Kepala BGN Nanik S. Deyang Mundur karena Penyakit Jantung, Kenali 3 Gejala Awal yang Tak Boleh Diabaikan
Kepala BGN Nanik S Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatannya setelah diagnosis penyakit jantung. Pengumuman pengunduran diri ini disampaikan pada hari
Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur: 3 Gejala Jantung yang Wajib Diwaspadai
Beritanara.com – Kepala BGN Nanik S Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatannya setelah diagnosis penyakit jantung. Pengumuman pengunduran diri ini disampaikan pada hari Rabu, 22 Juli 2026, yang menandai berakhirnya masa kepemimpinan beliau di Badan Gizi Nasional. Keputusan ini diambil berdasarkan kondisi kesehatan jantung yang memerlukan penanganan intensif. Para pakar kesehatan menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal penyakit jantung agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Nanik S. Deyang telah memimpin BGN selama periode sekitar 45 hari sejak pelantikan pada Juni 2026. Meskipun masa jabatannya relatif singkat, beliau telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas-tugas organisasi. Setelah pengunduran diri, Presiden Prabowo Subianto memberikan persetujuan dan berencana menunjuk Nanik sebagai Ketua Dewan Pengawas BGN. Beliau juga berencana menjalani terapi medis untuk penyakit jantung di luar negeri untuk mendapatkan perawatan yang lebih optimal.
Mengenal Tanda-Tanda Awal Penyakit Jantung
dr. Vito Damay, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, menjelaskan bahwa banyak masyarakat masih terlambat mendeteksi penyakit jantung. Keterlambatan ini terjadi karena kurangnya pemahaman tentang gejala-gejala yang muncul pada tahap awal penyakit. Menurut dr. Vito, penyakit jantung sering dianggap sebagai kondisi yang mematikan, namun sebenarnya dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak dini.
“Penyakit jantung sering kali dianggap penyakit yang mematikan. Tapi sayangnya orang sering kali kecolongan penyakit jantung karena enggak tahu gejala,” ujar dr. Vito Damay dalam tayangan Hidup Sehat tvOne.
Sesak napas merupakan salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan. Kondisi ini terjadi ketika kemampuan jantung dalam memompa darah menjadi tidak optimal. Akibatnya, pasokan oksigen ke seluruh tubuh juga terganggu, menyebabkan seseorang merasa kesulitan bernapas bahkan saat beraktivitas ringan. Gejala ini sering kali diabaikan karena dianggap sebagai kelelahan biasa.
Menurut dr. Vito Damay, terdapat tiga gejala utama penyakit jantung yang harus diwaspadai. Ketiga gejala tersebut adalah sesak napas, nyeri pada dada, serta jantung yang berdebar-debar. Apabila seseorang mengalami kombinasi dari ketiga gejala ini secara bersamaan atau berulang kali, maka disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan medis lebih lanjut. Tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung jika gejala-gejala ini muncul.
“Nah, itu sebaiknya segera harus kita periksakan apakah ada kelainan pada rekam listrik jantung atau EKG atau foto rontgen atau kalau misalkan perlu USG jantung atau ekokardiografi untuk memastikan segera apa sih kondisi jantung yang menyebabkan keluhan ini,” jelas dr. Vito Damay.
Sakit dada yang muncul secara berulang juga menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. Dokter merekomendasikan agar keluhan ini segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebab pastinya. Sakit dada akibat masalah jantung biasanya terasa seperti ditekan atau diremas, dan dapat menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung.
Beberapa metode diagnostik yang dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit jantung antara lain elektrokardiogram (EKG), foto rontgen dada, serta ekokardiografi. Melalui pemeriksaan-pemeriksaan ini, dokter dapat memastikan kondisi jantung pasien dengan lebih akurat dan menentukan rencana pengobatan yang tepat. EKG mencatat aktivitas listrik jantung, sementara ekokardiografi menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar jantung.
Jantung yang berdebar-debar memang bisa menjadi tanda gangguan pada organ vital tersebut. Namun, dr. Vito Damay mengingatkan bahwa tidak setiap kasus berdebar-debar menunjukkan adanya penyakit jantung yang serius. Faktor seperti stres, konsumsi kafein berlebihan, atau aktivitas fisik intens juga dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur. Penanganan dini tetap menjadi kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.
Sebagai informasi tambahan, pencegahan penyakit jantung dapat dimulai dari gaya hidup sehat. Konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, menghindari merokok, dan mengelola stres dengan baik merupakan langkah-langkah preventif yang efektif. Masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap gejala-gejala jantung dan tidak ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami keluhan yang mencurigakan.
