Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Nasional

Main Agenda: KSP Kebut Izin Kedung Keris dan Banyugeni, Dudung: Target Produksi Minyak 1 Juta Barel 2029

Charles Lopez - beritanara.com 3 mins baca

Main Agenda: KSP Kebut Izin Kedung Keris dan Banyugeni, Dudung: Target Produksi Minyak 1 Juta Barel 2029 Main Agenda - Dalam upaya mempercepat realisasi

Main Agenda: KSP Kebut Izin Kedung Keris dan Banyugeni, Dudung: Target Produksi Minyak 1 Juta Barel 2029

Main Agenda: KSP Kebut Izin Kedung Keris dan Banyugeni, Dudung: Target Produksi Minyak 1 Juta Barel 2029

Main Agenda – Dalam upaya mempercepat realisasi produksi minyak nasional, Main Agenda menjadi prioritas utama yang diusung oleh Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman. Ia melakukan kunjungan ke Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, untuk memastikan penerapan efektif kebijakan perizinan terkait tiga proyek migas strategis: Kedung Keris, Banyugeni, dan eksplorasi minyak di Bojonegoro. Dudung menekankan bahwa penyelesaian izin ini adalah kunci untuk mencapai target produksi minyak sebesar 1 juta barel per tahun pada 2029, yang menjadi landasan kebijakan energi nasional.

Latar Belakang Proyek Strategis

Tiga proyek migas tersebut—Kedung Keris Wellpad, Sumur Eksplorasi Banyugeni-001, dan Lapangan Gas RBG Blok I—berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia. Proyek Kedung Keris, yang merupakan bagian dari operasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), memiliki potensi besar untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak. Sementara itu, Banyugeni-001, yang dikembangkan oleh Pertamina EP, diharapkan menjadi penggerak baru dalam pengembangan cadangan minyak di wilayah Jawa Timur. Proyek RBG Blok I oleh TIS Petroleum E&P Blora Ltd juga ditargetkan untuk mengakselerasi produksi gas bumi yang mendukung energi terbarukan.

Perizinan untuk proyek-proyek ini tidak hanya melibatkan KSP tetapi juga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta SKK Migas. Dudung menegaskan bahwa pemerintah harus mengawal pelaksanaan kebijakan ini secara ketat agar tidak mengganggu keberlanjutan pertanian. “Main Agenda kita adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan energi dan pertanian,” ujarnya, mengacu pada pentingnya memenuhi kebutuhan pangan sambil mempercepat produksi minyak.

Perkembangan Terkini dan Tantangan

Sebagai bagian dari Main Agenda, KSP Dudung menyoroti tantangan yang dihadapi proyek Kedung Keris, yang terkait dengan status lahan makro di Kabupaten Demak. Proyek ini mengalami hambatan karena sebagian besar lahan di wilayah tersebut masuk dalam kategori Lahan Sawah Baku (LBS) dengan persentase hingga 90 persen. Menurut Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, proses pengalihan lahan dari status LP2B ke LSD memerlukan pemenuhan minimal 87 persen LBS di tingkat daerah. Hal ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan pertanian sambil menyiapkan lahan untuk pengembangan migas.

Dalam diskusi di Bojonegoro, Dudung memberikan penjelasan bahwa kebijakan perizinan ini dirancang agar tidak merugikan para petani. “Setiap hektare lahan LSD yang dialihkan harus diganti dengan tiga hektare, sehingga lahan pertanian justru akan bertambah,” tegas Djoko Siswanto, menggambarkan strategi Main Agenda untuk memastikan keberlanjutan sektor energi dan pertanian. KSP juga menyoroti pentingnya koordinasi antarlembaga agar tidak terjadi kekacauan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Kunjungan Dudung ke Bojonegoro disusul dengan tinjauan langsung ke Kedung Keris Wellpad, yang menjadi pusat operasional EMCL. Di sana, ia meninjau progres pengembangan infrastruktur dan fasilitas pengolahan. Proyek ini diharapkan dapat menyukseskan Main Agenda dengan menambah kapasitas produksi minyak nasional. Sementara itu, Banyugeni-001 yang sedang dalam tahap eksplorasi juga menjadi fokus perhatian, karena dianggap sebagai salah satu cadangan minyak terbesar di Jawa Timur.

Dalam rangka mendukung Main Agenda, pemerintah melakukan evaluasi ulang terhadap kebijakan izin penggunaan lahan. Kebijakan ini disusun agar tidak hanya mempercepat pengembangan energi tetapi juga melindungi kepentingan masyarakat. Dudung mengatakan, izin yang diberikan harus transparan dan cepat, agar tidak menghambat progres proyek. “Kita harus menjaga momentum Main Agenda ini dengan mengoptimalkan sumber daya dan meminimalkan hambatan,” tambahnya, menggarisbawahi kebutuhan kebijakan yang sinkron dengan prioritas nasional.

Proyek-proyek ini juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Dengan target produksi 1 juta barel minyak pada 2029, Main Agenda diharapkan mendorong pertumbuhan sektor energi dan menurunkan ketergantungan impor. KSP Dudung berharap kebijakan ini bisa menyelesaikan masalah izin yang selama ini menghambat kecepatan realisasi proyek. “Main Agenda ini harus tercapai melalui kerja sama yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta,” imbuhnya, memberikan arahan untuk kolaborasi yang lebih efektif.

Ikut berdiskusi