Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Nasional

Raja Juli Klaim Karhutla Berhasil Ditekan, Kini Waspadai El Nino dan Ancaman Baru

Joseph Rodriguez - beritanara.com 3 mins baca

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi bahwa fenomena El Niño akan hadir lebih cepat dibandingkan dengan siklus umumnya

Raja Juli Klaim Karhutla Berhasil Ditekan, Kini Waspadai El Nino dan Ancaman Baru

Raja Juli Klaim Karhutla Berhasil, El Niño Ancam Kemarau Panjang

Beritanara.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi bahwa fenomena El Niño akan hadir lebih cepat dibandingkan dengan siklus umumnya. Kondisi cuaca ekstrem ini dikhawatirkan akan memperpanjang durasi musim kemarau serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan secara signifikan. Di tengah tren positif yang menunjukkan penurunan luas karhutla dalam satu dekade terakhir, pemerintah diminta untuk tidak lengah menghadapi tantangan baru tersebut. Raja Juli Klaim Karhutla Berhasil ditekan melalui berbagai upaya koordinasi dan mitigasi yang intensif selama beberapa tahun terakhir.

Capaian Penurunan Luas Area Terbakar

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa capaian pengendalian kebakaran menunjukkan hasil yang nyata dan dapat diukur. Ia merujuk pada penurunan drastis luas area terbakar dari tahun ke tahun sebagai bukti keberhasilan program pemadaman. Pada tahun 2015, luas karhutla mencapai angka 2,6 juta hektare yang menjadi salah satu rekor tertinggi. Empat tahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 2,1 juta hektare. Kemudian pada tahun 2023, tercatat hanya 1,1 juta hektare saja yang terbakar.

“Kalau kita berhasil menekan karhutla, kalau tadi saya katakan, sebagai bangsa kita patut gembira, dari tahun 2015 itu 2,6 juta, kemudian empat tahun kemudian menjadi 2,1 juta. Empat tahun kemudian 2023 menjadi 1,1 juta,” beber Raja Juli Antoni di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026).

Tren penurunan juga berlanjut hingga tahun sebelumnya dengan angka yang semakin membaik. Luas area terbakar sempat mencapai 375.000 hektare sebelum kembali melandai ke angka 350.000 hektare. Meski demikian, Menteri Raja Juli Antoni menekankan bahwa keberhasilan ini bukan alasan untuk bersantai atau mengurangi kewaspadaan. Perubahan iklim diprediksi akan menghadirkan tantangan yang lebih berat di masa mendatang bagi Indonesia.

Koordinasi Multi-Pihak Menghadapi El Niño Dini

Pengendalian karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial atau hanya oleh satu instansi saja. Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa sinergi antar-kementerian, lembaga pemerintah, daerah, serta seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan. Fenomena El Niño yang datang lebih awal dari jadwal normal berarti risiko kekeringan dan kebakaran hutan juga akan meningkat lebih cepat. Hal ini menuntut respons yang lebih cepat dan terkoordinasi dari semua pihak terkait.

“Jadi sebenarnya kita bisa menekan itu, cuma ini butuh koordinasi yang lebih rekat lagi, lebih ketat lagi, karena memang ini El Nino-nya, climate change is real. Jadi kita perlu bersama-sama mengantisipasi,” katanya dengan tegas.

Berdasarkan pola historis yang telah dicatat, El Niño biasanya muncul setiap empat tahun sekali. Siklus tersebut tercatat pada tahun 2015, 2019, dan 2023 sebagai periode puncak fenomena ini. Secara teoritis, fenomena berikutnya seharusnya terjadi pada tahun 2027. Namun, prediksi BMKG menunjukkan kedatangan yang lebih dini, sehingga langkah mitigasi harus dimulai sejak tahun ini untuk meminimalkan dampak negatif.

“Jadi kekeringannya datang lebih cepat ya, dan berakhirnya lebih lambat. Nah, itu tentu harus ada antisipasi,” ucapnya sambil mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dini.

Pergeseran Wilayah Rawan Kebakaran Hutan

Selain peringatan terkait El Niño, Menteri Kehutanan juga mengungkap adanya perubahan pola wilayah rawan karhutla yang perlu diwaspadai. Selama ini, titik-titik utama kebakaran hutan terkonsentrasi di enam provinsi tertentu yang menjadi fokus utama. Daerah-daerah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pergeseran ini menuntut perhatian khusus dalam strategi pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

Raja Juli Klaim Karhutla Berhasil melalui pendekatan holistik yang melibatkan masyarakat lokal, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Dengan adanya ancaman baru dari perubahan iklim, diperlukan investasi berkelanjutan dalam teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama untuk menjaga kelestarian hutan Indonesia dari ancaman kebakaran yang semakin kompleks.

Ikut berdiskusi