Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Bola Dunia

‎Ada Apa dengan Argentina? La Albiceleste Catat 0 Tembakan Hingga Babak Kedua Berakhir di Final Piala Dunia 2026

Elizabeth Jones - beritanara.com 3 mins baca

Piala Dunia 2026? Ada Apa dengan Argentina La Albiceleste - Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, menjadi momen paling

‎Ada Apa dengan Argentina? La Albiceleste Catat 0 Tembakan Hingga Babak Kedua Berakhir di Final Piala Dunia 2026

Ada Apa dengan Argentina di Final Piala Dunia 2026?

Ada Apa dengan Argentina La Albiceleste – Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, menjadi momen paling mengejutkan dalam sejarah sepak bola dunia. Tim La Albiceleste, yang dikenal sebagai salah satu kandidat kuat juara, justru mengalami kinerja yang tak terduga. Hingga babak kedua berakhir, Argentina hanya mencatatkan 0 tembakan ke gawang, memperlihatkan kelemahan strategis dan mental di pertandingan penentuan.

Kondisi Awal yang Membuat Pertandingan Tidak Terduga

Dalam 90 menit pertama, kedua tim saling bermain tanpa mencetak gol. Spanyol, yang biasanya dianggap sebagai tim yang lebih stabil, justru menunjukkan dominasi tajam dengan menguasai bola hingga 66 persen, menciptakan peluang yang terukur. Statistik menunjukkan mereka mengirimkan 15 tendangan, sepuluh di antaranya mengenai sasaran, sementara Argentina, di sisi lain, memperlihatkan ketidakmampuan mengembangkan serangan.

Banyak analis sepak bola memprediksi Argentina akan menguasai babak kedua, tapi kenyataannya berbeda. Dengan hanya 268 operan dan akurasi 80 persen, La Albiceleste terlihat kesulitan mengalirkan permainan. Pemain-pemain mereka seolah tak mampu menciptakan peluang, bahkan di wilayah teritori Spanyol yang jadi target utama.

Strategi Defensif dan Tekanan pada Messi

Luis de La Fuente memilih skema pertahanan yang sangat ketat, memaksa Spanyol bermain dominan di lapangan. Dengan 583 umpan yang keakuratannya mencapai 90 persen, tim berjuluk La Furia Roja menunjukkan keakuratan tinggi dalam operan. Namun, ini tidak cukup mengguncang pemikiran publik karena kelemahan Argentina lebih terlihat dari sisi serangan.

Kecemasan meningkat saat Argentina kehilangan satu pemain di menit ke-90+3. Enzo Fernandez diusir setelah bertabrakan dengan Pau Cubarsi, memaksa tim bermain dengan 10 orang. Meski begitu, La Albiceleste tetap berusaha mempertahankan permainan, meski hasilnya jauh dari ekspektasi. Messi, meski masih menjadi ikon, terlihat kurang bisa menggerakkan rekan-rekan satu tim.

“Tak satu pun tembakan tercatat dari La Albiceleste hingga babak kedua usai,” tulis Fotmob dalam laporan mereka. “Dalam 90 menit, mereka hanya menghasilkan 268 operan dengan keakuratan 80 persen, sementara serangan mereka terlihat stagnan di dekat kotak penalti Spanyol.”

Kinerja ini menjadi bahan perdebatan bagi penggemar sepak bola. Banyak yang bertanya, “Ada apa dengan Argentina?” Sebagai tim yang selama ini dianggap andalan, La Albiceleste justru tampil kaku di babak penentuan. Kehadiran Lionel Scaloni di pinggir lapangan tidak mampu mengubah alur permainan, yang seolah dihantam oleh tekanan berlebihan.

Analisis Penyebab Kekurangan Serangan Argentina

Performa Argentina di final Piala Dunia 2026 menunjukkan kelemahan dalam mengatur tempo dan distribusi bola. Dalam 90 menit, mereka hanya menciptakan satu peluang yang cukup signifikan, sementara Spanyol mampu memperoleh tujuh kali tembakan ke gawang. Faktor ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi yang diterapkan oleh pelatih Scaloni.

Tim juara bertahan seharusnya bisa memanfaatkan keunggulan kualitas pemain, seperti Messi, Dybala, dan Martinez, tetapi terlihat kesulitan mengalirkan permainan. Tekanan dari Spanyol yang solid, terutama dari bek-bek tengah mereka, membuat Argentina sulit menciptakan peluang. Kondisi ini juga memengaruhi kepercayaan diri pemain, meski mereka masih berusaha memperbaiki situasi.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa permainan Argentina terasa kaku di babak kedua. Mereka lebih memilih bertahan daripada mengambil risiko, padahal kondisi lapangan masih memungkinkan untuk menyerang. Meski akhirnya mencetak gol di menit ke-116, langkah ini tidak cukup untuk membalikkan keadaan. Ini menjadi peringatan penting bagi La Albiceleste sebelum babak grup pada turnamen mendatang.

Ikut berdiskusi