Soal Penembakan Pilot AMA – DPR Usul TNI Bentuk Unit Khusus Jaga Bandara Perintis di Papua
Khusus TNI Jaga Bandara Perintis di Papua Akibat Insiden Penembakan Pilot AMA Soal Penembakan Pilot AMA - Sebuah insiden penembakan yang menewaskan pilot
DPR Usulkan Unit Khusus TNI Jaga Bandara Perintis di Papua Akibat Insiden Penembakan Pilot AMA
Soal Penembakan Pilot AMA – Sebuah insiden penembakan yang menewaskan pilot warga negara Amerika Serikat (AS), Nicholas F. Goselin, pada Kamis (2/7/2026) di Lapangan Terbang Balinggama, Kabupaten Yahukimo, Papua, memicu respons cepat dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Soal penembakan pilot AMA ini menjadi sorotan utama dalam pembahasan Komisi I DPR, yang menyarankan pembentukan unit khusus dari TNI untuk mengamankan bandara perintis di wilayah Papua. Kebocoran keamanan di lapangan terbang perintis yang menjadi jantung operasional penerbangan di daerah terpencil ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap kinerja sektor aviasi Indonesia.
Latar Belakang dan Dampak Insiden Penembakan Pilot AMA
Insiden penembakan pilot AMA terjadi saat pesawat perintis yang membawa Goselin mendarat di Bandara Balinggama. Menurut laporan awal, aksi KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) menjadi penyebab kematian korban, sekaligus mengganggu operasional penerbangan di daerah tersebut. Bandara Balinggama, yang merupakan satu dari sejumlah bandara perintis di Papua, sering digunakan untuk menghubungkan daerah terpencil dengan pusat pemerintahan. Dengan kejadian ini, dikhawatirkan terjadi penurunan kepercayaan masyarakat internasional terhadap keamanan Indonesia di sektor transportasi udara.
Kebocoran keamanan di lapangan terbang perintis mencerminkan kelemahan sistem pengawasan yang saat ini diterapkan. Berdasarkan data terkini, Papua memiliki 12 bandara perintis yang menjadi akses vital bagi daerah-daerah yang sulit dicapai melalui jalan darat. Namun, kurangnya kehadiran pasukan keamanan yang siap mengantisipasi ancaman dari kelompok separatis menyebabkan risiko meningkat. Kejadian penembakan pilot AMA bukanlah yang pertama, sebab sebelumnya juga terjadi serangan serupa di beberapa bandara perintis lainnya, seperti Bandara Raimbong di Jayapura dan Bandara Sorong.
Permintaan Komisi I DPR dan Langkah TNI
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi bahan evaluasi bagi TNI dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Ia menyoroti pentingnya adanya peningkatan pengawasan di bandara perintis, terutama di wilayah Papua yang rentan terhadap gangguan keamanan. “Soal penembakan pilot AMA menunjukkan celah dalam sistem pengamanan bandara perintis. TNI harus memiliki unit khusus, seperti KOPASGAT, untuk menjaga keamanan di lapangan terbang-lapangan terbang tersebut,” kata Rizal kepada tvOnenews.com, Senin (6/7/2026).
Menurut Rizal, unit khusus dari TNI akan membantu mengurangi risiko serangan yang berpotensi mengganggu penerbangan nasional dan internasional. Ia juga menekankan perlunya kerja sama lebih erat antara TNI, Kemenhub, dan pihak terkait lainnya untuk memastikan setiap bandara perintis memiliki keamanan yang terpadu. “Dengan adanya unit khusus, kita bisa meminimalkan kejadian serupa di masa depan,” tambah Rizal. Usulan ini diharapkan bisa menjadi kebijakan baru yang lebih efektif dalam menghadapi ancaman di wilayah terpencil.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan telah menyatakan komitmen untuk memperkuat pengawasan di seluruh bandara perintis. Menteri Perhubungan, sebelumnya, menegaskan bahwa pihaknya sedang meninjau kembali strategi keamanan terkait insiden penembakan pilot AMA. Langkah ini termasuk penguatan sistem koordinasi antara pihak keamanan dan pengelola bandara, serta penambahan personel di area rentan gangguan. Meski demikian, Rizal menekankan bahwa TNI perlu terlibat secara aktif, karena ketangkasan dalam operasi di medan perang merupakan kekuatan utama mereka.
Soal penembakan pilot AMA juga menarik perhatian anggota komisi lainnya. Dalam sidang DPR, beberapa anggota menyebutkan perlunya evaluasi kesiapan pasukan pengamanan di daerah-daerah yang rawan konflik. Dengan adanya unit khusus TNI, mereka berharap proses pengawasan bisa lebih responsif terhadap ancaman yang muncul secara mendadak. Selain itu, unit tersebut diharapkan mampu memberikan pelatihan dan pengalaman langsung kepada petugas keamanan di lapangan, sehingga mengurangi risiko kesalahan penanganan.
Insiden ini juga menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam menjaga keamanan di bandara perintis. Sementara TNI bertugas sebagai pengawas utama, pemerintah daerah dan operator bandara perintis juga perlu melibatkan diri dalam mengoptimalkan sistem pengamanan. Dengan adanya kerja sama yang lebih baik, diharapkan kejadian seperti penembakan pilot AMA bisa diminimalkan, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap kemampuan Indonesia dalam mengelola sektor penerbangan. Langkah-langkah ini menjadi bagian dari upaya menyelamatkan citra Indonesia di mata dunia, terutama di tengah tantangan keamanan yang semakin kompleks.
