BMKG: Tujuh Daerah Masuk Status Awas Kekeringan di NTB
BMKG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa tujuh dari sepuluh kabupaten atau kota di Nusa Tenggara Barat telah memasuki
Berbagai Wilayah NTB Dinyatakan Masuk Status Awas Kekeringan
Beritanara.com – BMKG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa tujuh dari sepuluh kabupaten atau kota di Nusa Tenggara Barat telah memasuki fase peringatan dini kekeringan meteorologis. Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Nino yang sedang menguat dengan nilai indeks mencapai plus dua koma dua enam derajat Celcius.
Menurut Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, dua pos hujan di Kabupaten Bima, yaitu Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo, tidak mencatat satupun tetes hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua lokasi tersebut dikategorikan mengalami kekeringan ekstrem karena telah melewati batas dua bulan tanpa presipitasi.
“Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua daerah itu masuk kategori kekeringan ekstrem karena sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan,” kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini di Mataram, mengutip Antara pada Sabtu.
Daerah yang Terdampak dan Proyeksi Cuaca
Suci menjelaskan bahwa wilayah-wilayah yang masuk status awas meliputi Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, serta Kota Bima. Saat ini, sebanyak 17 kecamatan tersebar di tujuh daerah tersebut berada pada level tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis.
Fenomena El Nino yang kian intensif selama musim kemarau tahun ini telah memperpanjang jumlah hari tanpa hujan di berbagai kawasan. Penguatan kondisi El Nino tersebut diproyeksikan akan berlangsung selama beberapa bulan mendatang. Sementara itu, fenomena Dipol Samudra Hindia atau IOD yang masih berada dalam kondisi netral diperkirakan akan bergeser ke fase positif mulai September hingga Desember 2026.
Pada akhir Juli 2026, curah hujan di NTB secara umum didominasi oleh kategori rendah, yakni antara nol hingga sepuluh milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi hanya tercatat di Pos Hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, sebesar 19 milimeter per dasarian.
BMKG memperkirakan peluang hujan pada dasarian pertama Agustus 2026 atau periode satu hingga sepuluh Agustus masih sangat minim dengan peluang kurang dari sepuluh persen di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat.
Pesan untuk Masyarakat
Suci mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
“Sehubungan hari tanpa hujan yang kian panjang dan daerah yang masuk status awas kekeringan meteorologi juga semakin banyak, maka kami harap masyarakat dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih,” pungkas dia.
(ant/ree)
