Arena

Skandal Pelecehan Seksual Liga Voli Korea Muncul Titik Terang, Mantan Pelatih Red Sparks Kena Sanksi 5 Tahun

69c4eec5388f4-pelatih-red-sparks-ko-hee-jin_488_274

KOVO Jatuhkan Larangan Lima Tahun bagi Mantan Pelatih Red Sparks

Beritanara.com – Kasus dugaan pelecehan seksual yang sempat mengguncang Liga Voli Korea kini memasuki tahap penting setelah Korea Volleyball Federation (KOVO) menetapkan hukuman disiplin bagi mantan pelatih Red Sparks. Sosok tersebut dilarang terlibat dalam aktivitas voli selama lima tahun.

Putusan itu lahir melalui rapat Komite Disiplin KOVO pada 8 Oktober dan diumumkan pada hari berikutnya. Federasi menilai tindakan mantan pelatih itu terhadap seorang pemain termasuk pelanggaran seksual serta perbuatan berat yang tidak sejalan dengan norma sosial.

Sanksi lima tahun menjadi konsekuensi paling serius dalam perkara ini. KOVO menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan telah mencederai martabat dan memenuhi kategori pelanggaran seksual dalam ketentuan disiplin liga.

Kronologi Perkara Bermula pada Januari 2026

Insiden yang menjadi pusat penyelidikan terjadi dalam acara makan bersama tim pada Januari 2026, ketika kompetisi memasuki jeda All-Star. Pada saat itu, pihak Red Sparks belum mengetahui adanya dugaan tindakan tidak pantas tersebut.

Klub baru memperoleh informasi mengenai persoalan itu pada Mei. Setelah mengetahui dugaan pelanggaran, Red Sparks memisahkan pihak-pihak yang terkait dengan kasus tersebut. Langkah itu kemudian diikuti pelaporan perkara kepada KOVO dan Sports Ethics Center.

Proses penanganan kasus tidak berhenti pada pemeriksaan internal klub. Sports Ethics Center melakukan penyelidikan dan meminta agar mantan pelatih yang menjadi fokus perkara, serta mantan pelatih kepala Red Sparks Ko Hee-jin, sama-sama dikenai tindakan disiplin.

KOVO lalu menelaah penjelasan dari pihak-pihak yang terlibat, kesaksian sejumlah orang, dan dokumen yang tersedia sebelum mengeluarkan putusan. Rangkaian pemeriksaan itu berujung pada larangan beraktivitas selama lima tahun bagi mantan pelatih tersebut.

Ko Hee-jin Dikenai Teguran dan Denda

Komite Disiplin KOVO juga memeriksa peran Ko Hee-jin dalam peristiwa tersebut. Ia tidak dinyatakan melakukan pelanggaran seksual. Namun, federasi menemukan adanya perilaku yang dianggap tidak pantas di tempat yang tidak semestinya, sehingga masuk dalam kategori tindakan yang merusak martabat.

Atas temuan itu, Ko Hee-jin dijatuhi teguran serta denda 3 juta won, atau sekitar Rp39,3 juta. Ia memang hadir dalam acara makan bersama yang berlangsung pada Januari, tetapi menyatakan tidak menyaksikan tindakan mantan pelatih yang menjadi inti kasus.

Perbedaan sanksi memperlihatkan penilaian KOVO terhadap posisi masing-masing individu. Mantan pelatih Red Sparks menerima hukuman larangan lima tahun karena perkara yang dinilai berkaitan langsung dengan pelanggaran seksual, sedangkan Ko Hee-jin mendapat sanksi administratif atas perilaku yang dipandang tidak pantas.

Perubahan di Kursi Pelatih Red Sparks

Situasi ini juga berdampak pada struktur kepelatihan Red Sparks. Ko Hee-jin tidak lagi dilibatkan dalam kegiatan klub sejak Mei, beberapa waktu setelah dugaan kasus tersebut diketahui. Pada Agustus, ia akhirnya mengundurkan diri dari posisinya.

Jung Kwan-jang kemudian mengambil langkah untuk mengisi posisi pelatih kepala. Klub menunjuk mantan pelatih Heungkuk Life, Kwon Soon-chan, sebagai nakhoda baru pada 6 Oktober.

Penunjukan Kwon Soon-chan berlangsung menjelang pengumuman sanksi KOVO, ketika perhatian publik masih tertuju pada perkembangan proses disiplin. Perubahan kepemimpinan tersebut menandai babak baru bagi tim yang sebelumnya dikenal sebagai Red Sparks.

Arti Putusan bagi Lingkungan Liga

Keputusan KOVO memberi kejelasan mengenai tindak lanjut kasus yang telah menjadi sorotan sejak dugaan peristiwa itu terungkap. Dalam olahraga profesional, ruang tim, perjalanan, serta kegiatan bersama memerlukan standar perilaku yang tegas agar seluruh anggota dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman dan saling menghormati.

Larangan lima tahun berarti mantan pelatih yang dijatuhi hukuman tidak dapat mengikuti aktivitas voli selama periode sanksi. Sementara itu, teguran dan denda untuk Ko Hee-jin menjadi bagian dari pertanggungjawaban disiplin yang diputuskan federasi setelah memisahkan penilaian atas masing-masing pihak.

Bagi Red Sparks dan Jung Kwan-jang, penyelesaian di tingkat federasi membuka ruang untuk melanjutkan persiapan tim bersama staf baru. Namun, kasus ini juga meninggalkan pengingat bahwa penanganan dugaan pelanggaran di lingkungan olahraga perlu dilakukan dengan pemeriksaan yang serius, perlindungan bagi pihak terkait, dan langkah disiplin yang jelas.

Dengan putusan yang diumumkan pada 9 Oktober, fokus kini bergeser pada pelaksanaan sanksi serta perjalanan Red Sparks di bawah arahan Kwon Soon-chan. Federasi telah menyatakan posisi disiplin melalui hukuman lima tahun bagi mantan pelatih yang terlibat, sementara Ko Hee-jin menerima teguran dan denda 3 juta won atas pelanggaran yang dinilai merusak martabat.

Frequently Asked Questions

What is Skandal Pelecehan Seksual Liga Voli Korea?

Skandal Pelecehan Seksual Liga Voli Korea is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Skandal Pelecehan Seksual Liga Voli Korea matter?

Skandal Pelecehan Seksual Liga Voli Korea matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *