungi Empat Petilasan

Latest Program: Sri Sultan Hamengku Buwono X Napak Tilas Pangeran Mangkubumi di Sragen

Pengenalan Aktivitas Sejarah dan Konteks Program Terkini

Latest Program menjadi salah satu kegiatan penting yang dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis, 9 Juli 2026. Dalam rangkaian program ini, beliau melakukan perjalanan sejarah ke Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, guna mengenang perjalanan panjang Pangeran Mangkubumi, tokoh sentral dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta. Napak tilas keempat lokasi petilasan ini bukan hanya menggali memori kolektif, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan historis wilayah tersebut.

Latest Program ini melibatkan sejumlah petilasan strategis yang bersejarah. Salah satu tujuan utama adalah untuk mengingat perjuangan Pangeran Mangkubumi dalam mempertahankan kekuasaan dan menentang kolonialisme Belanda. Sebagai bagian dari misi sejarah, Sri Sultan berada di bawah pengawasan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, serta didampingi oleh sejumlah tokoh lokal. Masyarakat Sragen yang antusias memberikan sambutan hangat, menunjukkan minat tinggi terhadap upaya pelestarian warisan sejarah.

Konteks Sejarah dan Makna Petilasan

Petilasan pertama yang dikunjungi adalah Pandak, Krikilan, dan Masaran—lokasi pertama kali Pangeran Mangkubumi berlabuh setelah mengalami konflik mendalam dengan Belanda di Keraton Surakarta. Tiga titik ini menjadi simbol awal perlawanan yang berdampak besar pada perjalanan sejarah Yogyakarta. Selanjutnya, Sri Sultan mengunjungi Goa Mangkubumen di Gebang, Masaran, yang merupakan pusat perencanaan strategis untuk upaya penentangan kolonial. Tempat ini berperan sebagai basis kekuatan dan pengambilan keputusan penting bagi Pangeran Mangkubumi.

Dalam rangkaian Latest Program, petilasan kedua adalah Pesanggrahan Ponopatan di Katelan, Tangen, yang terletak di dekat aliran sungai besar. Lokasi ini dianggap sebagai titik sentral pengawasan logistik dan kekuatan militer Belanda, sekaligus menjadi tempat Pangeran Mangkubumi mengambil langkah-langkah taktis untuk menghadapi tekanan kolonial. Petilasan ketiga, Sumberan Japoh di Jenar, menjadi tempat perundingan kritis yang berujung pada Perjanjian Giyanti tahun 1755. Sebagai bagian dari Latest Program, Sri Sultan secara langsung menyentuh mata air di sana, menegaskan keberadaan kembali sejarah dalam kehidupan masyarakat.

Petilasan keempat dalam Latest Program ini adalah wilayah yang menyimpan cerita penting dalam perjuangan Pangeran Mangkubumi. Meski tidak semua titik petilasan dijelaskan secara detail, kunjungan ini menyoroti pentingnya melibatkan masyarakat lokal dalam memahami dan menjaga warisan budaya. Penekanan pada keempat lokasi ini juga memperlihatkan upaya menggambarkan kompleksitas perjalanan sejarah yang melibatkan strategi, ketahanan, dan kerja sama antar komunitas.

“Sri Sultan sempat membasuh tangan di mata air Sumberan, saya melihat ini potensial viral. Kanjeng Sultan cuci muka atau cuci tangan di situ saja, pasti besok pagi akan banyak masyarakat yang penasaran dan datang ke situ,” ujar Hargiyanto, Sekretaris Daerah Kabupaten Sragen.

Menurut Hargiyanto, mata air Sumberan memiliki tujuh titik sumber yang dinilai memiliki nilai sejarah dan ekologis. Pemerintah Sragen menargetkan pembangunan kawasan tersebut sebagai wisata edukasi dan sekaligus pusat pemeliharaan lingkungan. Dalam konteks Latest Program, rencana ini menunjukkan integrasi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi lokal. Sri Sultan juga menyampaikan dukungan terhadap langkah-langkah strategis tersebut, mengingat pentingnya membangun kesadaran kolektif terhadap warisan sejarah.

Ikut berdiskusi