Skip to content
Fresh Desk
Agustus 31, 2026
Jateng

Melon Wates Naik Kelas: Teknologi dan Digitalisasi untuk Menggerakkan Ekonomi Desa

Matthew Thomas - beritanara.com 4 mins baca

Kecamatan Wates di Kabupaten Blitar kini mencatatkan kemajuan signifikan dalam sektor pertanian melon. Fenomena Melon Wates Naik Kelas bukan hanya soal

Melon Wates Naik Kelas: Digitalisasi untuk Ekonomi Desa

Beritanara.com – Kecamatan Wates di Kabupaten Blitar kini mencatatkan kemajuan signifikan dalam sektor pertanian melon. Fenomena Melon Wates Naik Kelas bukan hanya soal peningkatan volume produksi, tetapi juga transformasi menyeluruh menuju era teknologi dan digitalisasi. Petani lokal serta pelaku UMKM mulai mengintegrasikan inovasi modern ke dalam setiap tahap usaha mereka. Politeknik Negeri Malang memasuki tahun kedua program pengabdian kepada masyarakat pada 2026, dengan misi mendorong optimalisasi energi terbarukan, pengelolaan usaha yang lebih efisien, serta pemasaran digital yang menjangkau pasar lebih luas.

Wilayah ini menyimpan potensi luar biasa yang belum sepenuhnya tergarap. Saat ini, sekitar 273 greenhouse tersebar di lahan seluas 15 hektare, dikelola secara profesional oleh 125 petani milenial. Sebagian besar dari mereka tergabung dalam Koperasi Pemasaran Republik Melon yang mampu memproduksi rata-rata 126 ton melon setiap bulannya. Hasil panen dikategorikan ke dalam tiga kelas berbeda berdasarkan kualitas. Melon Grade A memiliki nilai jual sekitar Rp30.000 per kilogram dan relatif mudah diserap pasar. Grade B dihargai sekitar Rp20.000 per kilogram, sementara Grade C hanya mencapai Rp6.000 per kilogram sehingga lebih sulit dipasarkan sebagai buah segar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi saja tidak cukup. Kualitas harus tetap terjaga, hasil panen perlu dikelola dengan baik, dan buah kelas C membutuhkan alternatif pemanfaatan agar tidak terbuang sia-sia. Melalui konsep Melon Wates Naik Kelas, seluruh rantai nilai mulai dari hulu hingga hilir dioptimalkan menggunakan pendekatan teknologi.

Peran Teknologi dalam Meningkatkan Nilai Ekonomi

Pada fase kedua program ini, sistem Internet of Things (IoT) yang telah diterapkan sebelumnya terus dimanfaatkan secara maksimal. Petani kini dapat memantau kondisi greenhouse, termasuk suhu dan kelembapan, serta mengatur penyiraman melalui dashboard digital. Teknologi tersebut kini juga didukung oleh energi surya. Dua unit panel surya berkapasitas 300 Wp dan 600 Wp dipasang untuk memenuhi kebutuhan listrik sistem IoT di greenhouse Koperasi Republik Melon. Petani juga mendapat pendampingan pengoperasian dan pemeliharaan agar teknologi dapat digunakan secara berkelanjutan.

Ketua tim, Prof. Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB, menjelaskan bahwa penguatan tahun kedua diarahkan agar teknologi yang telah diperkenalkan sebelumnya benar-benar memberikan manfaat bagi keberlanjutan usaha mitra. Menurutnya, adopsi teknologi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing produk pertanian lokal.

“Kami tidak ingin teknologi berhenti pada pemasangan alat. Yang lebih penting adalah bagaimana petani dan UMKM mampu menggunakan, merawat, dan memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi serta nilai ekonomi produk,” ujar Nilawati.

Program ini diketuai oleh Prof. Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB, bersama Prof. Dr. R. Moechammad Sarosa, Dipl. Ing., M.T., R N Akhsanu Takwim, S.T., M.T., dan Anna Widayani, S.Pd., M.AB. Kegiatan didukung melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan, Ruang Lingkup Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.

Dampak Digitalisasi terhadap Pemasaran dan Pendapatan

Transformasi digital tidak hanya berhenti pada aspek produksi. Platform pemasaran online mulai digunakan untuk menjangkau konsumen di berbagai wilayah. Dengan Melon Wates Naik Kelas, petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada tengkulak atau pasar tradisional. Data penjualan real-time membantu mereka membuat keputusan yang lebih tepat terkait harga dan distribusi. Selain itu, penggunaan media sosial dan marketplace memungkinkan promosi produk secara langsung kepada konsumen akhir.

Pendapatan petani juga mengalami peningkatan yang signifikan. Grade C yang sebelumnya sulit dipasarkan kini dapat diolah menjadi produk turunan seperti selai, jus, atau snack kering. Hal ini membuka peluang pendapatan tambahan yang sebelumnya tidak tersedia. Digitalisasi juga memudahkan akses informasi tentang tren pasar, permintaan konsumen, dan perkembangan teknologi pertanian terbaru.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Melon Wates Naik Kelas

Apa itu Melon Wates Naik Kelas? Melon Wates Naik Kelas adalah program transformasi pertanian melon di Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar yang mengintegrasikan teknologi dan digitalisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi desa.

Berapa ton melon yang diproduksi setiap bulan? Koperasi Pemasaran Republik Melon mampu memproduksi rata-rata 126 ton melon setiap bulannya.

Bagaimana teknologi IoT membantu petani? Sistem IoT memungkinkan petani memantau suhu, kelembapan, dan mengatur penyiraman secara otomatis melalui dashboard digital, sehingga efisiensi produksi meningkat.

Apakah program ini masih berlangsung pada 2026? Ya, Politeknik Negeri Malang memasuki tahun kedua program pengabdian kepada masyarakat pada 2026 dengan fokus pada penguatan teknologi dan pemasaran digital.

Bagaimana nasib melon Grade C yang harganya lebih rendah? Melon Grade C yang sebelumnya sulit dipasarkan kini dapat diolah menjadi produk turunan seperti selai, jus, atau snack kering untuk meningkatkan nilai jualnya.

Dengan konsep Melon Wates Naik Kelas, Kabupaten Blitar menunjukkan contoh nyata bagaimana teknologi dan digitalisasi dapat menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan. Kolaborasi antara akademisi, petani, dan pemerintah menjadi kunci kesuksesan program ini.

Ikut berdiskusi