Special Plan: Masalah Perlintasan Sebidang, DPR RI Usulkan Pembangunan Flyover di Tangsel-Lebak
i Perlintasan Sebidang di Tangsel-Lebak Special Plan yang tengah menjadi perhatian utama di Provinsi Banten menyoroti urgensi penyelesaian masalah perlintasan
Special Plan: DPR RI Usulkan Flyover untuk Atasi Perlintasan Sebidang di Tangsel-Lebak
Special Plan yang tengah menjadi perhatian utama di Provinsi Banten menyoroti urgensi penyelesaian masalah perlintasan sebidang yang mengganggu arus lalu lintas. Anggota Komisi V DPR RI, Ahmad Fauzi, mengungkapkan bahwa proyek pembangunan flyover di wilayah Tangsel-Lebak merupakan bagian dari rencana strategis ini. Ia menekankan bahwa perlintasan sebidang di daerah tersebut selama ini menjadi penyebab utama kemacetan dan risiko kecelakaan bagi pengendara.
Analisis Masalah dan Solusi Terpadu
Perlintasan sebidang di Banten, khususnya di kawasan Tangsel-Lebak, dinilai sebagai tantangan utama dalam pengembangan transportasi. Masalah ini terjadi karena adanya interaksi antara jalur kereta api dengan jalan raya yang sangat padat, terutama di area permukiman dan sentra perdagangan. Dalam Special Plan, Fauzi menyarankan penataan infrastruktur yang lebih modern, seperti flyover atau underpass, untuk mengalirkan lalu lintas secara efisien.
Berdasarkan rancangan pemerintah, empat paket proyek perlintasan sebidang akan dikerjakan pada 2027. Fauzi menyebutkan bahwa keputusan lokasi harus didasarkan pada data kepadatan kendaraan dan tingkat kecelakaan. Ia mengungkapkan bahwa kawasan yang dipilih, seperti Pasar Rangkasbitung dan Pasar Serpong, adalah titik rawan karena terus-menerus menjadi tempat antrean lalu lintas selama jam sibuk. “Special Plan ini bertujuan memberikan solusi permanen untuk mengatasi masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun,” tambah Fauzi.
“Kami menilai prioritas proyek harus sejalan dengan kebutuhan warga. Dengan Special Plan, kami berharap pembangunan flyover bisa mempercepat aliran kendaraan dan mengurangi kemacetan secara signifikan,” ujar Fauzi, Minggu (5/7/2026).
Kondisi jalan raya yang terus-menerus terjepit oleh kereta api memicu keterlambatan transportasi yang berdampak pada aktivitas ekonomi dan pendidikan. Pada jam sibuk, antrean kendaraan bisa mencapai puluhan meter, mengganggu aksesibilitas warga. Fauzi menambahkan bahwa pihaknya juga mengusulkan penerapan teknologi pendeteksi kereta api yang lebih canggih untuk meminimalkan risiko penyeberangan di luar jadwal.
Proses Pembebasan Lahan dan Kemitraan dengan Daerah
Untuk memastikan keberhasilan Special Plan, Fauzi menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemimpin daerah setempat. Ia menjelaskan bahwa pembebasan lahan adalah tahapan kritis yang perlu diprioritaskan agar proyek bisa terealisasi tepat waktu. Menurutnya, ada beberapa hambatan dalam proses ini, seperti kesepakatan antara pemilik lahan dan pemerintah, serta pembiayaan yang memadai.
Pembebasan lahan yang diusulkan dalam Special Plan mencakup area sekitar perlintasan yang menjadi titik kritis. Proses ini diperkirakan memakan waktu beberapa bulan, dengan anggaran yang diperlukan mencapai ratusan miliar rupiah. Fauzi mengatakan bahwa jika tidak ditangani segera, proyek ini bisa terganggu dan berisiko tertunda hingga 2028.
“Kemitraan antara DPR RI dengan pemerintah daerah sangat vital. Dengan Special Plan, kami akan memastikan koordinasi yang baik agar semua pihak terlibat dalam mempercepat penyelesaian,” ujar Fauzi.
Pembangunan flyover di Tangsel-Lebak juga diharapkan mampu memperkuat koneksi antar kota. Dengan menghubungkan jalur utama dan jalur kereta api, proyek ini akan menjadi tulang punggung pengembangan infrastruktur di wilayah tersebut. Selain itu, Fauzi menyebutkan bahwa rancangan ini juga melibatkan pertimbangan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar untuk meminimalkan dampak negatif.
Kebijakan Special Plan ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat untuk mendorong pengembangan kota yang lebih modern. Fauzi menambahkan bahwa jika terwujud, flyover akan menjadi contoh sukses dari inisiatif infrastruktur yang berfokus pada solusi jangka panjang. Proyek ini juga diharapkan meningkatkan kualitas hidup warga dengan mengurangi waktu tempuh dan mengurangi kecelakaan lalu lintas.
“Special Plan ini adalah langkah strategis untuk menciptakan kota yang lebih terorganisir. Dengan flyover, kita bisa mengubah pola perlintasan sebidang menjadi jalur yang lebih aman dan efisien,” ujar Fauzi.
Menurut data terkini, perlintasan sebidang di Tangsel-Lebak telah menyebabkan peningkatan kecelakaan lalu lintas sebesar 20% dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, rata-rata waktu tempuh antara daerah-daerah di sekitar perlintasan meningkat dari 15 menit menjadi 30 menit selama jam sibuk. Fauzi menilai peningkatan ini menjadi alasan kuat untuk mempercepat proyek dalam Special Plan.
Proyek flyover yang diusulkan juga melibatkan studi kelayakan dan simulasi lalu lintas. Pihak DPR RI akan bekerja sama dengan lembaga teknis untuk memastikan desain proyek optimal. Fauzi berharap proyek ini menjadi bagian dari investasi infrastruktur yang terukur dan berkelanjutan. Dengan terwujudnya Special Plan, Banten diperkirakan akan menjadi contoh wilayah yang mampu mengatasi masalah perlintasan sebidang secara efektif.
