Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

New Policy: Harga Telur dan Ayam Anjlok Karena MBG Libur, Mendag Siapkan Ekspor ke Singapura untuk Serap Surplus

Michael Johnson - beritanara.com 3 mins baca

New Policy: Harga Telur dan Ayam Turun, Mendag Ekspor ke Singapura Serap Surplus New Policy - Dalam upaya mengatasi penurunan harga telur dan daging ayam yang

New Policy: Harga Telur dan Ayam Anjlok Karena MBG Libur, Mendag Siapkan Ekspor ke Singapura untuk Serap Surplus

New Policy: Harga Telur dan Ayam Turun, Mendag Ekspor ke Singapura Serap Surplus

New Policy – Dalam upaya mengatasi penurunan harga telur dan daging ayam yang terjadi akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti selama masa libur sekolah, pemerintah mengumumkan New Policy yang menargetkan peningkatan penyerapan produk pangan berlebih melalui ekspor ke Singapura. Kementerian Perdagangan memastikan bahwa kebijakan ini akan menjadi solusi strategis untuk menghindari penurunan lebih lanjut dan menjaga keseimbangan pasokan.

Langkah Strategis untuk Stabilisasi Pasar

New Policy ini dirancang untuk memperkuat mekanisme penyerapan surplus yang terjadi di sektor pertanian, khususnya industri telur dan ayam. Dengan fokus pada ekspor ke Singapura, pemerintah berharap dapat meningkatkan permintaan dan mendorong penguatan harga, sekaligus mengurangi tekanan terhadap produsen lokal. Budi Santoso, Menteri Perdagangan, menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari upaya menyelaraskan kebutuhan pasar nasional dengan permintaan internasional.

New Policy sebagai bagian dari strategi kami untuk menyerap surplus dan menjaga stabilitas harga. Singapura menjadi salah satu pasar yang kami prioritaskan karena permintaan akan produk unggas cukup stabil,” tutur Budi saat diwawancara di Jakarta Pusat.

Contoh Nyata di Banyumas

Kasus penurunan harga di Banyumas menjadi contoh nyata dampak MBG libur. Harga telur turun 13% menjadi Rp26.000 per butir, sedangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp30.000. Demikian pula daging ayam, yang terjual dengan harga Rp36.000 per kilogram, jauh di bawah HET sebesar Rp40.000. Budi mengungkapkan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan akan kebijakan luar negeri untuk menyeimbangkan pasokan.

“Di Banyumas, kita melihat bahwa harga telur dan ayam mencapai Rp26.000 dan Rp36.000, masing-masing, yang jauh dari HET. Ini membuktikan adanya surplus dan pentingnya New Policy dalam menyelesaikan masalah ini,” jelas Budi.

Analisis Faktor Penyebab Penurunan Harga

Budi menyebutkan bahwa kebijakan MBG yang berhenti selama libur sekolah menjadi salah satu faktor utama penurunan harga. Berhentinya program ini menyebabkan permintaan berkurang, sementara produksi tetap stabil, sehingga menimbulkan keterpurukan pasokan. Selain itu, adanya kelebihan pasokan juga memperparah situasi, terutama di daerah-daerah dengan kapasitas produksi tinggi.

“MBG yang berhenti selama libur sekolah membuat penyerapan berkurang. Dengan New Policy, kami berharap bisa mengarahkan permintaan ke pasar ekspor dan memperkuat daya beli peternak,” ujarnya.

Peran Sektor Horeka dalam New Policy

Kementerian Perdagangan aktif menginisiasi komunikasi dengan sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) untuk meningkatkan penyerapan produk unggas. Budi menjelaskan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat formal ke sejumlah pelaku usaha besar untuk menarik minat pembelian. New Policy juga melibatkan negosiasi harga yang lebih kompetitif, agar produk dapat diterima di pasar internasional.

“Kita sudah menghubungi horeka untuk menyerap telur dan ayam. New Policy ini berupaya mengoptimalkan potensi ekspor, termasuk ke Singapura, untuk memperkuat ekonomi sektor pangan,” tambah Budi.

Target Ekspor dan Peluang Tercipta

Dalam New Policy, Singapura menjadi tujuan utama ekspor karena tingkat permintaan yang relatif tinggi. Pemerintah juga sedang mempersiapkan beberapa langkah untuk mempercepat proses tersebut, seperti pemutakhiran standar kualitas produk dan penguatan kemitraan dengan mitra dagang lokal. Selain itu, Budi mengungkapkan bahwa pihaknya juga mengevaluasi kemungkinan ekspor ke negara-negara lain, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, untuk diversifikasi pasar.

“Ekspor ke Singapura merupakan bagian dari New Policy kami. Kami juga sedang mengevaluasi potensi pasar lain, tetapi Singapura tetap menjadi prioritas karena permintaan yang stabil,” kata Budi.

Hasil dan Harapan New Policy

Pelaksanaan New Policy diharapkan bisa segera memberikan dampak positif terhadap harga telur dan ayam. Dengan memperluas pasar ekspor, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan pada permintaan dalam negeri yang fluktuatif. Budi optimis bahwa kebijakan ini akan memperkuat daya tahan industri pertanian dan memberikan peluang ekonomi baru bagi peternak.

Ikut berdiskusi