Dedi Mulyadi: Pohon di Gasibu Hilang Karena Halaman Gedung Sate Ditata
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan klarifikasi resmi mengenai hilangnya sejumlah pohon di kawasan Lapangan Gasibu, Kota Bandung. Menurut Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi Jelaskan Alasan Pohon di Gasibu Hilang Akibat Penataan Halaman Gedung Sate
Beritanara.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan klarifikasi resmi mengenai hilangnya sejumlah pohon di kawasan Lapangan Gasibu, Kota Bandung. Menurut Dedi Mulyadi, vegetasi berupa pohon Angsana kecil yang sebelumnya berdiri di area tersebut memang sengaja dipindahkan. Penghapusan ini dilakukan sebagai bagian dari proyek penataan ulang halaman Gedung Sate yang bertujuan menciptakan lingkungan lebih produktif dan berkelanjutan secara ekologis.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pohon-pohon yang hilang merupakan jenis pohon kecil, bukan pohon besar. Pohon Angsana yang ada digantikan oleh pohon Asem Jawa yang memiliki kemampuan lebih baik dalam mendukung ekosistem perkotaan.
"Oh iya (terdampak), pohonnya pohon kecil, bukan pohon besar ya. Pohonnya, pohon Angsana dan diganti dengan pohon yang lebih banyak lagi dan sudah ditanam dan sudah tumbuh. Jadi satu pohon diganti oleh 50 pohon. Silakan dicek tuh pohonnya sudah hidup sekarang di belakang Gedung Sate," ujar Gubernur Jabar Dedi Mulyadi di Bandung, mengutip Antara pada Kamis.
Pertimbangan Ilmiah di Balik Penggantian Pohon Angsana
Dedi Mulyadi memaparkan bahwa pemindahan pohon Angsana dari ruang publik tepi jalan didasari oleh pertimbangan ilmiah yang kuat terkait keberlanjutan dan daya dukung ekosistem hayati. Karakter tanaman Angsana memiliki kelemahan mendasar dalam hal konservasi air serta kurang mendukung habitat fauna perkotaan jika dibandingkan dengan pohon seperti Asem Jawa.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa pohon Angsana cenderung menyerap air dari tanah, bukan menghasilkan air. Hal ini menjadi pertimbangan utama mengapa pohon tersebut perlu diganti dengan jenis yang lebih sesuai untuk kondisi lingkungan perkotaan modern.
"Angsana itu kan pohon yang, menurut saya, malah harus diganti. Karena ketika angsana itu ada di pinggir jalan, dia tuh menyerap air bukan menghasilkan air," ujar Dedi.
Selain masalah daya serap air tanah, keberadaan angsana juga dinilainya kurang bersahabat bagi kelangsungan ekosistem keanekaragaman hayati. Khususnya sebagai tempat bersarang burung-burung liar di kawasan perkotaan yang semakin padat.
Proyek Penataan Gedung Sate: Status dan Dampaknya
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini secara masif mengalihkan fokus penanaman pada komoditas pohon peneduh yang memiliki nilai guna ekologi jangka panjang. Dedi Mulyadi menekankan bahwa perubahan ini bukan sekadar estetika, melainkan investasi hijau untuk generasi mendatang.
"Dan burung itu enggak bisa tinggal di Angsana, makanya sekarang diganti oleh kita, kita banyak tanam pohon Asem Jawa sekarang ya," tutur Dedi Mulyadi.
Sebelumnya, sejumlah pohon besar di area Lapangan Gasibu diduga turut ditebang buntut proyek penataan halaman depan Gedung Sate. Pengerjaan proyek tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Sejumlah pagar penutup proyek juga nampak masih berdiri kokoh, utamanya menutup area Jalan Diponegoro depan Gedung Sate.
Namun sebagian pengerjaan sudah ada yang bisa diakses publik, yakni jalur baru Jalan Sentot Alibasyah. Lokasi jalur tersebut ada di sisi timur Lapangan Gasibu. Dulunya Jalan itu hanya dua jalur tapi kini menjadi tiga jalur, meningkatkan kapasitas lalu lintas di kawasan tersebut.
FAQ: Pertanyaan Seputar Penataan Gasibu
Berapa banyak pohon yang digantikan di kawasan Gasibu? Menurut Dedi Mulyadi, satu pohon Angsana digantikan oleh 50 pohon baru, sehingga total penambahan pohon sangat signifikan dalam proyek ini.
Mengapa pohon Angsana dipilih untuk diganti? Pohon Angsana dinilai kurang efektif dalam konservasi air dan tidak mendukung habitat burung perkotaan sebaik pohon Asem Jawa.
Kapan proyek penataan halaman Gedung Sate selesai? Proyek masih berlangsung hingga saat ini. Pagar penutup proyek masih terpasang di area Jalan Diponegoro.
Apakah jalur baru Jalan Sentot Alibasyah sudah bisa dilalui? Ya, jalur baru yang semula dua jalur kini menjadi tiga jalur sudah bisa diakses oleh publik.
