Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Reaksi Keras Hotman Paris usai Orang Tua Santri Korban Dibakar Senior di Pesantren Menjerit Cari Keadilan

Michael Johnson - beritanara.com 4 mins baca

Hotman Paris Reaksi Keras Usai Pembakaran Santri di Pesantren Reaksi Keras Hotman Paris usai Orang - Reaksi Keras Hotman Paris Usai Pembakaran Santri di

Reaksi Keras Hotman Paris usai Orang Tua Santri Korban Dibakar Senior di Pesantren Menjerit Cari Keadilan

Hotman Paris Reaksi Keras Usai Pembakaran Santri di Pesantren

Reaksi Keras Hotman Paris usai Orang – Reaksi Keras Hotman Paris Usai Pembakaran Santri di Pesantren menjadi sorotan utama setelah tiga santri menjadi korban kejadian tragis di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pengacara kondang ini langsung mengambil tindakan tajam setelah menerima laporan dari orang tua korban yang menuntut investigasi lebih lanjut. Menurut Hotman, kasus ini tidak hanya memicu kekecewaan keluarga, tetapi juga menimbulkan kecaman publik yang besar karena dianggap tidak adil.

Kasus Terungkap Lebih dari Enam Bulan Pasca Insiden

Hotman Paris mengungkap bahwa insiden pembakaran terjadi pada 13 Desember 2025, namun hingga saat ini pelaku masih belum ditangkap. Ia menyoroti fakta ini dalam unggahan Instagramnya, Rabu (8/7/2026), dengan menulis, “Para pelaku belum ditangkap! Halo Kapolda?,” sebagai respons tajam terhadap keterlambatan proses hukum. Keluarga korban baru memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Lombok Tengah pada 3 Juni 2026, setelah merasa keadilan tidak tercapai selama lebih dari enam bulan.

“Kasus ini sudah terjadi lebih dari enam bulan, tetapi aparat setempat belum memberikan jawaban yang jelas. Masyarakat menjerit cari keadilan,” tulis Hotman Paris dalam caption Instagramnya.

Dalam pernyataannya, Hotman mengkritik proses investigasi yang dianggap lambat dan tidak transparan. Ia meminta Komisi III DPR RI untuk segera mengambil peran dalam kasus ini, dengan mengirim tim untuk memeriksa kejelasan bukti dan alat bukti yang dimiliki kepolisian. “Kami ingin tahu apakah kasus ini benar-benar diusut secara tuntas atau hanya sekadar formality,” tegasnya.

Korban Luka Bakar Berat, Sahril Sobirin Meninggal Dunia

Detil luka bakar tiga santri tersebut menjadi perhatian khusus. Sahid Al Hudri, salah satu korban, mengalami luka bakar sedang hingga parah dengan persentase luas bakar sekitar 30-40%. Sementara itu, Sahril Sobirin, korban yang paling parah, mengalami luka bakar 60-70% dan meninggal dunia pada Februari 2026, tepat sebelum Ramadhan 1447 H. Ahmad Devin Ramadhan, korban ketiga, menderita luka bakar 20-30% dan masih dalam pemulihan.

Hotman Paris menyebut bahwa informasi tentang kronologi kejadian diperoleh dari pengakuan para korban dan saksi mata. Ia menegaskan bahwa tindakan aparat kepolisian diduga menghalangi upaya keluarga mencari keadilan, baik secara verbal maupun tindakan nyata. “Keluarga korban sudah menunggu lebih dari setahun, tetapi hingga kini belum ada kepastian siapa pelaku dan apa motifnya,” jelasnya.

Respons Publik dan Dukungan untuk Investigasi

Reaksi Keras Hotman Paris Usai Pembakaran Santri di Pesantren memicu respons luas dari masyarakat dan media. Banyak warganet menyoroti perlunya kejelasan dalam kasus ini, sementara keluarga korban meminta penegakan hukum yang tegas. “Masyarakat menjerit cari keadilan, dan itu harus didengar oleh pihak berwajib,” tulis salah satu netizen dalam komentar di unggahan Hotman.

Hotman juga meminta agar kepolisian tidak hanya menangani kasus ini sebagai laporan biasa, tetapi memperlakukan seperti kasus yang serius. Ia menekankan bahwa tindakan pembakaran di pesantren bisa mengancam kemanusiaan dan hak-hak anak. “Ini bukan sekadar kecelakaan, tetapi tindakan kekerasan yang terencana. Harus ada penyelidikan menyeluruh,” imbuhnya.

Kepolisian Diminta Mempercepat Proses

Hotman Paris menggandeng Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) NTB dalam upaya mempercepat proses penyelidikan. Ia menilai aparat kepolisian perlu menunjukkan komitmen serius dalam menuntut para pelaku pembakaran. “Jika pelaku tidak ditangkap, maka keadilan tidak akan tercapai. Masyarakat menjerit cari keadilan, dan itu harus didengar,” ujarnya.

Dalam upayanya memastikan kejelasan, Hotman Paris menyebut bahwa kepolisian perlu memperlihatkan bukti-bukti yang mereka miliki. Ia menambahkan bahwa beberapa saksi mata yang diperlukan untuk mengungkap kejadian tersebut belum dimintai keterangan. “Ini adalah kesempatan bagi aparat kepolisian untuk menunjukkan profesionalisme mereka,” tegasnya.

Keluarga Korban Tunggu Jawaban dari Pihak Berwajib

Reaksi Keras Hotman Paris Usai Pembakaran Santri di Pesantren juga menjadi dorongan bagi keluarga korban untuk tidak menyerah. Mereka terus memantau proses penyelidikan dan berharap ada tindakan konkret dari kepolisian. “Keluarga tidak akan berhenti menuntut keadilan sampai pelaku ditangkap,” kata salah satu anggota keluarga korban dalam wawancara media.

Di sisi lain, Hotman Paris berharap kasus ini menjadi contoh bagaimana pentingnya keadilan dalam setiap institusi. “Kasus pembakaran di pesantren harus menjadi pelajaran bagi semua pihak agar tidak ada lagi kejadian serupa. Kita menjerit cari keadilan, dan itu harus direspons dengan baik,” pungkasnya.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, proses investigasi diharapkan bisa berjalan lancar dan transparan. Hotman Paris juga meminta agar pihak terkait tidak hanya fokus pada pelaku utama, tetapi juga mengecek apakah ada kebijakan atau aturan di pesantren yang tidak memenuhi standar keselamatan dan perlindungan anak. “Ini bukan hanya tentang satu insiden, tapi tentang sistem yang mengijinkan kejadian seperti ini terjadi,” tegasnya.

Ikut berdiskusi