Kualitas Udara di Banjarbaru Kategori Berbahaya Akibat Karhutla, Pakar UI Usulkan Moratorium Pembukaan Lahan
Asap Karhutla Dorong Kualitas Udara Banjarbaru ke Level Berbahaya
Beritanara.com – Pada Jumat pagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa udara di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, telah menyentuh kategori berbahaya. Pemicunya adalah lonjakan konsentrasi partikulat PM2.5 yang dipicu kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan sekitar.
Lonjakan Tajam PM2.5 di Pagi Hari
Klaus Johannes Apoh Damanik, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kalsel, menjelaskan bahwa pada rentang pukul 00.00–02.00 Wita, tingkat PM2.5 masih berada di kisaran sedang. Namun situasi berubah drastis beberapa jam kemudian.
"Namun, konsentrasi PM2.5 mengalami peningkatan mulai pukul 03.00 hingga 09.00 Wita dengan kenaikan yang cukup tajam dibandingkan kondisi pada beberapa jam sebelumnya," kata Klaus Johannes Apoh.
Kenaikan partikulat tersebut, menurutnya, berkaitan erat dengan aktivitas pembakaran lahan yang berlangsung sepanjang musim kemarau di Kalimantan Selatan.
Usulan Moratorium dan Sanksi Ekonomi dari Pakar UI
Hendricus Andy Simarmata, peneliti Universitas Indonesia yang juga kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mendesak agar instansi pemerintah segera mengumumkan moratorium perizinan bagi perusahaan maupun pemegang konsesi yang lahannya terbakar. Ia menekankan bahwa di lapangan, perusahaan kerap melibatkan pihak ketiga, termasuk masyarakat setempat.
"Hanya faktanya di lapangan perusahaan melibatkan pihak ketiga, termasuk masyarakat," ujar Hendricus Andy yang salah satu penelitiannya mengungkap pencemaran udara akibat beroperasinya stockpile batu bara di Kalimantan Selatan.
Di luar moratorium, Andy juga mengajukan mekanisme saksi ekonomi bagi pelaku pembakaran yang terbukti bersalah. Bentuk sanksinya mencakup pencabutan akses kredit perbankan serta larangan menjual hasil produksi selama masa hukuman berlangsung.
"Lebih punya efek jera," ujar Andy.
Pencegahan yang Seharusnya Dilakukan Sejak Awal
Andy menilai bahwa puncak musim kemarau pada Agustus–September, yang memperluas karhutla ke sejumlah provinsi, sesungguhnya dapat dicegah lebih dini oleh Kementerian Kehutanan dan pemerintah daerah. BMKG, menurutnya, telah memberikan peringatan dini terkait puncak El Niño sejak awal tahun.
"Sejak awal tahun BMKG sudah peringatkan El Nino puncaknya di Agustus-September," ujar Hendricus.
Kearifan Lokal: Membaca Ritme Air untuk Menjaga Gambut
Di samping pengetatan pengawasan dan penegakan sanksi, Andy menyoroti pentingnya mempelajari kearifan lokal warga dalam menjaga lingkungan. Di Kalimantan Selatan, masyarakat sejak lama memiliki keahlian membaca ritme air sungai—kapan pasang, kapan surut, serta kaitannya dengan kesehatan rawa dan gambut.
Prinsip yang dipahami warga sederhana namun efektif: gambut yang sehat adalah gambut yang tidak terlalu kering maupun terlalu basah. Ketika air sungai pasang, warga mengalirkan air ke lahan gambut; saat surut, kelebihan air dikeluarkan dari lahan. Sistem pengairan tradisional yang mereka kenal disebut anjir, handil, dan saka.
"Terbukti warga bisa hidup bergenerasi generasi sebelumnya dengan damai di atas lahan gambut," tambah Hendricus.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kualitas Udara di Banjarbaru Kategori Berbahaya?Kualitas Udara di Banjarbaru Kategori Berbahaya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kualitas Udara di Banjarbaru Kategori Berbahaya matter?Kualitas Udara di Banjarbaru Kategori Berbahaya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.