Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Nasional

Key Discussion: Prabowo Turun Tangan Gegara Harga Sawit Anjlok saat CPO Dunia Naik, Mentan Amran: Ini Anomali!

Susan Moore - beritanara.com 3 mins baca

Key Discussion: Prabowo Intervene karena Harga Sawit Anjlok, Mentan Amran: Ini Anomali Key Discussion – Di Jakarta, tvOnenews.com — Presiden Prabowo Subianto

Key Discussion: Prabowo Turun Tangan Gegara Harga Sawit Anjlok saat CPO Dunia Naik, Mentan Amran: Ini Anomali!

Key Discussion: Prabowo Intervene karena Harga Sawit Anjlok, Mentan Amran: Ini Anomali

Key Discussion – Di Jakarta, tvOnenews.com — Presiden Prabowo Subianto secara langsung mengambil langkah untuk mengatasi penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang dianggap tidak seimbang, meskipun harga minyak sawit mentah (CPO) global sedang naik. Dalam Key Discussion terkini, pemerintah mengambil inisiatif menggerakkan aparat penegak hukum untuk melacak dugaan penyimpangan yang mungkin merugikan jutaan petani sawit di Indonesia.

Mentan Amran Soroti Anomali Harga TBS

“Ah ini menarik. TBS ini TBS, kami atas arahan Bapak Presiden, kami ditelepon beliau, disampaikan ‘Pak Mentan kenapa terjadi penurunan?’ Saya katakan kepada beliau ini anomali,” ujar Andi Amran Sulaiman usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).

Amran menyatakan bahwa Key Discussion ini muncul setelah ditemukan ketidaksesuaian antara pergerakan harga TBS dan kondisi pasar global. Meski harga CPO dunia naik dan dolar AS menguat, harga TBS justru turun drastis, menciptakan ketidakseimbangan yang mengkhawatirkan. “Ini menjadi indikasi bahwa ada faktor lain yang memengaruhi pergerakan harga di tingkat petani,” tambahnya.

Langkah Kolaborasi dengan Kapolri

“Dengan harga CPO dunia naik, dolar menguat kurang lebih 10 persen, tetapi harga TBS justru turun. Ini tidak masuk akal, sama seperti kejadiannya dengan minyak goreng,” tegas Amran.

Sebagai respons, Kementerian Pertanian memutuskan untuk mengirimkan surat ke Kapolri agar penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan yang belum menyesuaikan harga TBS bisa dilakukan secara lebih intensif. “Kami langsung mengirim surat ke Pak Kapolri dan menghubungi Kapolda di berbagai wilayah serta Dirkrimsus,” jelas Amran, menegaskan bahwa tindakan ini dimaksudkan untuk memastikan tidak ada kebocoran dalam rantai pasokan.

Analisis Ekonomi dan Dampak pada Petani

“Dalam Key Discussion terkini, kami juga memperhatikan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi harga TBS. Kami yakin ada kepentingan tertentu yang menggerakkan perubahan ini,” lanjut Amran.

Menurut Amran, penurunan harga TBS tidak hanya terjadi karena faktor pasokan, tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan yang kurang sinkron antara produsen dan pengolah. Dengan situasi seperti ini, petani sawit mengalami tekanan besar, terutama di tengah kebutuhan mereka untuk meningkatkan pendapatan. “Kami menilai ini sebagai anomali yang perlu ditangani secara cepat,” tuturnya.

Progres Intervensi dan Target Pemulihan

“Dari 1.900 pabrik kelapa sawit, sebanyak 700-an perusahaan sudah menaikkan harga TBS. Tinggal 100-an perusahaan yang belum mengikuti perubahan ini,” ujar Amran.

Menurut data yang disampaikan, dampak dari Key Discussion ini mulai terlihat. Harga TBS yang sebelumnya anjlok kini sudah mendekati titik normal, dengan 90 persen perusahaan melaksanakan penyesuaian. “Dalam Key Discussion terakhir, kami bersama dengan pihak terkait berharap proses ini segera selesai dan harga stabil kembali,” pungkasnya.

Strategi Jangka Panjang untuk Stabilitas Harga

“Kami optimistis dalam Key Discussion ini, harga TBS akan pulih sepenuhnya dalam waktu dekat. Langkah strategis kami adalah mengintegrasikan industri sawit melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI),” kata Amran.

Dalam upaya jangka panjang, Kementerian Pertanian berencana menerapkan skema DSI untuk memperkuat tata kelola sektor sawit. Skema ini diharapkan dapat menjamin kestabilan harga TBS dan mencegah fluktuasi yang merugikan petani. “Dengan DSI, kita bisa memastikan bahwa kebijakan ini berjalan dengan transparan dan memperhatikan kepentingan para produsen,” tambahnya.

Perspektif Ekspor dan Pasar Global

“Kami juga mempertimbangkan dampak dari Key Discussion ini terhadap ekspor. Harga CPO yang naik seharusnya bisa mendorong permintaan internasional, tetapi kondisi TBS yang anjlok membuat kita harus segera bertindak,” ujar Amran.

Menurut Amran, penyesuaian harga TBS menjadi krusial untuk menjaga daya saing industri sawit Indonesia di pasar global. Dengan harga CPO yang naik, ekspor minyak goreng dan produk turunannya seharusnya meningkat, tetapi harga TBS yang rendah justru menghambat kemajuan ini. “Kami akan terus memantau kondisi ini untuk memastikan keberlanjutan ekonomi petani dan sektor sawit,” pungkasnya.

Dalam rangka menegaskan komitmen pemerintah, Key Discussion ini menjadi titik awal dari upaya penyelesaian anomali harga TBS. Dengan penyesuaian harga yang terus berjalan, serta penerapan skema DSI, harapan besar dibawa untuk menjaga kesejahteraan para petani dan memastikan industri sawit tetap stabil di tengah tantangan ekonomi global. “Ini adalah bagian dari Key Discussion yang kami lakukan untuk memperkuat ekosistem pertanian Indonesia,” tutup Amran.

Ikut berdiskusi