Skip to content
Fresh Desk
Agustus 31, 2026
Nasional

Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa Letusan Selama Enam Jam

Michael Johnson - beritanara.com 4 mins baca

Gunung Semeru alami 21 kali gempa letusan atau erupsi dalam rentang waktu enam jam pada Jumat (28/8), mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Peristiwa ini

Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa Letusan Selama Enam Jam

Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa Letusan dalam Enam Jam Beruntun

Beritanara.com – Gunung Semeru alami 21 kali gempa letusan atau erupsi dalam rentang waktu enam jam pada Jumat (28/8), mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Peristiwa ini terekam oleh instrumen seismograf di Pos Pengamatan Gunung Semeru yang beroperasi di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Data kegempaan tersebut disampaikan langsung oleh petugas pos, Yadi Yuliandi, sebagaimana dikutip laporan Antara pada hari yang sama. Kejadian ini menambah daftar panjang aktivitas vulkanik yang terus dipantau secara ketat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Detail Rekaman Kegempaan

“Dalam pengamatan kegempaan tercatat 21 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm, dan lama gempa 67-120 detik.”

Di samping gempa letusan, seismograf juga menangkap sinyal dari jenis gempa lain selama periode enam jam tersebut. Tercatat dua kejadian gempa guguran dengan amplitudo 2-12 mm dan durasi 56-88 detik, dua gempa hembusan beramplitudo 6-8 mm dengan durasi 52-77 detik, serta dua gempa tektonik jauh yang menunjukkan amplitudo 5-17 mm, selang S-P 21-46 detik, dan durasi 68-113 detik. Kombinasi berbagai jenis gempa ini mengindikasikan bahwa proses magmatik di dalam tubuh gunung masih berlangsung aktif, meskipun tidak selalu menghasilkan erupsi yang terlihat dari permukaan.

Kondisi Visual dan Cuaca di Sekitar Kawah

“Secara visual gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah tenggara dan selatan.”

Ketiadaan asap kawah pada pengamatan visual menunjukkan bahwa tekanan gas di dalam kawah belum mencapai tahap pelepasan masif. Namun, petugas mengingatkan bahwa kondisi cuaca cerah dan angin lemah dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga pengamatan dilakukan secara berkelanjutan setiap interval waktu tertentu sepanjang 24 jam.

Status Siaga dan Larangan Aktivitas bagi Warga

Yadi menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru alami 21 kali gempa letusan ini menempatkan gunung pada Level III atau Siaga. Pada level tersebut, sejumlah larangan ketat diberlakukan bagi masyarakat di sekitar kawasan:

Pertama, seluruh aktivitas manusia dilarang di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak atau pusat erupsi. Kedua, warga tidak boleh beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena kawasan sempadan sungai berpotensi dilanda perluasan awan panas maupun aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak. Ketiga, radius lima kilometer dari kawah atau puncak harus dijauhi karena rawan lontaran batu pijar dan material vulkanik lain.

“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.”

Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat terjadi sewaktu-waktu di sepanjang aliran sungai serta lembah yang berhulu dari puncak gunung. Warga yang tinggal di dekat aliran sungai tersebut disarankan menyiapkan jalur evakuasi dan memantau informasi resmi dari PVMBG secara berkala.

Penutupan Total Jalur Pendakian

Terpisah, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) telah memberlakukan penutupan total seluruh jalur pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026. Keputusan ini diambil menyusul kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang yang meningkatkan risiko bagi pendaki. Seluruh pendaki yang masih berada di dalam kawasan telah berhasil turun pada Kamis (27/8/2026) sebelum penutupan penuh diberlakukan. Jalur pendakian diperkirakan akan dibuka kembali setelah kondisi dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah warga di sekitar Besuk Kobokan harus mengungsi? Berdasarkan rekomendasi petugas, warga tidak diwajibkan mengungsi secara massal, tetapi dilarang beraktivitas di sektor tenggara sejauh 13 km dari puncak serta dalam radius 500 meter dari tepi sungai. Warga tetap dapat beraktivitas di luar zona tersebut dengan tetap waspada terhadap perubahan kondisi.

Kapan jalur pendakian Gunung Semeru akan dibuka kembali? BB TNBTS belum mengumumkan jadwal pembukaan kembali. Penutupan total berlaku sejak 26 Agustus 2026 dan akan dievaluasi berkala berdasarkan kondisi cuaca, aktivitas vulkanik, serta status kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang.

Bagaimana cara memantau update aktivitas Gunung Semeru secara resmi? Masyarakat dapat mengikuti informasi dari PVMBG melalui situs resmi BMKG, akun media sosial resmi, atau menghubungi Pos Pengamatan Gunung Semeru secara langsung. Informasi dari sumber tidak resmi sebaiknya tidak dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Frequently Asked Questions

What is Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa?

Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa matter?

Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Ikut berdiskusi