Skip to content
Fresh Desk
Agustus 31, 2026
Nasional

Jelang Muktamar NU ke-35, Aktivis Senior NU Jatim: Jadi Momentum PWNU dan PCNU Tentukan Arah Organisasi

Robert Williams - beritanara.com 3 mins baca

Jelang Muktamar NU ke 35 Aktivis senior Nahdlatul Ulama dari Jawa Timur, Sudarsono Rahman, menyoroti pentingnya peran PWNU dan PCNU dalam menentukan arah

Jelang Muktamar NU ke 35 Aktivis Senior: PWNU dan PCNU Tentukan Arah Organisasi

Beritanara.com – Jelang Muktamar NU ke 35 Aktivis senior Nahdlatul Ulama dari Jawa Timur, Sudarsono Rahman, menyoroti pentingnya peran PWNU dan PCNU dalam menentukan arah organisasi. Muktamar ke-35 yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 ini akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Acara akbar ini menjadi momen krusial bagi seluruh lapisan organisasi untuk merefleksikan perjalanan dan menetapkan visi ke depan.

Sudarsono Rahman, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus, mengungkapkan bahwa persaingan untuk merebut posisi Rais Aam kini semakin kompetitif. Ia menjelaskan bahwa jabatan tertinggi dalam struktur keulamaan ini seharusnya lahir dari kewibawaan dan kesepakatan para kiai senior, bukan menjadi ajang kontestasi politik yang melibatkan kampanye terbuka, tekanan, atau bahkan transaksi suara. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat sejarah organisasi yang panjang.

Seharusnya lahir dari pilihan kiai-kiai sepuh yang ikhlas, saleh, dan wara’, bukan lewat kampanye, pemaksaan, apalagi membeli suara Rais Syuriah di tingkat wilayah maupun cabang. Naudzubillah.

Pernyataan tersebut disampaikan Sudarsono pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026. Ia menekankan betapa strategisnya kedudukan Rais Aam dalam mengarahkan kepemimpinan PBNU. Apabila posisi ini diduduki oleh satu kelompok tertentu, dampaknya akan merambah hampir seluruh lapisan struktur organisasi, termasuk dalam hal penunjukan dan pemberian hak veto terhadap calon Ketua Umum. Posisi ini memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kebijakan organisasi.

Sudarsono menilai bahwa target utama menjadi Rais Aam sangat logis. Dengan memegang posisi tersebut, seluruh jabatan di PBNU dapat berada dalam satu kendali, terlebih jika Rais Aam diberi wewenang untuk melakukan veto atau menunjuk langsung Ketua Umum. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Rais Aam bukan sekadar simbolis, melainkan memiliki kekuatan nyata dalam pengambilan keputusan organisasi.

Kekhawatiran Terhadap Transaksi Politik

Menurutnya, apabila mekanisme pemilihan Rais Aam hanya ditujukan untuk kepentingan kelompok atau kandidat tertentu, maka masalahnya melampaui sekadar persaingan internal. Hal ini menyangkut marwah dan masa depan organisasi itu sendiri. Sudarsono menambahkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, tidak ada jaminan PBNU akan mengalami perbaikan di masa depan. Organisasi perlu kembali pada nilai-nilai dasar yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Ia menegaskan bahwa Muktamar ke-35 merupakan momen penting bagi PWNU dan PCNU sebagai pemegang kedaulatan forum untuk menentukan arah organisasi. Sudarsono berharap para muktamirin tidak terjebak dalam transaksi politik maupun ambisi personal. Keputusan kepemimpinan NU seharusnya dikembalikan pada tradisi musyawarah yang didasarkan pada pertimbangan para ulama berintegritas. Ini adalah kesempatan emas bagi seluruh anggota untuk bersama-sama membangun masa depan organisasi.

Kita semua hanya bisa berharap kepada para muktamirin dari PWNU dan PCNU. Pada akhirnya, pemegang kuasa tunggal adalah Allah SWT.

Peran Strategis PWNU dan PCNU

PWNU dan PCNU memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan arah organisasi. Sebagai pemegang kedaulatan forum, mereka memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa proses pemilihan berjalan secara demokratis dan transparan. Sudarsono berharap para muktamirin dari seluruh wilayah dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan pemimpin yang tepat untuk organisasi.

Sebagai informasi lebih lanjut, Muktamar NU ke-35 akan dihadiri oleh ribuan muktamirin dari seluruh Indonesia. Acara ini tidak hanya membahas pemilihan kepemimpinan, tetapi juga berbagai isu strategis yang dihadapi organisasi. Untuk mengetahui perkembangan terbaru, pembaca dapat mengunjungi halaman berita nasional tvOnenews.com.

FAQ: Jelang Muktamar NU ke 35 Aktivis

1. Kapan Muktamar NU ke-35 akan diselenggarakan? Muktamar NU ke-35 akan diselenggarakan pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

2. Siapa saja yang memiliki hak suara dalam Muktamar? Hak suara dalam Muktamar dimiliki oleh para muktamirin yang merupakan perwakilan dari PCNU dan PWNU di seluruh Indonesia.

3. Apa peran penting Rais Aam dalam organisasi? Rais Aam memiliki peran strategis dalam mengarahkan kepemimpinan PBNU, termasuk hak veto dan kemampuan untuk menunjuk langsung Ketua Umum.

4. Mengapa Sudarsono Rahman menekankan peran PWNU dan PCNU? Sudarsono Rahman menekankan peran PWNU dan PCNU karena mereka merupakan pemegang kedaulatan forum yang memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan arah organisasi.

5. Apa yang menjadi kekhawatiran utama terkait Muktamar kali ini? Kekhawatiran utama adalah adanya transaksi politik dan ambisi personal yang dapat mengganggu proses pemilihan dan menentukan masa depan organisasi.

Ikut berdiskusi