Gus Yahya Tak Persoalkan Pemilihan Ketum PBNU Melalui AHWA, Tapi Mekanisme Muktamar ke-Tetap Mengacu AD/ART
Gus Yahya: Pemilihan Ketum PBNU via AHWA Tak Jadi Masalah
Beritanara.com – Jombang — Isu pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Islam. Gus Yahya Tak Persoalkan Pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA, namun ia menegaskan bahwa mekanisme Muktamar ke-35 tetap mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang berlaku saat ini.
Sebagai Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf memberikan respons positif terhadap wacana perubahan sistem pemilihan tersebut. Dalam pandangannya, setiap ide yang datang dari dalam tubuh organisasi harus didengarkan dengan baik, selama tujuannya jelas untuk kemajuan jamiyah Nahdlatul Ulama secara keseluruhan.
Wacana AHWA dalam Konteks Kepemimpinan NU
Mekanisme AHWA merupakan salah satu alternatif yang diusulkan untuk menggantikan sistem pemungutan suara konvensional dalam menentukan pemimpin tertinggi NU. Sistem ini mengandalkan musyawarah para ulama dan tokoh yang telah mendapat mandat khusus dari organisasi untuk memilih calon yang dianggap paling layak memimpin.
Gus Yahya Tak Persoalkan Pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA karena menurutnya, sistem apapun yang dipilih selama menghasilkan pemimpin yang mampu membawa NU ke arah yang lebih baik, maka itu sudah menjadi tujuan utama. Namun, ia juga mengingatkan agar perubahan tidak dilakukan secara terburu-buru tanpa kajian mendalam.
«Kita bisa mendiskusikan apa saja asal niatnya adalah untuk kemaslahatan jamiyah,» ujar Gus Yahya dalam acara bedah buku di Auditorium Universitas KH Wahab Hasbullah, Tambakberas, Sabtu malam, 15 Agustus.
Ketegasan Mengacu AD/ART pada Muktamar 2026
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Gus Yahya menegaskan bahwa seluruh proses musyawarah dan pengambilan keputusan harus merujuk pada konstitusi yang sedang berlaku saat ini.
Menurutnya, wacana perubahan mekanisme pemilihan tidak serta-merta mengubah tata cara pemilihan Ketua Umum pada Muktamar ke-35. Jika forum Muktamar nantinya menyepakati perubahan AD/ART, perubahan tersebut baru akan menjadi dasar penyelenggaraan Muktamar berikutnya, yaitu Muktamar ke-36.
«Yang terpenting bukan untuk kepentingan-kepentingan jangka pendek, bukan untuk kepentingan pragmatis, tapi sungguh-sungguh untuk kemaslahatan jamiyah Nahdlatul Ulama,» tambahnya dengan tegas.
Implikasi bagi Masa Depan Kepemimpinan NU
Pernyataan Gus Yahya memberikan kejelasan bagi para aktivis dan kader NU yang selama ini mempertanyakan arah perubahan sistem kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa NU adalah organisasi besar dengan sejarah panjang, sehingga setiap perubahan harus dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Bagi para pengamat, sikap terbuka Gus Yahya terhadap wacana AHWA menunjukkan bahwa ia siap menerima masukan dari berbagai pihak. Namun, ia juga tidak ingin NU terjebak dalam pertarungan kepentingan politik praktis yang dapat melemahkan posisi organisasi di tengah masyarakat.
«Kalau nanti di dalam muktamar ini ada keputusan untuk membuat perubahan-perubahan di dalam AD/ART, maka itu akan berlaku untuk Muktamar berikutnya, maksud saya yang ke-36,» jelas Gus Yahya.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pernyataan Gus Yahya
Apa itu mekanisme AHWA dalam pemilihan Ketum PBNU? AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) adalah mekanisme pemilihan pemimpin melalui musyawarah para ulama dan tokoh yang mendapat mandat khusus dari organisasi, bukan melalui pemungutan suara konvensional.
Kapan Muktamar ke-35 NU akan digelar? Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Apakah Gus Yahya mendukung sepenuhnya perubahan ke AHWA? Gus Yahya Tak Persoalkan Pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA, namun ia menekankan bahwa perubahan harus mengacu pada AD/ART yang berlaku dan tidak untuk kepentingan jangka pendek.
Bagaimana jika AD/ART diubah pada Muktamar ke-35? Jika perubahan AD/ART disepakati pada Muktamar ke-35, maka perubahan tersebut baru akan berlaku untuk Muktamar berikutnya, yaitu Muktamar ke-36.
Di mana Gus Yahya menyampaikan pernyataannya? Pernyataan tersebut dilontarkan Gus Yahya setelah menghadiri acara bedah buku mengenai pemikiran dan biografi KH Abdul Wahab Chasbullah di Auditorium Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, pada Sabtu malam tanggal 15 Agustus.