Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT – Singgung Dampak Moral hingga Risiko HIV/AIDS

Matthew Thomas - beritanara.com 4 mins baca

dan Risiko HIV/AIDS Pernyataan MUI Palu Terkait Fitrah Manusia MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT dan memberikan pandangan kritis terhadap praktik orientasi

MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT – Singgung Dampak Moral hingga Risiko HIV/AIDS

MUI Palu Angkat Bicara Soal LGBT: Fokus pada Dampak Moral dan Risiko HIV/AIDS

Pernyataan MUI Palu Terkait Fitrah Manusia

MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT dan memberikan pandangan kritis terhadap praktik orientasi seksual yang dianggap menyimpang dari fitrah. Dalam sebuah pernyataan resmi, Prof. Zainal Abidin, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, menegaskan bahwa perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dinilai bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, keberadaan LGBT adalah bentuk penyimpangan dari kodrat manusia yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.

“LGBT adalah bentuk penyimpangan yang bisa mengganggu nilai-nilai moral dalam masyarakat dan berpotensi merusak keberlanjutan keturunan,” ujar Zainal Abidin di Palu, Selasa (7/7/2026). Ia menekankan bahwa Islam menekankan pentingnya memahami fitrah sebagai dasar kehidupan yang harmonis.

MUI Palu juga menyampaikan bahwa kecenderungan LGBT, jika dibiarkan tanpa pengawasan, dapat menyebabkan risiko penyebaran penyakit seperti HIV/AIDS. Zainal mengungkapkan bahwa pengetahuan tentang risiko kesehatan ini perlu disampaikan secara terbuka untuk memberikan pemahaman lebih dalam kepada masyarakat. Ia berharap agar pemberitaan tentang LGBT tidak hanya fokus pada aspek sosial, tetapi juga mencakup peran agama dalam membimbing manusia sesuai tuntunan Allah.

Literatur Islam dan Penjelasan Perilaku LGBT

Dalam penjelasannya, Zainal menyoroti bahwa literatur Islam, khususnya hadis dan Al-Qur’an, memberikan dasar hukum untuk melarang perilaku homoseksual. Menurutnya, keberadaan LGBT tidak hanya bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga bisa memengaruhi generasi muda dalam membangun moral dan kepercayaan terhadap kehidupan berkeluarga.

“Dakwah kepada individu yang memiliki orientasi seksual LGBT harus berimbang antara peneguhan nilai agama dan pendekatan yang humanis,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut perlu menghindari sikap diskriminatif atau siksaan terhadap kelompok tersebut.

Zainal menambahkan bahwa MUI Palu mengajak masyarakat untuk berpikir kritis terhadap pengaruh globalisasi yang dapat mempercepat adopsi gaya hidup yang dianggap menyimpang dari fitrah. Ia juga menegaskan bahwa penyebaran informasi tentang dampak moral dan risiko kesehatan menjadi bagian penting dari upaya melestarikan nilai-nilai Islam di tengah perkembangan zaman.

Peran Pemerintah Daerah dan Masyarakat

MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT juga menyoroti peran Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mengendalikan persebaran gaya hidup sesama jenis. Zainal mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dalam memberikan edukasi dan pembinaan terhadap masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh luar.

“Kebijakan yang diambil pemerintah daerah harus selaras dengan prinsip Islam, tetapi tetap menjamin hak-hak individu,” jelasnya. Ia menilai bahwa kerja sama antara lembaga keagamaan dan pemerintah sangat penting untuk menciptakan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga dan masyarakat.

Zainal menekankan bahwa meskipun MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT dengan pendekatan konservatif, mereka tetap membuka ruang dialog untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Ia berharap bahwa penjelasan yang diberikan oleh MUI Palu bisa menjadi acuan bagi umat Islam dalam menilai keberadaan orientasi seksual di luar norma tradisional.

Dampak Negatif pada Generasi Muda

MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT juga menyoroti bagaimana perilaku ini bisa memengaruhi generasi muda. Zainal menyatakan bahwa kecenderungan mengikuti gaya hidup sesama jenis bisa terjadi jika kurangnya pengawasan dari orang tua dan masyarakat. Ia menyarankan agar pendidikan moral dan agama harus diberikan secara konsisten sejak dini agar generasi muda tidak mudah terpengaruh.

“Banyak kasus pemuda yang menyerah pada orientasi seksual karena kurangnya pemahaman tentang fitrah manusia,” katanya. Zainal menegaskan bahwa peran keluarga dan institusi pendidikan sangat krusial dalam membentuk karakter sebelum terjadi penyimpangan yang lebih dalam.

Menurut Zainal, MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT juga bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa Islam tidak melarang keberagaman, tetapi menekankan keutuhan dan keseimbangan dalam kehidupan manusia. Ia berharap keberadaan kelompok LGBT bisa diterima dengan tangan terbuka, selama tetap berada dalam bingkai ajaran agama dan nilai-nilai kehidupan yang sehat.

Kebutuhan Pemahaman yang Lebih Mendalam

Zainal menyatakan bahwa MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT tidak hanya sekadar menyampaikan kecaman, tetapi juga ingin memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa banyak orang yang belum memahami secara jelas tentang konsep fitrah dan risiko yang mungkin terjadi jika dilanggar. Dengan demikian, MUI Palu berupaya memberikan informasi yang dapat mendukung keputusan individu secara bijak.

“MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT sebagai bagian dari upaya memperkuat keimanan dan menjaga keutuhan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perlu adanya penyesuaian antara ajaran Islam dan perkembangan zaman, agar masyarakat tetap mampu memahami dan menerima perbedaan.

Menurut Zainal, MUI Palu Angkat Bicara soal LGBT juga menjadi sarana untuk mengajak masyarakat berdiskusi secara terbuka. Ia menekankan bahwa isu ini harus dipandang sebagai tantangan yang bisa diatasi dengan pendekatan yang lebih inklusif dan berimbang. Dengan demikian, MUI Palu berharap bisa menjadi mitra dalam menghadapi perubahan sosial yang terus berkembang di masa kini.

Ikut berdiskusi