Skip to content
Fresh Desk
Agustus 31, 2026
Yogyakarta

Biaya Hidup Menipis Pascagempa, Mahasiswa NTT di Yogyakarta Bertahan Hidup dengan “Ngebon” Hingga Cari Nasi Gratis di Warung

Matthew Thomas - beritanara.com 2 mins baca

Gempa 7,7 magnitudo yang menghantam Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 tidak sekadar mengguncang tanah dan bangunan. Bagi para pelajar asal NTT yang

Biaya Hidup Menipis Pascagempa, Mahasiswa NTT di Yogyakarta Bertahan Hidup dengan “Ngebon” Hingga Cari Nasi Gratis di Warung

Mahasiswa NTT di Yogyakarta Kelaparan Pascagempa: Utang Makanan dan Nasi Gratis Jadi Penolong

Beritanara.com – Gempa 7,7 magnitudo yang menghantam Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 tidak sekadar mengguncang tanah dan bangunan. Bagi para pelajar asal NTT yang merantau ke wilayah DI Yogyakarta, guncangan itu menjalar hingga ke piring makan mereka.

Hilang Kontak dengan Ibu, Biaya Hidup Terputus

Vansianus Pasir, mahasiswa STPMD “APMD” Yogyakarta, menjadi salah satu wajah dari krisis itu. Sejak gempa melanda kampung halamannya, ia tidak lagi bisa menghubungi sang ibu selama beberapa hari. Hingga wawancara berlangsung, kabar dari sang ibu masih belum tiba.

“Belum bisa komunikasi untuk kebutuhan saya disini (Yogyakarta). Kemungkinan besar ada dua, belum beli paketan atau belum nyala listrik,” ujar Vansianus ditemui seusai penyerahan bantuan oleh Pemda DIY di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Ketidakpastian itu langsung menghantam kondisi finansialnya. Kiriman uang dari rumah yang seharusnya sudah sampai tidak pernah diterima. Di tengah kekosongan dana, Vansianus yang tinggal di sebuah indekos terpaksa mencari cara lain agar perut tetap terisi.

Ngebon dan Nasi Darurat di Warung

“Harusnya sudah (dapat kiriman biaya hidup). Untuk bisa nyambung (hidup) disini (Yogyakarta), saya ngebon ke warmindo-warmindo gitu. Kemarin, saya pesan nasi darurat. Itu saya sangat terbantu karena mama (komunikasi) belum aktif,” ucap Vansianus.

Berutang makanan ke warung-warung sekitar dan meminta nasi gratis menjadi strategi bertahan yang ia tempuh selama beberapa hari. Setiap pesan nasi darurat baginya adalah penyelamatan dari kelaparan.

Ibu Sendiri, Ayah Almarhum, Saudara Merantau

Di balik kesulitan itu, beban emosionalnya jauh lebih berat. Sang ibu tinggal sendirian di rumah di NTT. Ayahnya telah meninggal dunia, sementara dua adiknya juga merantau ke luar daerah.

“Mama sendirian di rumah. Bapak sudah tidak ada, adik-adik juga kuliah. Kami ada tiga bersaudara. Satunya di Malaysia, saya di Yogyakarta dan satunya di Surabaya,” ungkap Vansianus.

Setiap pesan yang tak terjawab dari sang ibu berarti satu hari lagi tanpa kepastian: apakah ibunya selamat, apakah listrik sudah pulih, apakah kiriman biaya akan pernah tiba.

Bantuan Minim dari Kampus

Sampai titik wawancara berlangsung, Vansianus menyebut belum menerima dukungan dari institusi manapun, termasuk kampus tempatnya menempuh pendidikan. Satu-satunya bantuan yang ia terima datang dari Pemda DIY melalui penyerahan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.

Frequently Asked Questions

What is Biaya Hidup Menipis Pascagempa Mahasiswa NTT?

Biaya Hidup Menipis Pascagempa Mahasiswa NTT is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Biaya Hidup Menipis Pascagempa Mahasiswa NTT matter?

Biaya Hidup Menipis Pascagempa Mahasiswa NTT matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Ikut berdiskusi