What Happened During: KPK Geledah 3 Lokasi di Bali Terkait Kasus Pemerasan WNA oleh Silmy Karim, Sejumlah barang Bukti Diamankan
What Happened During: KPK Geledah Tiga Lokasi di Bali Terkait Kasus Pemerasan WNA oleh Silmy Karim What Happened During - Dalam operasi penyelidikan yang
What Happened During: KPK Geledah Tiga Lokasi di Bali Terkait Kasus Pemerasan WNA oleh Silmy Karim
What Happened During – Dalam operasi penyelidikan yang terjadi What Happened During, Badan Pemeriksa KPK melakukan geledah di tiga lokasi berbeda di Bali untuk mengungkap kasus pemerasan terhadap Warga Negara Asing (WNA) yang diduga melibatkan mantan Wakil Menteri Imigrasi, Silmy Karim. Pencarian barang bukti ini menjadi bagian dari upaya KPK dalam memperkuat kasus korupsi yang menjerat Karim. Pada hari-hari What Happened During, penyidik memeriksa berbagai dokumen dan alat elektronik di lokasi tersebut, dengan harapan menemukan bukti-bukti yang memperjelas alur pelanggaran tugas Karim saat menjabat Dirjen Imigrasi.
Detail Operasi Geledah di Bali
Operasi What Happened During dimulai pada akhir pekan dan berlangsung selama tiga hari, mulai dari 17 hingga 19 Juni. Lokasi yang menjadi sasaran geledah meliputi Kantor PT. Visa Empat Bali, CV. Visa Agung Bali Teratai Promanende, dan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar. Dalam What Happened During, tim penyidik KPK mencari dokumen terkait pengurusan izin tinggal WNA serta bukti-bukti yang dapat mengungkap praktik korupsi selama masa jabatan Karim. Setiap lokasi diinvestigasi secara rinci, termasuk menyita alat komunikasi, surat perintah, dan catatan keuangan.
“Hasil What Happened During akan menjadi kunci dalam memperjelas peran Silmy Karim dalam pemerasan WNA, sesuai dengan pasal 12e UU Tipikor,” terang Budi Prasetyo, juru bicara KPK, saat diwawancara Minggu (21/6/2026).
Kasus ini berkembang setelah operasi penangkapan di Jakarta, di mana Silmy Karim dituduh menerima dana tetap sebesar Rp100 juta per minggu. Selama What Happened During di Bali, penyidik fokus pada penyelidikan akhir dari transaksi yang berpotensi menghubungkan Karim dengan pihak-pihak terkait di luar negeri. Bukti yang ditemukan dianggap penting untuk menyelidiki apakah ada aliran dana yang terkait dengan pengurusan visa dan status keimigrasian WNA.
Kasus Korupsi yang Mulai dari Jakarta
Kasus pemerasan What Happened During di Bali bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta Barat, yang berlangsung pada 2 Juni 2026. Saat itu, sejumlah individu ditangkap karena terlibat dalam penggelapan dana dari pihak WNA. Dalam What Happened During, KPK mengungkap bahwa Silmy Karim diberi jatah Rp100 juta per minggu oleh Kepala Kantor Wilayah Imigrasi Jawa Barat, Jaya Saputra. Dana tersebut diduga digunakan untuk memuluskan proses pengurusan izin tinggal bagi WNA.
“Silmy Karim diduga terlibat dalam pemerasan WNA saat menjabat Dirjen Imigrasi 2023-2024,” jelas Budi Prasetyo, Kamis (4/6/2026).
Setelah operasi OTT di Jakarta, Karim menyerahkan diri ke KPK pada Rabu (3/6/2026) malam. Ia didampingi oleh ajudan yang terlibat dalam pemeriksaan. Selama What Happened During, KPK terus mengumpulkan informasi tambahan untuk memperkuat tuduhan terhadap Karim dan rekan-rekannya. Bukti yang ditemukan di Bali dipercaya sebagai bagian penting dari penyelidikan nasional yang menargetkan korupsi dalam pengurusan dokumen keimigrasian.
