Antisipasi Gagal Panen – Pemkab Lamongan Semprot Hama secara Serentak di 19 Kecamatan dengan Drone
Antisipasi Gagal Panen: Pemkab Lamongan Terapkan Drone untuk Pengendalian Hama di 19 Kecamatan Antisipasi Gagal Panen - Kabupaten Lamongan terus berupaya
Antisipasi Gagal Panen: Pemkab Lamongan Terapkan Drone untuk Pengendalian Hama di 19 Kecamatan
Antisipasi Gagal Panen – Kabupaten Lamongan terus berupaya meminimalkan risiko gagal panen melalui program pengendalian hama yang dilakukan secara serentak di 19 kecamatan. Kebijakan ini didukung teknologi drone yang diperkenalkan oleh Kementerian Pertanian, dengan titik fokus utama pada penyebaran wereng batang coklat (WBC) di Desa Banjarmadu, Kecamatan Karanggeneng, Rabu (8/7). Upaya ini bertujuan mencegah kerusakan massal pada tanaman padi yang menjadi sumber utama penghasil pangan di daerah tersebut.
Strategi Kebijakan untuk Ketersediaan Pangan
Program serentak ini dirancang sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas produksi pangan. Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menekankan bahwa tindakan langsung terhadap hama WBC sangat penting untuk menghindari ancaman gagal panen yang bisa mengganggu ketahanan pangan nasional. Dengan menjangkau 19 kecamatan, upaya ini memastikan bahwa seluruh area rentan terhadap serangan hama mendapat perhatian serius.
“Kami percaya bahwa pengendalian hama secara terpadu adalah kunci untuk mengurangi kerugian yang terjadi. Dengan drone, kita bisa menjangkau wilayah yang sulit dicapai secara manual, mempercepat respons, dan menjamin efisiensi,” tutur Bupati Yes. Teknologi ini juga memungkinkan pemantauan real-time, sehingga tindakan bisa diambil lebih cepat sebelum kerusakan menjadi parah.
Menurut data lapangan, luas lahan yang terancam serangan WBC mencapai 2.186,88 hektare, dengan populasi hama hingga 10-20 ekor per rumpun. Jika tidak diatasi, WBC bisa berkembang hingga tiga generasi dalam satu musim tanam, mengakibatkan kerusakan berat dan ketergantungan petani pada bantuan pemerintah. Pemkab Lamongan menyatakan bahwa tindakan antarkecamatan secara simultan meningkatkan efektivitas pengendalian.
Manfaat Teknologi Drone dalam Pertanian
Perpindahan dari metode tradisional ke teknologi drone menawarkan berbagai keuntungan. Pertama, drone dapat menjangkau area pertanian yang luas dengan kecepatan tinggi dan biaya operasional lebih rendah dibandingkan penggunaan alat berat. Kedua, penggunaan drone meminimalkan risiko kontak langsung antara petugas dan hama, serta mengurangi dampak lingkungan karena aplikasi pestisida yang lebih tepat sasaran.
Program ini juga menjadi contoh bagus bagaimana pemerintah daerah memanfaatkan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Dengan drone, pemkab mampu memproses pengendalian hama dalam waktu singkat, mempercepat respons terhadap perubahan kondisi tanaman, dan mengurangi kesenjangan antara kecamatan yang memiliki tingkat kerusakan berbeda. Selain WBC, pengendalian hama juga mencakup OPT lain yang berpotensi mengganggu hasil panen.
Pemkab Lamongan memiliki total luas lahan pertanian sebesar 103.483 hektare, terdiri dari 95.745 hektare sawah baku, 53.057 hektare tadah hujan, dan 42.688 hektare irigasi. Kontribusi area non-sawah sebesar 7.773 hektare menambah diversifikasi hasil pertanian, tetapi sawah tetap menjadi poros utama produksi pangan. Produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 904.928 ton atau sekitar 950 ribu ton pada 2025, menurut data BPS. Program pengendalian hama bertujuan menjaga kinerja ini.
Dalam pelaksanaannya, 19 kecamatan terlibat dalam penggunaan drone sebagai alat penyebaran pestisida. Kecamatan yang terkena berdasarkan laporan pusat meliputi Sugio, Karangbinangun, Glagah, Sukodadi, Laren, Karanggeneng, Lamongan, Tikung, Kembangbahu, Sarirejo, Kedungpring, Sekaran, Pucuk, Babat, Modo, Maduran, Turi, Kalitengah, dan Deket. Dengan penyebaran serentak, keterlibatan masyarakat dan petani menjadi lebih intensif.
Upaya ini diharapkan menjadi model untuk daerah lain di Jawa Timur yang menghadapi ancaman serupa. Bupati Yes menyebut bahwa kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pihak terkait sangat vital untuk menjamin ketahanan pangan. Penggunaan drone juga dianggap sebagai langkah adaptif menghadapi tantangan iklim dan perubahan pola serangan hama, yang semakin kompleks akibat globalisasi dan ekspansi pertanian.
