Tips Tetap Sehat di Musim Kemarau 2026, Diprediksi Puncaknya pada Agustus Ini
Jakarta, tvOnenews.com – Warga Indonesia diimbau untuk lebih waspada terhadap musim kemarau tahun 2026. Tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dan
Mempertahankan Kesehatan Selama Musim Kemarau 2026: Panduan Lengkap
Beritanara.com – Jakarta, tvOnenews.com – Warga Indonesia diimbau untuk lebih waspada terhadap musim kemarau tahun 2026. Tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dan kondisi keringnya terasa lebih intens dari biasanya.
Fenomena El Niño yang Mempengaruhi Cuaca
Kehadiran El Niño di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, menjadi faktor utama perubahan cuaca. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas rata-rata normal yang terjadi di Samudra Pasifik ini menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan. Akibatnya, musim kemarau meluas dan potensi kekeringan semakin besar.
Berdasarkan data dari BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada Agustus 2026. Saat itu, sebanyak 369 ZOM atau setara dengan 48,84% wilayah daratan Indonesia akan mengalami kondisi puncak kemarau.
Jika dibandingkan dengan kondisi klimatologis normal, puncak musim kemarau di Indonesia biasanya mencapai 377 ZOM atau 38,15% luas daratan. Angka ini menunjukkan bahwa tahun 2026 akan lebih kering dari rata-rata.
Prediksi BMKG tentang Intensitas El Niño
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa El Niño tahun ini memiliki intensitas yang perlu diwaspadai. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan terasa lebih menyengat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan dalam pernyataan pada April 2026 bahwa meskipun saat ini kondisi masih berada pada fase netral, indikasi penguatan menuju El Niño sudah mulai terlihat. Peluang kemunculannya diprediksi mencapai 80% pada semester kedua tahun 2026.
“Kita perlu mewaspadai bukan hanya suhunya yang tinggi, tetapi juga efek ganda yang ditimbulkan. Ketika El Niño bertemu dengan siklus kemarau rutin, curah hujan akan merosot drastis,” ujar Teuku Faisal Fathani.
Dampak Ganda dan Risiko Kesehatan
Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta pencemaran debu halus yang dapat mengganggu kualitas udara yang kita hirup setiap hari.
Berdasarkan protokol kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI, ada beberapa risiko utama yang harus diwaspadai saat musim kemarau:
Dehidrasi Berat dan Heatstroke: Kehilangan cairan tubuh secara cepat dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga pingsan secara tiba-tiba.
Masalah Pernapasan (ISPA): Udara kering membawa lebih banyak debu dan polutan yang mengiritasi paru-paru.
Diare dan Tipus: Kekeringan sering kali berdampak pada penurunan kualitas air bersih, sehingga risiko penyakit saluran pencernaan meningkat.
Serangan Nyamuk: Uniknya, saat kemarau panjang, nyamuk DBD justru bisa menjadi lebih ganas karena siklus hidup mereka yang terpengaruh oleh suhu udara yang panas.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk menjaga hidrasi tubuh, menggunakan masker saat bepergian, memastikan kualitas air minum, dan melakukan pencegahan nyamuk secara rutin selama musim kemarau 2026.