Aliran Dana dan Tersangka Lainnya
Dalam What Happened During, KPK menyebutkan bahwa Silmy Karim menerima dana tetap dari Jaya Saputra, yang saat itu menjabat Direktur Izin Tempat Tinggal dan Status Keimigrasian. Dana tersebut diberikan setiap minggu sebagai bentuk pemerasan terhadap WNA yang mengajukan permohonan izin tinggal. Berdasarkan pernyataan Ketua KPK, Setyo Budiyanto, pihaknya menemukan bukti bahwa Karim terlibat dalam pengalihan dana tersebut ke berbagai pihak.
“Dana Rp100 juta per minggu yang diterima Silmy Karim menjadi bukti kuat dalam What Happened During,” kata Setyo, Kamis (4/6/2026).
Penyelidikan What Happened During juga mengungkap bahwa beberapa orang yang terlibat dalam kasus ini mungkin masih terus beroperasi. KPK menargetkan untuk mengungkap seluruh jaringan korupsi ini, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak eksternal seperti agen keimigrasian di luar negeri. Dengan memperluas bukti yang dikumpulkan di Bali, KPK mengharapkan dapat mengidentifikasi aliran dana yang lebih luas dan memberikan gambaran menyeluruh tentang korupsi di lingkungan keimigrasian.
Signifikansi Kasus dalam Penegakan Hukum
Kasus What Happened During di Bali menunjukkan komitmen KPK dalam menegakkan hukum terhadap praktik korupsi yang menyebar ke berbagai lini pemerintahan. Pemerasan WNA oleh Silmy Karim dinilai sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang merugikan negara. Dengan ditemukannya barang bukti di tiga lokasi Bali, KPK semakin dekat mengungkap detail transaksi yang melibatkan Karim dan rekan-rekannya. Selain itu, What Happened During juga memperlihatkan koordinasi KPK dengan lembaga lain dalam memeriksa alur dana korupsi.
“What Happened During di Bali membuktikan bahwa korupsi bisa terjadi di berbagai tingkatan, termasuk dalam proses pengurusan izin tinggal WNA,” tutur Budi Prasetyo, Minggu (21/6/2026).
Kasus ini menjadi contoh bagaimana investigasi KPK bisa mengarah ke penyelidikan jangka panjang. Selama What Happened During, pihak penyidik menemukan keterkaitan antara Karim dengan pihak-pihak yang menerima dana korupsi, termasuk mungkin agen keimigrasian di luar negeri. Dengan menyita berbagai dokumen dan alat elektronik, KPK mencoba memperjelas peran Karim dalam sistem korupsi tersebut.
Proses Pemeriksaan dan Harapan KPK
Sebagai bagian dari What Happened During, KPK berharap hasil penyelidikan di Bali dapat memperkuat penyelidikan lebih lanjut terhadap Silmy Karim. Pemeriksaan yang dilakukan di tiga lokasi tersebut tidak hanya fokus pada dokumen terkait pemerasan, tetapi juga mencakup berbagai bukti lain seperti catatan keuangan, daftar nama WNA yang terduga dirasuki, dan rekaman komunikasi. Dengan peningkatan jumlah bukti, KPK dapat memperjelas bagaimana pemerasan WNA berlangsung dan siapa saja yang terlibat.
“What Happened During di Bali akan menjadi bagian dari investigasi nasional terhadap Silmy Karim, yang terus berjalan hingga ada kepastian tentang jumlah dana yang terlibat,” ungkap Budi Prasetyo, Minggu (21/6/2026).
KPK juga mengharapkan bahwa What Happened During ini akan menjadi momentum untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum lain yang mungkin terkait dengan Karim. Dengan menyita barang bukti, KPK mencoba memperjelas bagaimana Karim menggunakan wewenangnya untuk memperoleh keuntungan pribadi. Pemeriksaan lebih lanjut akan memastikan apakah ada keterlibatan pihak luar seperti pengusaha atau diplomat asing dalam skema pemerasan ini.
