Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Jatim

What Happened During: MUI Minta Pengawasan Miras Diperketat Usai Dugaan Peredaran Bebas di Karnaval Sound Horeg Blitar

Elizabeth Jones - beritanara.com 2 mins baca

MUI: Pengawasan Miras Perlu Diperketat Usai Karnaval Blitar Peristiwa Penyebaran Miras di Karnaval Sound Horeg What Happened During karnaval Sound Horeg di

What Happened During: MUI Minta Pengawasan Miras Diperketat Usai Dugaan Peredaran Bebas di Karnaval Sound Horeg Blitar

MUI: Pengawasan Miras Perlu Diperketat Usai Karnaval Blitar

Peristiwa Penyebaran Miras di Karnaval Sound Horeg

What Happened During karnaval Sound Horeg di Desa Wonorejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, menjadi sorotan karena dugaan peredaran minuman keras (miras) yang terjadi secara bebas. Acara yang digelar beberapa hari lalu menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan miras oleh peserta dan pengunjung tanpa pengawasan ketat. Meski tidak ada laporan langsung tentang kecelakaan atau pelanggaran hukum, MUI Kabupaten Blitar menganggap kejadian tersebut sebagai indikasi kuat akan dampak negatif dari miras yang tidak terbatasi.

Respons MUI dan Penguatan Regulasi

Dalam upaya mencegah dampak lebih lanjut, What Happened During penerapan pengawasan miras oleh MUI menjadi langkah strategis. Lembaga itu meminta pemerintah dan aparat hukum untuk memperketat pengendalian distribusi miras, terutama pada acara umum seperti karnaval. Menurut Jamil Mashadi, Humas MUI Kabupaten Blitar, langkah tersebut penting untuk meminimalkan akses miras terhadap generasi muda dan masyarakat luas.

“MUI memberikan perhatian khusus terhadap miras karena dianggap sebagai sumber kemaksiatan. Kami akan berkoordinasi dengan aparat hukum agar izin acara masyarakat diberikan secara selektif,” ujar Jamil Mashadi, Kamis (16/07).

Menurut Jamil, larangan terhadap miras tidak hanya berlaku bagi pengonsumsinya, tetapi juga mencakup seluruh pihak terlibat dalam proses produksi, distribusi, dan penyelenggaraan acara. Ia menegaskan bahwa penggunaan miras bisa memengaruhi perilaku seseorang, termasuk memicu tindak pidana dan pelanggaran moral. “Kita perlu menegakkan aturan dengan tegas agar miras tidak lagi diperbolehkan merayap di setiap acara,” tambahnya.

“Konsumsi miras berpotensi menyebabkan tindakan-tindakan seperti penganiayaan, pencurian, perampokan, perzinaan, hingga pembunuhan,” imbuhnya.

Sebagai respons terhadap What Happened During karnaval Sound Horeg, MUI menekankan perlunya peningkatan pengawasan terhadap peredaran miras. Pihaknya meminta agar izin penyelenggaraan acara masyarakat diberikan hanya kepada yang memenuhi standar ketat, termasuk menjamin tidak ada kebebasan distribusi miras di lokasi acara. Jamil juga menyebutkan bahwa keberhasilan fatwa-fatwa MUI bergantung pada kesadaran dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.

“Banyak kejahatan dimulai dari penggunaan miras. Karena itu, pengawasan harus diperketat,” tegas Jamil.

Langkah-langkah yang diusulkan MUI mencakup peningkatan penegakan hukum, edukasi masyarakat, serta pengawasan lebih ketat dari pihak terkait. Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa penggunaan miras di acara umum bisa menjadi faktor pendorong kebiasaan buruk yang menyebar ke kalangan lebih luas. Selain itu, MUI meminta pemerintah daerah untuk memberikan perhatian khusus terhadap perayaan yang melibatkan anak-anak dan remaja.

Untuk memperkuat efektivitas kebijakan, MUI akan berkolaborasi dengan aparat penegak hukum, seperti polisi dan dinas terkait, dalam penerapan kriteria lebih ketat untuk izin acara. “Kami ingin memastikan bahwa kegiatan yang diizinkan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat,” pungkas Jamil. Penegakan hukum terhadap penyelenggara acara yang tidak memenuhi syarat akan menjadi fokus utama dalam beberapa bulan ke depan.

“Mari bersama menjaga keberkahan yang diberikan Allah kepada bangsa Indonesia dengan menjalani kehidupan yang penuh keberkahan dan menjauhi kemaksiatan,” pungkasnya.

Ikut berdiskusi