BeritaNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

354 Hektare Karhutla Kalbar Berhasil Dipadamkan, Tapi Kualitas Udara Masih Berbahaya

Published September 4, 2026 · Updated September 4, 2026 · By Elizabeth Jones - beritanara.com

Foto : Elizabeth Jones - beritanara.com

Api Padam, Asap Belum: Tantangan Tersembunyi di Balik Pemadaman Karhutla Kalimantan Barat

Beritanara.com – Api yang membakar ratusan hektare lahan di Kalimantan Barat akhirnya berhasil dipadamkan pada sebagian besar titik. Namun, bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak, kepulan asap tebal masih menyelimuti langit dan membuat setiap tarikan napas terasa berat. Pemadaman fisik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) baru menyelesaikan separuh dari persoalan; separuh lainnya—kualitas udara yang membahayakan kesehatan—masih menjadi ancaman nyata yang belum terselesaikan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa dari total 538,36 hektare lahan yang terbakar di wilayah Kalbar, sebanyak 354,60 hektare telah berhasil dipadamkan. Angka tersebut berarti lebih dari separuh area kebakaran kini sudah terkendali. Informasi ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam pembaruan penanganan Karhutla pada Kamis, 3 September 2026.

"Tim kita berhasil memadamkan sekitar 354 hektare lebih," ujar Berton.

Angka di Balik Pemadaman: Darat dan Udara Bekerja Serentak

Skala operasi pemadaman yang dilakukan BNPB di Kalimantan Barat tergolong masif. Total 14.563 personel satgas darat diterjunkan ke lapangan untuk menangani titik-titik kebakaran secara langsung. Dari kekuatan personel tersebut, satgas darat tercatat berhasil memadamkan 352,60 hektare lahan—sebagian besar dari total area yang berhasil dikendalikan.

"Satgas darat yang kita kerahkan, sebesar 14.563 orang. Untuk satgas darat ini telah berhasil memadamkan 352,60 hektare," ungkap Berton.

Sementara itu, dimensi udara turut memainkan peran penting. Dua armada pesawat dikerahkan untuk menjalankan dua fungsi sekaligus: patroli pemantauan titik panas dan titik api yang masih aktif, serta operasi water bombing atau pemboman air dari udara. Melalui pendekatan udara ini, sekitar 2 hektare lahan tambahan berhasil dipadamkan. Meskipun angka tersebut tampak kecil dibandingkan capaian darat, operasi udara menjadi krusial untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat dan mempercepat proses pendinginan area yang masih berasap.

"Untuk satgas udara kita melakukan beberapa metode, yang pertama melakukan patroli, melihat dimana-mana saja titik panas maupun titik-titik api, dua armada dikerahkan untuk melakukan pemantauan ini," sambung Berton.

Udara yang Masih Berbahaya: Mengapa Api Padam Bukan Berarti Aman

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian publik. Ketika api padam, narasi yang beredar cenderung berhenti pada kata "berhasil". Padahal, sisa pembakaran—partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan senyawa organik volatil—masih melayang di atmosfer dan mengendap di saluran pernapasan warga. BNPB secara eksplisit menyatakan bahwa kualitas udara di wilayah terdampak masih berada dalam kategori berbahaya.

Kondisi ini diperparah oleh jarak pandang yang dilaporkan berada di bawah satu kilometer. Visibilitas sedemikian rendah bukan sekadar gangguan bagi pengemudi atau penerbangan; ia menandakan konsentrasi partikel di udara telah mencapai tingkat yang dapat memicu eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronis, asma, dan gangguan kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, musim kebakaran lahan bukan fenomena baru. Setiap tahun, periode kemarau yang berkepanjangan memicu siklus pembakaran lahan untuk persiapan perkebunan dan pembukaan area baru. Asap yang dihasilkan kerap melampaui batas provinsi, bahkan lintas negara ke Singapura dan Malaysia, memicu ketegangan diplomatik dan kerugian ekonomi di sektor pariwisata serta penerbangan. Dalam konteks itulah, upaya pemadaman yang dilakukan BNPB bukan hanya soal menyelamatkan ekosistem lokal, melainkan juga soal menjaga kesehatan jutaan warga dan stabilitas kawasan.

Langkah Selanjutnya: Dari Pemadaman ke Pemulihan

BNPB menegaskan bahwa penanganan Karhutla masih terus berjalan meskipun mayoritas titik api telah padam. Patroli udara akan dilanjutkan untuk memastikan tidak ada titik panas yang kembali menyala akibat suhu tinggi dan kelembapan rendah. Water bombing juga akan diulang pada area yang masih mengeluarkan asap tebal.

Di tingkat kebijakan, peristiwa ini kembali mengingatkan perlunya penguatan regulasi pencegahan kebakaran lahan, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta investasi pada sistem peringatan dini berbasis satelit dan sensor darat. Tanpa memutus rantai penyebab, setiap musim kemarau akan mengulang siklus yang sama: api menyala, asap membubung, dan masyarakat membayar harga kesehatan mereka.

Sampai kualitas udara kembali masuk kategori aman dan jarak pandang pulih ke level normal, warga di kawasan terdampak diimbau tetap memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan memantau pembaruan informasi dari kanal resmi BNPB. Api boleh padam, tetapi pemulihan udara adalah proses yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan kewaspadaan berkelanjutan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is 354 Hektare Karhutla Kalbar Berhasil Dipadamkan?

354 Hektare Karhutla Kalbar Berhasil Dipadamkan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 354 Hektare Karhutla Kalbar Berhasil Dipadamkan matter?

354 Hektare Karhutla Kalbar Berhasil Dipadamkan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.