Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Trend

Dulu Pernah Selamat dari Tsunami Banten 2018 – Survivor ini Kembali Ingatkan Betapa Seramnya Gunung Anak Krakatau

Elizabeth Jones - beritanara.com 3 mins baca

a Gunung Anak Krakatau Dulu Pernah Selamat dari Tsunami Banten 2018, Prita Maulina, seorang ibu yang pernah mengalami bencana besar, kembali memperingatkan

Dulu Pernah Selamat dari Tsunami Banten 2018 – Survivor ini Kembali Ingatkan Betapa Seramnya Gunung Anak Krakatau

Survivor Tsunami Banten 2018 Kembali Ingatkan Bahaya Gunung Anak Krakatau

Dulu Pernah Selamat dari Tsunami Banten 2018, Prita Maulina, seorang ibu yang pernah mengalami bencana besar, kembali memperingatkan masyarakat akan ancaman Gunung Anak Krakatau. Prita, yang sebelumnya menjadi korban tsunami dan kehilangan keluarga, menyoroti bagaimana pengalaman pahit tersebut membangkitkan kecemasan terhadap aktivitas vulkanik. Dengan mengunggah kisahnya di media sosial, ia berharap kesadaran tentang bahaya letusan Anak Krakatau bisa lebih diperkuat, terutama bagi warga pesisir dan pengunjung yang sering berkunjung ke area rawan bencana.

Pengalaman Pahit di Kaki Gunung Anak Krakatau

Prita Maulina mengingatkan kembali kejadian 22 Desember 2018, saat gelombang tsunami yang dipicu letusan Gunung Anak Krakatau menghancurkan kehidupan banyak orang. Menurut keterangan yang ia bagikan, momen itu memulai dari peringatan darurat yang dikeluarkan PVMBG, namun banyak warga masih bersikap santai. “Saya masih ingat betapa cepatnya gelombang datang, bahkan sebelum terdengar suara deru air,” katanya dalam unggahan Threads. Pengalaman tersebut tidak hanya mengubah hidup Prita, tetapi juga menjadi pengingat bagi banyak orang tentang betapa tidak terduga dan mengerikan peristiwa alam.

“Korban tsunami Banten-Lampung 2018 terus ada di hati saya. Bencana itu mengajarkan bahwa kita harus selalu siap, terutama di wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau.” – Prita Maulina

Kisah Prita mencuri perhatian karena ia menggambarkan proses penyelamatan yang penuh rintangan. Dalam cuitannya, ia menceritakan bagaimana keputusan untuk melompat ke samudera menjadi pilihan terakhir demi menyelamatkan bayi dan dua ART yang juga berada di dalam rumah. Prita membagikan rekaman video dan foto yang menunjukkan keadaan setelah tsunami melalap kota. Meski sempat berharap semua orang bisa selamat, nyataanya hanya 18 dari 25 orang yang berhasil bertahan hidup.

Peringatan Terkini: Status Gunung Anak Krakatau Ditingkatkan

Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik di Selat Sunda, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II menjadi Level III pada Jumat (3/7/2026). Peringatan ini memicu respons cepat dari masyarakat dan pemerintah setempat. Prita Maulina, sebagai survivor, mendukung kebijakan tersebut karena ia mengingat betapa seramnya letusan Gunung Anak Krakatau yang bisa memicu kejadian luar biasa kembali.

Menurut Prita, letusan Anak Krakatau bukan hanya mengancam kehidupan warga sekitar, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas wisata. “Kita harus waspada, terutama untuk wisatawan yang datang ke Anyer dan sekitarnya. Jika tidak siap, kejadian seperti 2018 bisa terulang,” ingatnya. Prita menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang terus diperkuat, sebab kejadian tsunami bisa terjadi dalam waktu singkat.

Peringatan dari PVMBG dan ESDM telah menarik perhatian warga setempat. Banyak penduduk Banten dan Lampung mulai mengatur ulang rutinitas sehari-hari, termasuk menghindari area pesisir saat aktivitas vulkanik meningkat. Namun, Prita mengingatkan bahwa kejadian tsunami 2018 membuktikan bahwa kita tidak boleh lengah. “Kita harus terus mengingat bahwa letusan Gunung Anak Krakatau bisa memicu peristiwa besar kapan saja,” tambahnya.

Kembali Melihat Risiko Bencana

Dalam perjalanan setelah tsunami, Prita Maulina tak hanya menjadi saksi bisu, tetapi juga menjadi pengingat bagi banyak orang. Ia menyoroti bagaimana kejadian 2018 menjadi pengingat akan ketergantungan kita pada alam. “Saya berharap pengalaman ini bisa menjadikan masyarakat lebih waspada,” kata Prita. Ia juga menambahkan bahwa kejadian tersebut adalah peringatan tentang betapa pentingnya pemantauan vulkanik dan edukasi bencana.

Prita membagikan cerita lengkapnya, termasuk perasaan takut dan kebingungan saat tsunami tiba. Ia menuturkan bahwa teriakan panik dari warga terdengar jelas, dan gelombang besar yang datang hanya dalam hitungan menit. “Bayi dan ART saya hampir tidak sempat menyelamatkan diri. Semua itu bisa berubah dalam sekejap,” katanya. Kisah ini menunjukkan betapa mudahnya kejadian alam bisa mengubah nasib seseorang dalam waktu singkat.

Menurut PVMBG, Gunung Anak Krakatau terus menunjukkan aktivitas yang meningkat. Prita, yang sekarang menjadi salah satu penyampai pesan, menekankan bahwa kejadian tsunami bukan hanya mungkin terulang, tetapi juga bisa lebih ganas. “Dulu Pernah Selamat dari Tsunami, tapi kini kita harus siap menghadapi kejadian yang mungkin lebih parah jika tidak mewaspadai tanda-tanda,” tulisnya. Pesan ini diharapkan bisa mencegah korban yang lebih besar.

Ikut berdiskusi