Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Bola Dunia

What Happened During: Beda Nasib dari Folarin Balogun, Bek Inggris Malah Kena Tambahan Sanksi Larangan Bermain Imbas Kartu Merah

Robert Hernandez - beritanara.com 3 mins baca

Jarell Quansah di Piala Dunia 2026 What Happened During Piala Dunia 2026 menjadi topik utama setelah dua pemain timnas Inggris dan Amerika Serikat menempuh

What Happened During: Beda Nasib dari Folarin Balogun, Bek Inggris Malah Kena Tambahan Sanksi Larangan Bermain Imbas Kartu Merah

Beda Nasib Folarin Balogun dan Jarell Quansah di Piala Dunia 2026

What Happened During Piala Dunia 2026 menjadi topik utama setelah dua pemain timnas Inggris dan Amerika Serikat menempuh nasib berbeda akibat pelanggaran di lapangan. Pemain belakang Jarell Quansah dari Inggris menerima sanksi tambahan hingga absen dalam dua pertandingan, sementara Folarin Balogun dari Amerika Serikat berhasil menghindari hukuman serupa berkat intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Perbedaan ini memicu pembicaraan luas tentang ketidakseimbangan dalam penerapan aturan disiplin di kompetisi sepak bola terbesar dunia.

Kasus Quansah terjadi saat ia melanggar keras Jesus Gallardo dari Meksiko dalam pertandingan melawan Timnas Meksiko. Pemain Bayer Leverkusen tersebut diberi kartu merah langsung dan harus menjalani larangan bermain selama dua pertandingan. FIFA menganggap tindakan tersebut cukup serius, sehingga menambahkan hukuman satu laga di luar penalti yang sudah dijatuhkan. Sementara itu, Balogun mengalami nasib berbeda setelah Presiden Trump menekan FIFA untuk menunda sanksi yang seharusnya berlaku selama dua laga. Keputusan ini memicu kritik terhadap sistem pemberian hukuman di Piala Dunia 2026.

What Happened During pertandingan melawan Belgia menjadi poin penting dalam kisah Balogun. Meski ia mendapat kartu merah langsung, hukuman larangan bermain ditunda setelah Trump meminta FIFA mempertimbangkan situasi pemain. Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa keputusan tersebut berdasarkan regulasi, bukan intervensi langsung dari Trump. Namun, pengaruh Trump tetap terasa karena memungkinkan Balogun tetap bermain di laga kritis.

Kontroversi dalam Penerapan Aturan

Kontroversi ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi FIFA dalam menghukum pelanggaran. Tim Belgia, misalnya, menilai hukuman terhadap Quansah lebih keras dibandingkan Balogun, yang mengalami situasi berbeda. UEFA dan pelatih Thomas Tuchel juga memberikan kritik terhadap keputusan yang dianggap tidak adil, terutama karena perbedaan nasib pemain dari negara berbeda. FIFA menjelaskan bahwa regulasi yang berlaku menjadi dasar utama keputusan tersebut, meski keterlibatan Trump memperkuat kesan subjektivitas dalam sistem sanksi.

“FIFA menegaskan bahwa regulasi yang berlaku menjadi dasar utama keputusan tersebut, meski keterlibatan Trump memperkuat kesan subjektivitas dalam sistem sanksi,”

kata pernyataan resmi FIFA. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa kekuasaan politik bisa memengaruhi keputusan olahraga, terutama dalam turnamen bergengsi seperti Piala Dunia. Kritik terhadap FIFA semakin memuncak karena sanksi Quansah tidak bisa dibandingkan dengan Balogun, yang terkesan mendapat perlakuan istimewa.

Dampak pada Strategi Tim dan Ketersediaan Pemain

What Happened During Piala Dunia 2026 juga mengekspos dampak sanksi terhadap kekuatan tim. Quansah, sebagai bek tengah yang vital, tidak bisa bermain saat Inggris melawan Norwegia dan semifinal jika lolos. Hal ini memaksa pelatih Gareth Southgate mengubah strategi pertahanan dan mengandalkan pemain cadangan. Sementara itu, Balogun tetap bisa berpartisipasi dalam laga penting, memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat dalam menghadapi lawan.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana aturan disiplin bisa menjadi alat pengaruh politik dalam sepak bola internasional. Trump, yang juga menyukai olahraga, memanfaatkan pengaruhnya untuk membantu Balogun, sementara Quansah harus menerima konsekuensi penuh. Perbedaan ini memicu perdebatan tentang apakah FIFA benar-benar bebas dari tekanan politik atau hanya berada di bawah bayangan kekuasaan eksternal. Pelatih dan pemain dari negara lain juga memantau situasi ini, mengingat pengaruh politik bisa berdampak pada hasil kompetisi.

Berdasarkan informasi dari laman BBC, hukuman Quansah berlaku mulai 12 Juli 2026, dengan larangan bermain mencakup seluruh babak grup. FA Inggris mencoba mengajukan banding, tetapi keputusan FIFA tetap berlaku. Sementara itu, Amerika Serikat memanfaatkan kebijakan tersebut untuk menjaga kehadiran Balogun di laga krusial. Perbedaan nasib ini tidak hanya menjadi bahan perdebatan, tetapi juga menyoroti kelemahan sistem disiplin dalam olahraga global.

Ikut berdiskusi