Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Internasional

Latest Program: Gegara Kembali Serang Iran Terus-Menerus, Benarkah AS Alami Kerugian Besar? Begini Penjelasan Pengamat HI

Susan Moore - beritanara.com 2 mins baca

Kerugian Besar Akibat Serangan Berulang ke Iran? Latest Program – Serangan berulang AS terhadap Iran memicu kecaman dan pertanyaan tentang dampak strategis

Latest Program: Gegara Kembali Serang Iran Terus-Menerus, Benarkah AS Alami Kerugian Besar? Begini Penjelasan Pengamat HI

Latest Program: AS Mengalami Kerugian Besar Akibat Serangan Berulang ke Iran?

Latest Program – Serangan berulang AS terhadap Iran memicu kecaman dan pertanyaan tentang dampak strategis yang diakui oleh negara-negara Timur Tengah. Dalam lima hari terakhir, pasukan AS dilaporkan menyerang fasilitas militer Iran di beberapa lokasi, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Tindakan ini menggambarkan perang gerilya yang semakin intens, dengan AS mengalami kerugian yang dianggap signifikan oleh para pengamat.

Strategi Militer AS dan Target Serangan

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengungkapkan bahwa rangkaian serangan ini bertujuan untuk mengurangi kapasitas Iran dalam menegakkan keamanan di wilayah Teluk. Target utama meliputi pangkalan udara, sistem radar, dan fasilitas penyimpanan bahan bakar militer Iran. Serangan-serangan ini terjadi secara berkelanjutan, menunjukkan upaya AS untuk mengganggu operasi militer Iran secara permanen.

Dilansir Anadolu Agency, Sabtu (18/7/2026), Iran menganggap serangan AS sebagai bentuk balasan atas ancaman yang terus-menerus dari negara-negara sekutu AS, seperti Arab Saudi. Para pengamat menyoroti bahwa langkah AS ini bertujuan memperkuat dominasi militer di kawasan, sementara Iran mencoba membangun kemampuan pertahanan melalui serangan gerilya.

Analisis Pengamat: Kerugian AS dalam Konflik Regional

Ahli hubungan internasional (HI), Tia Mariatul Kiptia, memberikan penjelasan mengenai dampak serangan Iran terhadap AS. Menurutnya, AS mengalami kerugian besar, terutama dalam hal infrastruktur militer dan kepercayaan di kawasan Timur Tengah. “Saya terkejut karena yang saya kira diserang adalah Arab Saudi, negara terbesar di kawasan. Ternyata korban utama adalah negara lain,” ungkap Tia saat diwawancara dalam program Breaking News tvOne, Jumat (17/7/2026).

Tia menekankan bahwa serangan Iran menunjukkan keberhasilan strategi untuk menghancurkan kapasitas AS di wilayah tersebut. Dengan menyerang negara-negara kecil yang bergantung pada bantuan militer AS, Iran berusaha mengurangi ketergantungan negara-negara sekutu dari AS. “Ini menjadi strategi untuk menekan AS secara terus-menerus, baik secara ekonomi maupun militer,” tambahnya.

Di Kuwait, militer Iran menargetkan pangkalan udara Ali Al Salem, menghancurkan infrastruktur radar dan pertahanan udara. Di Bahrain, rudal serta drone Iran menghujam pangkalan Sheikh Isa, sementara Yordania menjadi sasaran rudal balistik yang diluncurkan ke Muwaffaq Salti. Serangan-serangan ini tidak hanya merugikan Iran, tetapi juga mengganggu operasi militer AS di kawasan tersebut.

Para pengamat menilai bahwa serangan berulang ke Iran mengisyaratkan perang gerilya yang berkelanjutan, dengan AS berusaha mengurangi kekuatan Iran di Timur Tengah. Meski AS mengklaim mendominasi dalam konflik, kerugian yang terjadi menunjukkan bahwa Iran tetap menjadi ancaman yang signifikan bagi kestabilan kawasan. “Ini menunjukkan bahwa AS tidak lagi sepenuhnya menguasai situasi, dan Iran mampu merespons secara strategis,” kata Tia.

Ikut berdiskusi