BeritaNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

6 Jurnalis Pers Mahasiswa UGM-UNY Diduga Dianiaya saat Liputan Demo di Simpang Gramedia, Begini Kesaksian Korban

Published September 4, 2026 · Updated September 4, 2026 · By Joseph Brown - beritanara.com

Foto : Joseph Brown - beritanara.com

Enam Jurnalis Kampus UGM dan UNY Jadi Korban Kekerasan Saat Meliput Demo Ricuh di Simpang Gramedia

Beritanara.com – Sebuah insiden kekerasan yang menimpa para pekerja pers mahasiswa mengguncang dunia akademik Yogyakarta pada awal September 2026. Enam anggota pers mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dilaporkan mengalami penganiayaan ketika mereka tengah menjalankan tugas dokumentasi di tengah kericuhan aksi demonstrasi yang pecah di kawasan Simpang Gramedia, Yogyakarta, pada 1 September 2026. Para jurnalis muda itu berada di lokasi dengan satu tujuan: merekam dan mendokumentasikan jalannya aksi. Namun, ketika situasi di lapangan memanas dan berubah menjadi konfrontasi fisik, mereka justru terseret menjadi sasaran kekerasan.

Kronologi: Dari Siaran Langsung ke Kekerasan

Salah satu korban, Dian, anggota Biro Pers Mahasiswa Filsafat PIJAR UGM, menceritakan bagaimana dirinya tengah melakukan siaran langsung melalui akun Instagram PIJAR sekitar pukul 20.00 WIB. Siaran itu bertujuan memberikan informasi real-time kepada publik mengenai perkembangan aksi. Namun, suasana berubah drastis dalam waktu singkat. Sekitar pukul 20.58 WIB, massa demonstran mulai didorong mundur secara paksa oleh gabungan aparat keamanan dan anggota organisasi masyarakat (ormas). Momen itulah yang menjadi titik balik bagi keselamatan para jurnalis di lapangan.

Dian menuturkan bahwa panik menyebar cepat di antara rekan-rekannya. Ia sendiri ikut berlari ketika situasi menjadi kacau. Dalam kesaksiannya yang disampaikan di hadapan awak media di Boulevard UGM pada Kamis (3/9/2026), Dian menggambarkan detik-detik menegangkan itu.

"Saat itu juga, teman-teman sudah mulai berlari. Tentunya, saya yang panik ikut berlari," kata Dian mengawali kesaksiannya di hadapan awak media di Boulevard UGM, Kamis (3/9/2026).

Kekerasan yang dialaminya terjadi ketika ia berlari sedikit ke arah tengah kerumunan. Dian menyebut pelaku adalah seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun, mengenakan pakaian berwarna merah, yang tidak dikenalnya. Pria itu memukul Dian menggunakan benda kayu berbentuk pipih dari sisi samping, dan pukulan tersebut tepat mengenai pelipis kanan.

"Bapak-bapak itu memukul dengan kayu yang pipih dari samping dan mengenai pelipis kanan saya," ungkap Dian.

Tara: Dipukul hingga Kehilangan Kesadaran

Tragedi tidak berhenti pada satu nama. Tara, sesama anggota PIJAR, juga mengalami kekerasan yang tidak kalah berat. Ia menceritakan bahwa sekelompok pria yang tampak sangat marah tiba-tiba melampiaskan amarahnya dengan memukul dirinya. Pukulan itu membuat Tara kehilangan kesadaran dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

"Pria itu tiba-tiba mukul, saya enggak sadar. Terus posisinya udah langsung masuk rumah sakit," kata Tara.

Kasus Tara menunjukkan bahwa kekerasan yang terjadi tidak bersifat terarah pada satu individu saja, melainkan menyebar ke beberapa jurnalis yang berada di titik yang sama. Kondisi kacau di lapangan membuat siapa pun yang berada di jalur dorongan massa berisiko menjadi korban, termasuk mereka yang hanya menjalankan fungsi dokumentasi.

D dari Sintesa Fisipol: Kamera Dirampas, Foto Diminta Dihapus

Anggota LPPM Sintesa Fisipol UGM berinisial D mengalami bentuk kekerasan yang sedikit berbeda. Saat itu, D sedang memotret jalannya aksi unjuk rasa sebagai bagian dari tugas dokumentasi foto. Ironisnya, justru momen ketika ia merekam tindakan kekerasan yang dilakukan massa ormas itulah yang memicu serangan terhadap dirinya.

"Kekerasan terjadi saat D memotret tindakan kekerasan yang dilakukan massa ormas," ucap D diwakili oleh rekannya.

D dipukul oleh tiga hingga empat orang yang disebut sebagai anggota ormas preman hingga terjatuh ke tanah. Tidak hanya itu, kamera yang dipegang D terlepas dari genggamannya dan ditarik paksa oleh orang-orang tak dikenal tersebut. Lebih lanjut, D juga diminta untuk menghapus foto-foto yang sudah diambil. Untungnya, seorang warga yang tidak dikenal—diduga berasal dari massa aksi—membantu D menyelamatkan diri dari amukan kerumunan.

"D juga diminta untuk menghapus foto. Untungnya, D berhasil ditolong oleh orang yang tidak dikenal mungkin dari massa aksi dan berhasil menyelamatkan diri dari amukan massa," ungkapnya.

Implikasi: Kebebasan Pers di Lapangan dan Perlindungan Jurnalis Kampus

Insiden di Simpang Gramedia ini menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap pekerja pers di Indonesia, khususnya mereka yang menjalankan tugas di tengah aksi-aksi sosial. Para jurnalis pers mahasiswa, meskipun belum berstatus sebagai wartawan profesional penuh, tetap menjalankan fungsi publik yang sama: mendokumentasikan peristiwa agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat. Ketika fungsi itu justru menjadi alasan untuk dipukul, dirampas alat kerjanya, dan dipaksa menghapus rekaman, maka yang terancam bukan hanya keselamatan fisik individu, melainkan juga hak publik atas informasi.

Kondisi di Simpang Gramedia pada malam 1 September 2026 memperlihatkan bagaimana batas antara massa demonstran, aparat, dan ormas dapat menjadi sangat tipis ketika emosi memuncak. Dalam situasi demikian, siapa pun yang berada di antara kedua belah pihak—termasuk mereka yang hanya memegang kamera atau ponsel untuk merekam—berisiko tinggi menjadi sasaran. Kasus enam jurnalis UGM-UNY ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap pekerja pers, termasuk pers mahasiswa, harus menjadi prioritas dalam setiap penanganan aksi di ruang publik.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kampus dan organisasi pers mahasiswa belum menyampaikan pernyataan resmi mengenai langkah hukum atau tuntutan yang akan ditempuh atas insiden tersebut. Para korban sendiri masih dalam proses pemulihan, sementara pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kekerasan itu dan bagaimana mekanisme perlindungan jurnalis di lapangan dapat diperkuat, masih menunggu jawaban dari pihak-pihak terkait.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is 6 Jurnalis Pers Mahasiswa UGM UNY Diduga?

6 Jurnalis Pers Mahasiswa UGM UNY Diduga is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 6 Jurnalis Pers Mahasiswa UGM UNY Diduga matter?

6 Jurnalis Pers Mahasiswa UGM UNY Diduga matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.