Key Strategy: Dukung Konversi LPG ke CNG, Asosiasi Energi Jatim Desak Pemerintah Utamakan Keselamatan Sebelum Implementasi
Dukung Konversi LPG ke CNG, Asosiasi Energi Jatim Desak Pemerintah Utamakan Keselamatan Sebelum Implementasi Key Strategy - Surabaya, 26 Juni 2026 – Dalam
Dukung Konversi LPG ke CNG, Asosiasi Energi Jatim Desak Pemerintah Utamakan Keselamatan Sebelum Implementasi
Key Strategy –
Surabaya, 26 Juni 2026 – Dalam deklarasi resmi yang disampaikan kepada media, Asosiasi Persatuan Energi Jatim (APEJ) mengusulkan key strategy untuk mempercepat transisi dari penggunaan LPG ke CNG. Organisasi ini menekankan bahwa sebelum pemerintah meluncurkan program konversi, keamanan penggunaan bahan bakar alternatif tersebut harus menjadi prioritas utama. Dalam deklarasi, mereka menyatakan bahwa proyek konversi ini memiliki potensi besar untuk mengurangi risiko kebakaran dan polusi udara, tetapi keberhasilan implementasinya bergantung pada pengawasan ketat terhadap keamanan operasional dan kesiapan infrastruktur.
Analisis Risiko dan Dukungan untuk Transisi Energi
Key Strategy dalam peningkatan keselamatan menjadi fokus utama dalam deklarasi APEJ. Mereka mengkritik langkah-langkah pemerintah yang terkesan terburu-buru dalam mendorong konversi LPG ke CNG tanpa melakukan riset mendalam mengenai dampaknya. Menurut perwakilan APEJ, perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap skema konversi yang saat ini diusulkan, terutama mengenai penggunaan alat bantu konversi (CBU) dan keselarasan dengan standar keselamatan nasional. “Kami mendukung key strategy ini, tetapi pemerintah harus memastikan bahwa setiap tahapan dilakukan secara bertahap dan terukur,” ujar salah satu anggota organisasi.
Langkah Pemerintah dan Peran Industri Energi
Key Strategy dalam mengelola transisi energi ini diharapkan dapat diimplementasikan melalui kolaborasi antara pemerintah dan sektor industri. APEJ menyoroti bahwa pihaknya telah menyusun rekomendasi teknis untuk memperkuat keamanan CNG dalam penggunaannya, termasuk peningkatan kapasitas fasilitas pengisian dan pelatihan operator. Mereka juga menyarankan pemerintah untuk menetapkan kriteria kelayakan konversi berdasarkan kondisi infrastruktur daerah masing-masing, agar tidak ada wilayah yang terabaikan dalam proses ini.
Dalam deklarasi mereka, APEJ menekankan bahwa keberhasilan konversi LPG ke CNG tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dan pengawasan terhadap penerapannya. Mereka menyarankan pemerintah untuk melibatkan pihak-pihak terkait, seperti badan pengawas keselamatan industri, dalam setiap tahap pengambilan keputusan. “Key strategy yang kami usulkan adalah kombinasi antara kebijakan yang jelas, investasi pada infrastruktur, dan edukasi kepada masyarakat,” jelas perwakilan APEJ.
“Kami percaya bahwa keamanan harus menjadi prioritas utama sebelum program konversi dijalankan secara luas. Dengan key strategy yang tepat, transisi ini tidak hanya efisien tetapi juga aman,” tutur Direktur APEJ, Arief Setiawan.
Key Strategy ini juga diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi kemungkinan adopsi teknologi lainnya, seperti bio-CNG atau LPG ramah lingkungan, sebagai alternatif jangka panjang. APEJ menilai bahwa keberhasilan konversi energi tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan dan ekonomi. Mereka menegaskan bahwa pemerintah perlu mengupayakan kebijakan yang berkelanjutan, dengan memastikan bahwa seluruh proses konversi diawasi secara profesional dan transparan.
Key Strategy yang diusung APEJ mencakup tiga aspek utama: analisis risiko, perencanaan infrastruktur, dan edukasi pengguna. Mereka menyarankan penggunaan teknologi pengawasan terkini untuk meminimalkan risiko kecelakaan dalam penggunaan CNG. Selain itu, pihak APEJ juga menawarkan bantuan teknis kepada masyarakat yang ingin beralih ke CNG, termasuk pelatihan penggunaan alat dan peninjauan kelayakan teknis di setiap desa. “Dengan key strategy yang terpadu, kita bisa menghindari kekacauan dalam proses konversi,” tambah Arief.
