Viral Wisatawan Pakai Kursi Roda Kesulitan Lewati Portal Teleskopik Malioboro, Begini Respon Dishub DIY
Portal Teleskopik Malioboro Jadi Sorotan: Wisatawan Kursi Roda Terjebak, Dishub DIY Akui Kelemahan Aksesibilitas
Beritanara.com – Kawasan Malioboro, jantung wisata Kota Yogyakarta yang setiap hari dilalui ribuan pejalan kaki, kembali menjadi pusat perhatian publik. Kali ini bukan karena keramaian pedagang kaki lima atau atraksi jalanan, melainkan karena sebuah rekaman video yang menyebar luas di berbagai platform media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang wisatawan pengguna kursi roda tampak kesulitan melintasi portal teleskopik pembatas jalan di kawasan sirip Malioboro. Portal yang seharusnya bisa dibuka untuk pejalan kaki justru menutup rapat, memaksa yang bersangkutan menunduk dan menerima bantuan warga sekitar agar bisa melewati celah sempit.
Momen itu memicu gelombang kritik dari masyarakat, khususnya komunitas penyandang disabilitas, yang sejak lama menyuarakan pentingnya desain infrastruktur ramah aksesibilitas di ruang publik. Malioboro sendiri merupakan salah satu koridor wisata paling ikonik di Indonesia, dengan panjang sekitar 1,2 kilometer yang membentang dari Alun-alun Kidul hingga kawasan Tugu. Setiap tahun, kawasan ini menerima jutaan pengunjung, termasuk mereka yang bergantung pada kursi roda, alat bantu jalan, atau memiliki keterbatasan mobilitas lainnya. Ketika elemen pembatas jalan justru menjadi penghalang bagi kelompok rentan, pertanyaan tentang standar desain dan operasional infrastruktur menjadi tak terhindarkan.
Rekonstruksi Kejadian
Peristiwa yang terekam dalam video terjadi pada Minggu, 30 Agustus 2026. Tampak beberapa warga yang kebetulan berada di lokasi bergegas membantu menarik dan mengangkat bagian portal pembatas jalan karena celahnya terlalu sempit untuk dilalui kursi roda. Warga lain turut memapah pengguna kursi roda agar dapat menunduk dan melewati struktur tersebut. Tidak ada petugas Dishub yang terlihat di titik portal pada saat kejadian berlangsung.
Penjelasan Resmi dari Dinas Perhubungan
Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta merespons sorotan tersebut melalui Kepala Dinas, Chrestina Erni Widyastuti. Ia menjelaskan bahwa pemasangan portal regol ayem di sirip-sirip kawasan Malioboro memiliki tujuan spesifik, yakni mengendalikan kendaraan bermotor yang hendak melintasi jalur-jalur cabang dari koridor utama, sekaligus memastikan prioritas tetap berada di tangan pejalan kaki.
Menyangkut insiden pada akhir pekan itu, Chrestina mengungkapkan bahwa petugas yang seharusnya berjaga di titik portal sedang dialihkan tugasnya ke sisi utara kawasan. Alasannya, kepadatan arus lalu lintas di ruas utara menuntut pengaturan tambahan. Akibatnya, kunci pembuka portal ikut dibawa ke lokasi lain, padahal secara prosedur portal seharusnya bisa dibuka kapan pun ada pejalan kaki yang hendak melintas.
"Nuwun sewu sepertinya insiden kemarin itu yang menjaga meninggalkan lokasi ke area sisi utara karena di sisi utara crowded. Saat ada yang mau lewat, kuncinya dibawa, padahal harusnya bisa dibuka," tutur Chrestina, Senin (31/8/2026).
Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan persoalan teknis di lapangan yang akan menjadi bahan evaluasi internal. Yang terpenting, Dishub mengakui secara terbuka bahwa desain dan pemasangan portal tersebut memiliki kelemahan mendasar, yakni kurang ramah bagi penyandang disabilitas.
"Kemarin sudah kita informasikan, nanti kalau ada pejalan kaki dan space jalannya tidak ada, bagian tengah akan dibuka. Ini hanya masalah teknis di lapangan harusnya petugas standby di situ, tetapi ternyata bergeser," ucap Chrestina.
Konteks Uji Coba Malioboro Full Pedestrian
Portal teleskopik yang menjadi sorotan ini sejatinya merupakan bagian dari persiapan menuju uji coba kawasan Malioboro full pedestrian yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Dalam skenario penuh pejalan kaki, seluruh jalur sirip akan ditutup total terhadap kendaraan bermotor, dan portal-portal pembatas akan berfungsi sebagai pengaman sementara selama masa transisi. Dengan kata lain, struktur yang kini menimbulkan keluhan merupakan infrastruktur peralihan menuju fase akhir pedestrianisasi koridor wisata tersebut.
Chrestina mengakui bahwa proses pengerjaan portal dinilai sedikit terburu-buru sehingga hasilnya kurang optimal dan justru mengganggu kenyamanan masyarakat yang melintas. Kondisi mekanis portal dilaporkan agak seret, yakni tidak bergerak mulus saat dibuka atau ditutup, sehingga memerlukan tenaga ekstra dan waktu lebih lama untuk mengoperasikannya.
"Tapi kita jadi tahu kelemahannya dan nanti akan dilakukan pemeliharaan karena kondisi portal yang agak seret," ungkapnya.
Skala Infrastruktur dan Pengawasan
Secara keseluruhan, terdapat 13 ruas jalan di sirip-sirip Malioboro yang telah dipasangi portal teleskopik. Belasan titik tersebut dijaga oleh sejumlah personel Dishub yang bekerja dalam sistem tiga sif, memastikan setiap pergantian waktu tetap ada petugas di lokasi. Namun, sebagaimana terungkap dalam insiden akhir pekan lalu, dinamika lalu lintas yang tidak terduga dapat menggeser penempatan petugas dari satu titik ke titik lain, meninggalkan celah pengawasan sementara.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa transformasi sebuah koridor wisata menjadi ruang sepenuhnya milik pejalan kaki bukan sekadar soal menutup jalan terhadap kendaraan. Ia menuntut standar aksesibilitas yang ketat pada setiap elemen infrastruktur peralihan, mulai dari ketinggian ambang, lebar celah, hingga mekanisme pembuka yang dapat dioperasikan tanpa bantuan fisik berlebihan. Bagi komunitas disabilitas di Yogyakarta dan sekitarnya, respons cepat dan transparan dari Dishub menjadi tolok ukur apakah komitmen pedestrianisasi benar-benar menempatkan seluruh warga, tanpa kecuali, sebagai subjek utama ruang publik.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Viral Wisatawan Pakai Kursi Roda Kesulitan?Viral Wisatawan Pakai Kursi Roda Kesulitan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Viral Wisatawan Pakai Kursi Roda Kesulitan matter?Viral Wisatawan Pakai Kursi Roda Kesulitan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.