Nasional

Jurnalis Sultra Doa Bersama untuk Pewarta Foto yang Hilang di Selat Sunda

6aa59fd75d8b6-para-jurnalis-sultra-memegang-foto-pewarta-yang-hilang-di-selat-sunda-sembari-memanjatkan-doa-di-kendari-pada-sabtu-1292026-malam_488_274

Jurnalis Sulawesi Tenggara Panjatkan Doa untuk Pewarta Foto yang Hilang di Selat Sunda

Beritanara.com – Solidaritas bagi lima pewarta foto yang belum ditemukan setelah menjalankan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau terus mengalir dari berbagai daerah. Di Kendari, jurnalis se-Sulawesi Tenggara menggelar doa bersama pada Sabtu malam, 12 September 2026, sebagai harapan agar seluruh korban dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Para pewarta foto tersebut hilang kontak ketika melakukan tugas jurnalistik di kawasan Selat Sunda, Pandeglang, Banten. Selain lima jurnalis, tiga kru kapal juga dilaporkan belum diketahui keberadaannya dalam peristiwa yang terjadi saat peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Doa bersama itu menjadi bentuk kepedulian sesama insan pers, sekaligus dukungan moral bagi keluarga yang masih menunggu kepastian dari proses pencarian. Bagi rekan-rekan jurnalis di Sultra, musibah tersebut mengingatkan bahwa pekerjaan menyampaikan informasi dari lokasi bencana selalu memiliki risiko besar.

Harapan untuk Pencarian dan Keluarga

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kendari, Nursadah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan bagi para pewarta dan kru kapal yang hilang. Doa juga dipanjatkan untuk menguatkan keluarga yang tengah menghadapi masa penuh ketidakpastian.

“Tentu kami berharap lima kawan kita itu bisa ditemukan dengan selamat dan kalaupun tidak, kita menerima bisa mengetahui titik keberadaannya,” ujarnya di Kendari pada Sabtu (12/9/2026) malam.

Ia berharap tim pencarian tetap melanjutkan upaya menemukan para korban. Kepastian lokasi menjadi hal penting, baik untuk kebutuhan operasi pencarian maupun bagi keluarga yang menanti kabar mengenai orang-orang terdekat mereka.

Situasi di lokasi bencana sering berubah cepat. Aktivitas vulkanik, kondisi laut, cuaca, serta akses menuju titik kejadian dapat menjadi tantangan bagi siapa pun yang bertugas di lapangan. Dalam kondisi seperti itu, kerja jurnalistik tidak hanya menuntut kecepatan memperoleh informasi, tetapi juga perhitungan keselamatan yang matang.

Keselamatan Tidak Boleh Dikesampingkan

Nursadah juga mengingatkan jurnalis di Sulawesi Tenggara agar tidak mengabaikan prosedur keselamatan sebelum berangkat melakukan peliputan, terutama untuk peristiwa berisiko tinggi seperti bencana alam. Persiapan sebelum turun ke lokasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab profesional seorang wartawan.

Peliputan bencana memiliki nilai besar bagi masyarakat karena publik membutuhkan informasi yang jelas, akurat, dan cepat. Namun, kebutuhan informasi itu tidak boleh membuat pewarta mengambil langkah yang melampaui batas aman. Wartawan perlu memahami kondisi medan, mengikuti arahan pihak berwenang, serta mempertimbangkan perlengkapan dan jalur evakuasi yang tersedia.

“Ini sesuai jargon kita di wartawan dan jurnalis bahwa tidak ada berita seharga nyawa,” ucapnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa keselamatan manusia harus berada di atas tuntutan mendapatkan gambar, wawancara, atau laporan pertama dari sebuah peristiwa. Foto dan berita memang dapat membantu publik memahami besarnya sebuah bencana, tetapi keselamatan orang yang merekam dan menyampaikan peristiwa itu tidak dapat digantikan.

AJI mendorong perusahaan media dan organisasi profesi untuk memperluas pelatihan bagi wartawan yang kerap ditugaskan ke wilayah bencana. Pembekalan keselamatan, pemahaman risiko, serta koordinasi saat berada di lapangan dinilai perlu diperkuat agar kejadian serupa dapat diminimalkan pada masa mendatang.

Pelatihan tersebut penting karena pewarta tidak selalu bekerja dalam kondisi yang ideal. Mereka dapat menghadapi akses terbatas, komunikasi yang terputus, perubahan cuaca, hingga tekanan untuk segera mengirimkan informasi. Dalam keadaan demikian, pemahaman terhadap standar operasional prosedur menjadi perlindungan mendasar bagi jurnalis dan tim liputan.

Pewarta Foto dan Tugas di Garis Depan

Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sultra, Zabur Karuru, menyampaikan duka atas musibah yang menimpa lima jurnalis foto. Ia menilai peristiwa itu bukan sesuatu yang diharapkan oleh siapa pun yang bekerja mencari dan menyampaikan berita kepada masyarakat.

Dalam kerja jurnalistik, pewarta foto memegang peran khas. Mereka bertugas menangkap momen yang kerap berlangsung singkat dan tidak mungkin diulang. Sebuah foto dapat memperlihatkan suasana, dampak, dan sisi kemanusiaan dari suatu kejadian dengan cara yang langsung dipahami pembaca.

“Di antara berbagai profesi jurnalistik, ada satu sosok yang bekerja tanpa banyak kata namun bicara lewat setiap bidikan lensanya, yaitu pewarta foto. Ia hadir di garis depan peristiwa, kadang lebih dulu sampai daripada tim liputan lainnya, karena tugasnya menuntut satu hal yang tidak bisa diwakilkan momen yang tepat, yang hanya bisa direkam jika ia berada di sana, pada detik yang tepat pula,” ujar Zabur.

Ungkapan itu menggambarkan besarnya tanggung jawab yang dipikul pewarta foto ketika bertugas. Mereka bukan hanya menghadirkan visual pendukung berita, melainkan merekam bukti peristiwa yang membantu masyarakat memahami situasi di lapangan.

Doa bersama di Sulawesi Tenggara menjadi pengingat bahwa dunia jurnalistik dibangun pula oleh rasa kebersamaan. Saat rekan seprofesi menghadapi musibah, dukungan tidak hanya hadir dalam bentuk perhatian terhadap proses pencarian, tetapi juga melalui komitmen untuk memperkuat budaya keselamatan kerja.

Harapan terbesar tetap tertuju pada ditemukannya lima pewarta foto dan tiga kru kapal yang hilang kontak di Selat Sunda. Sementara pencarian berjalan, perhatian terhadap keselamatan jurnalis di area bencana perlu terus menjadi bagian utama dalam setiap penugasan lapangan.

Frequently Asked Questions

What is Jurnalis Sultra Doa Bersama untuk Pewarta?

Jurnalis Sultra Doa Bersama untuk Pewarta is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jurnalis Sultra Doa Bersama untuk Pewarta matter?

Jurnalis Sultra Doa Bersama untuk Pewarta matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *