Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

New Policy: Airlangga Tawarkan Kolaborasi Alat Berat Listrik dengan Belarus, Target Investasi Tembus US$500 Juta

Joseph Rodriguez - beritanara.com 3 mins baca

Kolaborasi Alat Berat Listrik dengan Belarus: Airlangga Hartarto Pekanbaru Picu New Policy di Indonesia New Policy - Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan

New Policy: Airlangga Tawarkan Kolaborasi Alat Berat Listrik dengan Belarus, Target Investasi Tembus US$500 Juta

Kolaborasi Alat Berat Listrik dengan Belarus: Airlangga Hartarto Pekanbaru Picu New Policy di Indonesia

New Policy – Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan new policy baru yang menargetkan kolaborasi strategis dengan Belarus. Fokus kemitraan ini terletak pada pengembangan alat berat listrik dan bus listrik, dengan harapan mendorong investasi bilateral mencapai US$500 juta. Kebijakan ini diperkenalkan dalam Forum Bisnis Indonesia-Belarus yang diadakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026), sebagai bagian dari rencana pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri pertambangan dan transportasi.

Strategi Elektrifikasi Alat Berat

Airlangga menekankan bahwa new policy ini bertujuan meningkatkan nilai investasi melalui elektrifikasi alat berat Belarus. Ia menjelaskan bahwa Belarus memiliki kemampuan manufaktur alat berat dengan kapasitas hingga 200 ton, sementara Indonesia umumnya memproduksi alat berat dengan kapasitas 100 ton. Dengan integrasi teknologi listrik dari Indonesia, kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membuka peluang kerja sama dalam efisiensi energi.

Peran Industri Baterai dalam New Policy

“Kolaborasi ini tidak hanya tentang alat berat, tetapi juga tentang ekosistem baterai yang sedang berkembang di Indonesia. Teknologi storage baterai dalam negeri bisa menjadi pilihan ideal untuk mendukung elektrifikasi alat berat Belarus,” ujar Airlangga setelah Forum Bisnis Indonesia-Belarus.

Menurut Airlangga, new policy ini memberikan peluang bagi investor asing, termasuk Belarus, untuk bergabung dalam rangkaian pengembangan teknologi transportasi berkelanjutan. Pemerintah menargetkan investasi mencapai US$500 juta dalam empat tahun, dengan penekanan pada pengurangan emisi karbon dan penguatan sektor manufaktur. Langkah ini menjadi bagian dari visi nasional untuk transisi energi yang lebih cepat dan adopsi kebijakan berbasis listrik.

Kemitraan Bus Listrik: Fokus pada Infrastruktur Transportasi

Dalam bidang transportasi, Airlangga menyebut bahwa Indonesia telah memulai pengembangan armada bus listrik sebagai bagian dari new policy ini. Proyek ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan polusi udara dan efisiensi sistem transportasi. Ia menawarkan kerja sama dengan Belarus untuk mempercepat proses produksi dan pemasaran bus listrik di Tanah Air, dengan harapan mendorong inovasi dan keterlibatan lebih besar dalam industri.

“Kita bisa memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan infrastruktur transportasi berkelanjutan. Belarus bisa masuk dan berkontribusi dalam peningkatan kualitas transportasi di Indonesia,” tambahnya.

Sebagai bagian dari new policy, pemerintah juga membuka peluang bagi Belarus untuk berpartisipasi dalam produksi bus listrik, dengan dukungan dari ekosistem baterai yang sudah terbangun di dalam negeri. Hal ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri dan menciptakan ketergantungan yang lebih seimbang antara produksi dalam negeri dan investasi asing.

Target Investasi US$500 Juta: Strategi Masa Depan Ekonomi

Kebijakan kolaborasi dengan Belarus ini memiliki target investasi US$500 juta dalam kurun waktu empat tahun, dengan penekanan pada sektor pertambangan dan manufaktur. Kementerian Perekonomian berharap melalui new policy, kegiatan ekonomi akan lebih resilien dan berkelanjutan. Selain itu, kebijakan ini diharapkan memberikan peluang bagi pihak ketiga, seperti perusahaan-perusahaan lokal dan internasional, untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

“Kita juga menargetkan kerja sama dalam bidang pertambangan potash. Ini adalah langkah strategis dalam new policy yang akan membantu Indonesia meraih kemandirian dalam produksi pupuk NPK,” papar Airlangga.

Kemitraan dengan Belarus juga diharapkan mendorong pertukaran teknologi dan peningkatan kapasitas produksi di Indonesia. Airlangga menegaskan bahwa new policy ini merupakan bagian dari kebijakan jangka panjang yang mengarah pada pengurangan ketergantungan pada energi fosil dan peningkatan daya saing dalam industri manufaktur. Dengan dukungan dari pihak Belarus, Indonesia diharapkan mampu mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat dan berdampak positif pada lingkungan.

Ikut berdiskusi