Gubernur Lemhannas RI: Kesadaran Geopolitik, Bukan Sekadar Milik Diplomat Saja
Generasi Muda Didorong Memahami Geopolitik sebagai Bekal Menjaga Kepentingan Indonesia
Beritanara.com – Mahasiswa memiliki peran penting untuk membaca perubahan dunia yang kian cepat dan dampaknya yang semakin terasa di dalam negeri. Pesan tersebut mengemuka dalam kuliah umum yang disampaikan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., di Institut Teknologi Bandung pada Rabu, 7 Oktober.
Forum bertema “Membangun Kesadaran Geopolitik Generasi Muda: Memahami Dunia, Menentukan Posisi, Memberi Kontribusi” itu menempatkan geopolitik sebagai pengetahuan yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Pemahaman atas isu internasional tidak seharusnya terbatas pada kalangan diplomat, pejabat, atau pemimpin negara. Warga negara, terutama kelompok muda, juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami arah perubahan global.
Kesadaran geopolitik perlu menjadi kemampuan setiap warga negara, khususnya generasi muda, untuk melihat dinamika dunia secara kritis dan strategis.
Peristiwa Jauh Bisa Membawa Dampak Dekat
Dalam pemaparannya, Ace Hasan Syadzily menjelaskan bahwa kesadaran geopolitik berkaitan dengan kecakapan membaca kekuatan, kepentingan, dan perubahan yang berlangsung di tingkat global. Kecakapan itu mencakup kemampuan memahami peristiwa, menilai dampaknya, lalu menentukan respons yang tepat bagi kepentingan bangsa.
Dunia yang saling terhubung membuat sebuah konflik atau gangguan di lokasi tertentu dapat memengaruhi banyak negara. Kondisi tersebut terlihat dari gangguan di Selat Hormuz akibat konflik Iran-Israel. Situasi itu disebut telah meningkatkan biaya logistik hingga 150–200 persen. Bagi negara yang terhubung dengan perdagangan dan pergerakan barang internasional, lonjakan biaya logistik dapat memberi tekanan pada rantai pasok serta aktivitas ekonomi.
Contoh lain datang dari dalam negeri. Longsor yang terjadi di tambang Grasberg, Papua, pada 2025, mengurangi suplai tembaga dunia. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa Indonesia tidak hanya menerima pengaruh dari gejolak global. Kondisi yang terjadi di Indonesia juga dapat memengaruhi pasar dan kebutuhan industri di berbagai negara.
Dua ilustrasi tersebut memperkuat pentingnya cara pandang geopolitik. Konflik, gangguan jalur pelayaran, perubahan pasokan komoditas, perkembangan teknologi, hingga arus informasi digital dapat berkaitan satu sama lain. Mahasiswa dan generasi muda perlu memahami hubungan tersebut agar tidak memandang suatu persoalan sebagai kejadian yang berdiri sendiri.
Berpikir Kritis di Tengah Arus Informasi
Salah satu bentuk praktis kesadaran geopolitik adalah sikap hati-hati dan kritis saat menerima informasi. Di tengah arus berita yang bergerak sangat cepat, membaca judul atau membagikan unggahan belum cukup untuk memahami sebuah isu secara utuh. Pembaca perlu mempertimbangkan pihak yang membuat informasi, kepentingan yang mungkin menyertainya, serta dampak narasi tersebut bagi masyarakat.
Ace mengajak mahasiswa memakai lima pertanyaan sederhana saat menghadapi sebuah informasi: apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, siapa yang memiliki kepentingan, apa pengaruhnya bagi bangsa, serta langkah apa yang dapat dilakukan. Pola pikir ini dapat membantu generasi muda memeriksa isu secara lebih menyeluruh sebelum membentuk sikap.
Pendekatan tersebut juga penting untuk menghadapi propaganda dan informasi yang menyesatkan. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi, melainkan juga kemampuan menilai isi informasi secara bertanggung jawab. Dengan kebiasaan memeriksa konteks dan kepentingan di balik suatu pesan, generasi muda dapat mengambil posisi sebagai pelaku yang sadar, bukan hanya sasaran dari arus narasi.
Lima Bekal Menuju Indonesia 2045
Untuk membangun kesiapan generasi muda menuju 2045, Ace menyampaikan lima kemampuan utama yang perlu dikembangkan. Pertama adalah kesadaran strategis, yakni kemampuan melihat persoalan dengan mempertimbangkan tujuan jangka panjang. Kedua, kemampuan berpikir kritis agar setiap isu dapat dianalisis secara cermat dan tidak diterima begitu saja.
Bekal ketiga adalah kesadaran terhadap kepentingan nasional. Pemahaman terhadap isu dunia perlu tetap berpijak pada kebutuhan Indonesia, termasuk ketahanan nasional dan posisi strategis bangsa. Keempat, generasi muda perlu mempunyai kompetensi global agar mampu berinteraksi, bersaing, dan bekerja sama dalam lingkungan internasional yang terus berubah.
Kemampuan kelima ialah literasi digital. Dalam era ketika informasi beredar tanpa henti, kecakapan digital menjadi bagian dari daya tahan masyarakat. Penguasaan teknologi perlu berjalan seiring dengan etika, ketelitian, serta kemampuan membedakan informasi yang dapat dipercaya dari narasi yang dirancang untuk memengaruhi opini tanpa dasar yang kuat.
Geopolitik sebagai Bagian dari Ketahanan Nasional
Kesadaran geopolitik tidak berhenti pada penambahan wawasan. Pemahaman tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan nasional, karena masyarakat yang memahami konteks perubahan dunia akan lebih siap menghadapi risiko dan menangkap peluang.
Pembangunan kesadaran ini memerlukan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, organisasi kepemudaan, masyarakat, serta ekosistem teknologi memiliki ruang untuk mengambil peran. Kampus dapat menjadi tempat lahirnya pemikiran yang kritis dan inovatif, sementara generasi muda dapat menerjemahkan pemahaman tersebut ke dalam karya, riset, kepemimpinan, dan partisipasi publik.
ITB diharapkan mampu terus melahirkan generasi yang produktif, inovatif, adaptif, dan kompetitif. Dalam pandangan Ace, kualitas tersebut penting agar Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu menentukan posisi dan memberi kontribusi nyata di tengah perubahan geopolitik dunia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Gubernur Lemhannas RI?Gubernur Lemhannas RI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Gubernur Lemhannas RI matter?Gubernur Lemhannas RI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.