Sterilisasi Pelabuhan Ketapang, Tonggak Lahirnya Budaya Keselamatan Penyeberangan Indonesia
Program Sterilisasi Pelabuhan Ketapang Tonggak Lahirnya Budaya Keselamatan Penyeberangan Indonesia telah resmi diresmikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry
Sterilisasi Pelabuhan Ketapang: Tonggak Keselamatan Penyeberangan
Beritanara.com – Program Sterilisasi Pelabuhan Ketapang Tonggak Lahirnya Budaya Keselamatan Penyeberangan Indonesia telah resmi diresmikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Inisiatif strategis ini menandai era baru dalam tata kelola pelabuhan penyeberangan nasional, dengan fokus pada peningkatan ketertiban kawasan operasional dan penguatan sistem keselamatan transportasi. Sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia, Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi menjadi simbol transformasi budaya keselamatan yang telah lama dinantikan oleh seluruh pemangku kepentingan industri pelayaran.
Akar Sejarah dan Pentingnya Regulasi
Pemilihan Pelabuhan Ketapang sebagai lokasi pelaksanaan program Sterilisasi Pelabuhan bukan tanpa alasan. Lintasan Ketapang–Gilimanuk telah menjadi urat nadi konektivitas antar pulau selama puluhan tahun, menghubungkan Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Setiap tahunnya, jutaan penumpang, kendaraan, dan barang logistik melintasi jalur vital ini. Namun, di balik peran strategisnya, lintasan ini menyimpan catatan panjang berbagai kecelakaan pelayaran yang menjadi pelajaran berharga bagi seluruh insan transportasi Indonesia.
Beberapa insiden penting yang pernah terjadi meliputi LCT Kaltim Mas II pada tahun 1994, LCT Trisila Bhakti tahun 1995, KMP Citra Mandala Bhakti tahun 2000, KMP Rafelia II tahun 2016, KMP Yunicee tahun 2021, serta KMP Tunu Pratama Jaya pada awal Juli 2025. Tenggelamnya KMP Rafelia II pada tahun 2016 menjadi salah satu momentum penting lahirnya penguatan tata kelola pelabuhan melalui Permenhub Nomor PM 29 Tahun 2016 tentang Sterilisasi Pelabuhan Penyeberangan. Regulasi ini kemudian disempurnakan melalui Permenhub Nomor PM 91 Tahun 2021 tentang Zonasi di Kawasan Pelabuhan yang Digunakan untuk Melayani Angkutan Penyeberangan.
“Sterilisasi pelabuhan ini instrumen untuk membangun Budaya Keselamatan (Safety Culture). Keberhasilannya bukan diukur dari banyaknya pagar, portal, atau pembagian zona yang dibangun, melainkan dari tumbuhnya kesadaran dan disiplin seluruh insan transportasi dalam menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama,” tegas Khoiri Soetomo, Ketua Umum DPP GAPASDAP, Rabu (05/08).
Implementasi dan Dampak Jangka Panjang
Menurut Khoiri Soetomo, implementasi sterilisasi pelabuhan yang dimulai hari ini merupakan kelanjutan dari reformasi keselamatan transportasi penyeberangan yang telah dibangun hampir satu dekade terakhir. Setiap regulasi keselamatan lahir dari pelajaran yang sangat mahal. Karena itu, implementasi sterilisasi pelabuhan tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Ia harus menjadi budaya yang hidup dalam setiap aktivitas operasional pelabuhan dan pelayaran.
Program ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengaturan zonasi kawasan pelabuhan, pemasangan portal dan pagar pengaman, hingga peningkatan sistem informasi dan komunikasi. Semua elemen ini dirancang untuk menciptakan lingkungan pelabuhan yang lebih aman, tertib, dan efisien. Selain itu, program ini juga melibatkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi bagi seluruh petugas pelabuhan dan kru kapal.
Sebagai tindak lanjut dari momentum bersejarah ini, DPP GAPASDAP mengusulkan lahirnya Deklarasi Ketapang untuk Budaya Keselamatan Penyeberangan Indonesia. Deklarasi ini akan menjadi kerangka acuan bagi seluruh pelabuhan penyeberangan di Indonesia untuk mengadopsi standar keselamatan yang sama. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta ekosistem transportasi penyeberangan yang terintegrasi dan berstandar internasional.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Sterilisasi Pelabuhan
Apa itu Sterilisasi Pelabuhan? Sterilisasi Pelabuhan adalah program pengaturan dan penertiban kawasan pelabuhan yang bertujuan meningkatkan keselamatan, ketertiban, dan efisiensi operasional melalui zonasi, pemasangan infrastruktur pengaman, dan penguatan regulasi.
Mengapa Pelabuhan Ketapang dipilih sebagai lokasi pertama? Pelabuhan Ketapang dipilih karena statusnya sebagai salah satu pelabuhan penyeberangan tersibuk di Indonesia dengan volume penumpang dan kendaraan yang sangat tinggi, serta sejarah panjang insiden pelayaran yang menjadi dasar regulasi keselamatan.
Berapa lama program ini akan berjalan? Program Sterilisasi Pelabuhan merupakan langkah jangka panjang yang akan terus disempurnakan seiring dengan evaluasi dan pengembangan infrastruktur serta regulasi yang ada.
Bagaimana dampaknya bagi penumpang? Penumpang akan merasakan peningkatan keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan dalam proses penyeberangan, termasuk sistem informasi yang lebih baik dan prosedur operasional yang lebih terstandarisasi.
