Special Plan: Terus Gempur Lebanon karena Tak Punya perjanjian, Pakar Strategi PPAU Nilai Israel Geer akan Dimanjakan AS
rael Terus Menggempur Lebanon, AS Tak Berdaya Special Plan - Dalam konteks konflik yang terus berlangsung antara Israel dan Lebanon, Rencana Khusus (Special
Special Plan: Israel Terus Menggempur Lebanon, AS Tak Berdaya
Special Plan – Dalam konteks konflik yang terus berlangsung antara Israel dan Lebanon, Rencana Khusus (Special Plan) menjadi topik yang hangat dibicarakan. Ahli strategi dari Pusat Studi Kebijakan Asia Timur (PPAU), Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, mengungkapkan bahwa Israel terus melakukan serangan ke wilayah Lebanon karena belum ada perjanjian resmi antara AS dan Israel. “Special Plan ini menunjukkan bahwa AS lebih memprioritaskan dukungan terhadap Israel daripada menegakkan kesepakatan dengan Iran,” jelas Agung dalam wawancara terbaru.
Latar Belakang Rencana Khusus
Rencana Khusus yang diusung AS dan Israel menimbulkan polemik di kalangan pakar. Dalam perjanjian yang diumumkan, AS dan Iran sepakat menghentikan operasi militer dari semua pihak. Namun, Israel tetap bergerak agresif, terutama di wilayah selatan Lebanon, yang dianggap sebagai bagian penting dari wilayah kontrol mereka. “Special Plan ini memperlihatkan ketidaksepahaman antara AS dan Iran dalam memastikan keamanan Lebanon,” tambah Agung.
Keputusan Netanyahu untuk tidak menghentikan serangan ke Beirut menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan perpecahan dalam aliansi AS-Israel. Menurut analisis, Israel merasa diuntungkan karena AS tidak menegakkan perjanjian secara konsisten. “Special Plan ini bisa menjadi jalan untuk mengembangkan strategi jangka panjang AS dalam memperkuat hubungan dengan Israel,” ujarnya.
Analisis Ahli Strategi
Agung Sasongkojati menyoroti bahwa absence perjanjian antara AS dan Israel membuat pihak pertama merasa bebas mengambil kebijakan sendiri. “Special Plan ini tidak hanya menggambarkan strategi militer, tetapi juga refleksi hubungan politik yang kompleks antara dua negara,” jelasnya. Ia menekankan bahwa situasi ini bisa memperparah tekanan pada Lebanon, yang masih menjadi korban utama dari serangan Israel.
Dalam perjanjian yang ditandatangani, AS diwajibkan menarik pasukan militer dari wilayah Lebanon. Namun, dengan Special Plan, AS tampaknya memperluas area operasi Israel. “Special Plan ini memberi ruang bagi Israel untuk terus mengejar tujuan strategisnya tanpa batasan, sementara Iran menunggu hasil dari kesepakatan mereka,” ujar Agung dalam program Apa Kabar Indonesia tvOne, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, tindakan Israel yang tetap agresif bisa memicu perubahan pendirian AS terhadap Iran. “Special Plan ini menjadi pemicu penting bagi AS untuk menegakkan kekuasaan mereka di Timur Tengah, termasuk dalam mengamankan kepentingan militer Israel,” terangnya. Ia juga mengingatkan bahwa Lebanon, yang selama ini menjadi mediator, kini berada dalam posisi yang sangat rentan.
