Skip to content
Fresh Desk
Agustus 31, 2026
Nasional

Tak Ada Kursi VIP di Upacara HUT RI, Lucky Hakim Ajak Pejabat Berdiri Kepanasan Bareng Warga

Charles Lopez - beritanara.com 4 mins baca

Tak Ada Kursi VIP di Upacara peringatan HUT RI ke-81 di Indramayu menjadi sorotan publik setelah Bupati Lucky Hakim memutuskan menghapus seluruh fasilitas

Tak Ada Kursi VIP di Upacara HUT RI Indramayu

Beritanara.com – Tak Ada Kursi VIP di Upacara peringatan HUT RI ke-81 di Indramayu menjadi sorotan publik setelah Bupati Lucky Hakim memutuskan menghapus seluruh fasilitas kehormatan dari acara kenegaraan di alun-alun. Senin (17/8/2026), pejabat daerah, anggota DPRD, pimpinan instansi vertikal, dan seluruh tamu undangan berdiri di bawah terik matahari selama dua jam penuh, berdampingan dengan warga yang menonton. Tidak ada tenda peneduh, tidak ada kursi khusus, tidak ada hidangan atau minuman dingin yang disediakan. Keputusan ini mengubah total tata cara upacara kemerdekaan yang selama puluhan tahun identik dengan hierarki tempat duduk.

Permintaan Maaf dan Alasan di Balik Keputusan

Di hadapan para tamu yang mulai berkeringat, Lucky Hakim menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Ia mengakui bahwa ketiadaan fasilitas tersebut merupakan pilihan sadar, bukan kelalaian logistik. Dalam pernyataan yang ia sampaikan di tengah lapangan, Bupati menegaskan bahwa dirinya sengaja tidak menyediakan kursi, tenda, maupun pendingin udara agar seluruh hadirin merasakan kondisi yang sama dengan masyarakat biasa.

“Saya mohon maaf kepada para anggota Dewan, DPRD, pada para Pejabat, petinggi, para elit, juga para tamu undangan yang terhormat nan mulia, saya tidak menyediakan kursi, malah saya mengajak semuanya sama-sama berdiri dua jam di lapangan, tanpa hidangan, minuman dingin nan buah-buahan, cemilan, maaf kan saya yang tidak memberikan tenda peneduh malahan saya membuat semua tamu undangan yang mulia untuk sama-sama merasakan panas tanpa AC tanpa tenda peneduh, sama-sama kita semua bersama peserta upacara, rakyat yang menonton, para pedagang, para media peliput, para penjaga, semuanya merasakan nikmatnya sinar matahari nan sehat ini. Kita serap anugerah ilahi sinar matahari penuh dengan vitamin D.”

Pernyataan tersebut memicu reaksi beragam di media sosial. Sebagian warga mengapresiasi keberanian Lucky Hakim menggeser norma seremonial, sementara lainnya mempertanyakan apakah dua jam berdiri tanpa naungan sudah menjadi bentuk empati yang memadai atau sekadar pertunjukan politik. Apa pun penilaian publik, fakta di lapangan tidak terbantahkan: untuk pertama kalinya dalam sejarah upacara HUT RI di Indramayu, Tak Ada Kursi VIP di Upacara menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh seluruh tamu kehormatan.

Menghapus Sekat: Pejabat Merasakan Realitas Musim Kemarau

Lucky Hakim menjelaskan bahwa langkah itu bukan sekadar gestur simbolis kesetaraan. Tujuan utamanya, menurutnya, adalah agar para aparatur sipil negara mengalami secara fisik kondisi yang setiap hari dihadapi masyarakat ketika mencari nafkah di luar ruangan, terutama di puncak musim kemarau. Ia menambahkan bahwa pengalaman berdiri tanpa naungan diharapkan menjadi pengingat konkret saat pejabat merumuskan kebijakan yang menyangkut kepentingan publik.

“Agar kita semua khususnya saya bisa merasakan panas dan terik, seperti rakyat yang berjuang mencari nafkah di musim kemarau nan panas ini.”

Momentum peringatan kemerdekaan, dalam kerangka berpikir Lucky, tidak boleh berhenti pada seremoni belaka. Ia harus menjadi ruang bagi pejabat untuk memahami realitas kehidupan warga sehari-hari: panas yang menyengat, keringat yang menetes, dan kelelahan yang menumpuk setelah berjam-jam berada di bawah matahari tanpa perlindungan. Dengan menghapus sekat fisik antara pejabat dan rakyat, upacara kemerdekaan di Indramayu 2026 berubah menjadi pengalaman sensorial kolektif yang jarang terjadi di lingkungan birokrasi.

Warga yang hadir di sekitar alun-alun menyambut keputusan tersebut dengan campuran kagum dan geli. Para pedagang kecil yang berjualan di tepi lapangan menyebut bahwa untuk pertama kalinya mereka tidak merasa “dipisahkan” dari tamu kehormatan oleh pagar tenda atau barisan kursi. Bagi mereka, upacara tahun ini terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih sesuai dengan semangat kemerdekaan yang sesungguhnya.

FAQ: Tak Ada Kursi VIP di Upacara HUT RI Indramayu

Apakah keputusan ini berlaku untuk seluruh upacara kenegaraan di Indramayu? Tidak. Langkah Lucky Hakim diterapkan khusus pada upacara peringatan HUT RI ke-81 di alun-alun Indramayu, 17 Agustus 2026. Belum ada pernyataan resmi mengenai penerapan serupa untuk acara kenegaraan lain di tingkat kabupaten.

Berapa lama tamu undangan harus berdiri tanpa naungan? Seluruh rangkaian acara berlangsung sekitar dua jam. Selama periode tersebut tidak tersedia tenda, kursi, pendingin udara, maupun penyajian makanan dan minuman bagi tamu kehormatan.

Apakah ada sanksi atau konsekuensi bagi pejabat yang meninggalkan lokasi sebelum acara selesai? Tidak ada informasi resmi mengenai sanksi. Namun, dalam konteks upacara kenegaraan, meninggalkan lokasi sebelum prosesi selesai umumnya dianggap tidak sesuai etika protokol.

Bagaimana respons DPRD dan instansi vertikal terhadap keputusan ini? Para anggota DPRD dan pimpinan instansi yang hadir mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai. Tidak ada laporan resmi mengenai keberatan formal dari lembaga manapun terkait ketiadaan fasilitas kehormatan pada upacara tersebut.

Ikut berdiskusi