Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Internasional

Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US$105 per Barel Imbas Konflik Timur Tengah Kembali Panas

Elizabeth Jones - beritanara.com 3 mins baca

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah diprediksi akan kembali mendominasi pergerakan harga minyak global dalam beberapa hari ke depan. Minyak Dunia

Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US$105 per Barel Imbas Konflik Timur Tengah Kembali Panas

Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US$105 per Barel

Beritanara.com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah diprediksi akan kembali mendominasi pergerakan harga minyak global dalam beberapa hari ke depan. Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US 105 per barel seiring dengan memanasnya konflik di wilayah tersebut. Berdasarkan analisis terbaru dari para ahli pasar komoditas, ketegangan yang terjadi berpotensi mendorong kenaikan signifikan pada harga minyak mentah dunia.

Proyeksi Harga Minyak Mentah Brent dan WTI

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas terkemuka, menyampaikan bahwa harga minyak mentah Brent kemungkinan besar akan berfluktuasi antara US$95 hingga US$105 per barel pada sesi perdagangan pekan mendatang. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan bergerak di kisaran US$99,20 sampai US$102,20 per barel.

“Untuk indeks dolar sendiri, kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan itu range-nya itu adalah di US$99.20 sampai di US$102.20. Itu untuk WTI Crude Oil. Kalau untuk Brent Crude Oil sendiri, ya kemungkinan besar di US$95 per barel sampai di US$105 per barel. Itu untuk Brent Crude Oil,” ujar Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Minggu (2/8/2026).

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi Sumber : Abdul Gani Siregar/tvOnenews

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak

Menurut Ibrahim, terdapat beberapa variabel kunci yang memengaruhi dinamika harga minyak saat ini. Faktor-faktor tersebut meliputi situasi geopolitik global, perkembangan politik di Amerika Serikat, kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral Amerika, serta keseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar. Semua elemen ini saling berinteraksi dan menciptakan ketidakpastian yang mendorong harga naik.

Perhatian investor dan pelaku pasar saat ini semakin terfokus pada meningkatnya tensi di Timur Tengah. Laporan dari sejumlah media Amerika Serikat mengindikasikan bahwa Washington dan Tel Aviv sedang mempersiapkan operasi militer berskala besar yang menargetkan infrastruktur energi milik Iran. Langkah ini dinilai dapat mengganggu pasokan minyak global secara signifikan.

“Nah, kita melihat bahwa permasalahan geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai acuan terhadap memanasnya harga minyak. Di mana bahwa beberapa media Amerika melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang mempersiapkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran di minggu depan,” ujarnya.

Ibrahim menambahkan bahwa ancaman militer tersebut memiliki potensi untuk memperluas konflik yang ada. Hal ini mengingat Iran telah secara tegas menyatakan bahwa negara tersebut tidak akan berdiam diri jika wilayahnya mengalami serangan. Skala konflik yang lebih besar tentu akan berdampak langsung pada harga minyak dunia.

“Artinya apa? Bahwa Amerika dan Iran, Amerika dan Israel itu serius untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran untuk menghentikan Iran yang sedang membuat, memperkaya uranium. Dan Iran pun juga sudah memperingatkan terhadap Amerika dan Iran apabila melakukan penyerangan, ya, terhadap Iran, Iran tak tinggal diam, Iran akan melakukan serangan balik,” katanya.

Selain risiko konflik militer langsung, situasi pasar juga dinilai semakin kompleks akibat langkah-langkah diplomasi yang dilakukan Arab Saudi. Kerajaan tersebut mulai melakukan konsolidasi dengan negara-negara Arab lainnya untuk menghadapi tantangan blokade yang dilakukan oleh Houthi Yaman dan Iran di jalur pelayaran strategis global.

Kondisi ini semakin memperkuat proyeksi bahwa Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US 105 per barel dalam waktu dekat. Para trader dan investor perlu waspada terhadap volatilitas harga yang dapat terjadi kapan saja seiring dengan perkembangan situasi di Timur Tengah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasar energi, tetapi juga ekonomi global secara keseluruhan.

Ikut berdiskusi