Visit Agenda: Videonya Viral, Kenapa Santri Korban Pembakaran yang Hendak ke Podcast Denny Sumargo Dicegat Polisi di Bandara?
ra Saat Hendak ke Podcast Denny Sumargo Visit Agenda memicu perdebatan publik saat video kejadian santri korban pembakaran dicegat polisi di Bandara
Visit Agenda: Santri Korban Pembakaran Dicegat di Bandara Saat Hendak ke Podcast Denny Sumargo
Visit Agenda memicu perdebatan publik saat video kejadian santri korban pembakaran dicegat polisi di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (BIZAM), Lombok. Insiden ini menimpa Ahmad Deven Ramdan (14) dan Sahid Al Hudri (14), dua remaja yang menjadi korban pembakaran oleh senior di Pondok Pesantren (Ponpes) Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka berencana menghadiri undangan podcast Denny Sumargo, tetapi perjalanan mereka terhenti di bandara saat dicegat oleh pihak kepolisian.
Perjalanan ke Jakarta yang Terhambat
Deven dan Sahid, yang masih menjalani pemulihan pasca-pembakaran, harus menghadapi kendala logistik di BIZAM. Keluarga mereka telah menyiapkan keberangkatan ke Jakarta untuk mengikuti acara podcast Denny Sumargo, sebuah platform populer yang sering membahas isu-isu sosial dan politik. Namun, sebelum mereka bisa naik ke pesawat, polisi menghentikan rencana tersebut dengan alasan yang belum jelas.
Denny Sumargo, yang membidangi podcast tersebut, mencurigai tindakan pencegatan tersebut. Ia segera menghubungi pengacara korban untuk memahami konteks. “Gue mau update nih. Barusan gua habis ngobrol sama pengacara yang mendampingi pihak korban,” kata Densu, sapaan akrab Denny, dalam video Instagram yang diunggah pada Kamis (9/7/2026).
Pencegatan dan Alasan yang Diduga
Menurut pengacara yang diwakili korban, kepolisian menghentikan keberangkatan santri karena kondisi kesehatan mereka yang masih rentan. “Mereka belum diizinkan berangkat karena korban sedang menjalani penanganan dan pengobatan di rumah sakit setempat,” jelas Densu dalam penjelasan yang disampaikan melalui video. Fakta ini memicu tuntutan publik untuk transparansi lebih besar terkait alasan pencegatan di bandara.
“Menurut keterangan yang gua dapat dari pengacara mendampingi korban, mereka belum diizinkan berangkat karena korban sedang menjalani penanganan dan pengobatan di rumah sakit setempat,”
Kasus pembakaran yang mengenaskan ini terjadi pada Juni 2026, di mana Deven dan Sahid menderita luka serius akibat serangan dari senior mereka. Perawatan medis dilakukan di RSUD Praya sebelum mereka dipindahkan ke RS Bhayangkara Mataram. Meski kondisi kesehatan mereka telah membaik, kepolisian tetap memperketat pengawasan, menurut sumber terpercaya.
Kendala dari pihak kepolisian ini memicu reaksi dari warga masyarakat. Banyak netizen mengkritik tindakan tersebut, menilai bahwa keberangkatan ke Jakarta untuk menjelaskan fakta-fakta terkait kasus pembakaran merupakan langkah yang wajar. “Visit Agenda justru bisa menjadi momentum untuk menyampaikan kebenaran,” tulis seorang warganet dalam komentar di media sosial. Namun, pihak polisi membela bahwa pengawasan diperlukan untuk mencegah terjadinya peristiwa yang mungkin memicu konflik di luar daerah.
Konteks dan Tanggapan Publik
Video yang viral ini menjadi sorotan karena menunjukkan proses penyelidikan yang masih berlangsung. Visit Agenda, sebagai platform yang berperan dalam membawa isu ke ruang publik, dianggap bisa menjadi jembatan untuk menyelesaikan masalah ini secara transparan. Beberapa organisasi kemanusiaan juga mengkritik kepolisian, menyebutkan bahwa penahanan santri di bandara terkesan menghambat upaya investigasi.
Di sisi lain, para santri dan keluarga berharap kepolisian bisa memberikan penjelasan yang jelas. “Kami hanya ingin menjelaskan kebenaran dan mendapatkan dukungan dari publik,” ujar salah satu anggota keluarga Deven. Keterlibatan Visit Agenda dalam kasus ini juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap media sebagai penyeimbang informasi di tengah kejadian yang memicu perdebatan.
Kasus ini tidak hanya menjadi pembicaraan di media sosial, tetapi juga memperhatikan peran Visit Agenda dalam mengupas isu-isu kontroversial. Denny Sumargo, sebagai salah satu pendiri platform ini, terus menekankan pentingnya keadilan dan transparansi dalam mengungkap kejadian pembakaran yang menimpa santri. Dengan keberadaan Visit Agenda, harapan masyarakat untuk menyelesaikan konflik ini menjadi lebih nyata.
